Kota Bukittinggi
Nasib Pedagang Aksesoris di Jam Gadang, Penghasilan Terancam Saat Razia dan Hujan Datang
Pedagang saat ini harus main kucing-kucingan dengan tim SK4. Jika jadwal razia dilakukan di Jam Gadang, artinya hari itu tak dapat penghasilan
Penulis: Alif Ilham Fajriadi | Editor: Rahmadi
Biasanya, jika mengambil bahan dari Jogja, Yal bergabung bersama pedagang aksesoris yang lain supaya tak kena banyak biaya ongkos kirim.
“Jika membeli bahan ke Jogja, kami biasanya belanja Rp 1 jutaan, sekali beli itu menyumbang sekitar 4 orang. Jadi, Rp 200 ribuan satu orang,” terang Yal.
Dari modal Rp200 ribuan itu, Yal menyebut bisa berjualan hingga 4 bulan lamanya. Sebab, jika sedang rajin, bahan yang dibelinya itu bisa dibuatkan aksesoris sebanyak 800 buah.
Kendati bisa membuat banyak aksesoris, Yal mengatakan bahwa tren di pasaran selalu berubah-ubah, karena itu juga dirinya takut untuk membuat banyak.
“Kadang ada kalanya gelang tali ini sedang tren di pasaran, kadang pernah juga tidak dilirik pengunjung, jadi musim-musiman,” ujar Yal.
Baca juga: Mengunjungi Penjual Gelang dari Buah Jenitri di Bukittinggi, Diklaim Bisa Obati Diare dan Nyeri
Namun, beda halnya jika libur semester tiba. Yal menjelaskan, pada kondisi seperti itu, pengunjung tak pernah berpatokan kepada tren yang ada.
Sebab, kata Yal, libur semester itu adalah momen jalan-jalan bagi para pelajar. Mereka tentunya belanja aksesoris untuk jadi kenang-kenangan.
Karena itu, masa-masa seperti itu sangat dinanti para pedagang aksesoris seperti Yal.
“Pernah waktu libur semester itu, di 2017, saya sampai begadang untuk membuat aksesoris dan menulis nama di gelang kayu,” ungkap Yal.
Yal bercerita, saat ini pemasukannya sebagai pedang aksesoris di Bukittinggi sudah mulai menurun.
Baca juga: Pedagang Boleh Berjualan di Kawasan Jam Gadang Bukittinggi, Wako: Di Tepi-tepi, Radius 200 Meter
Apalagi, sehabis pandemi, kata Yal, masyarakat masih dalam kondisi penstabilan ekonomi.
Bahkan Yal menyebut, saat ini masyarakat lebih memilih untuk melengkapi kebutuhan pokok mereka terlebih dahulu, sebelum belanja aksesoris.
“Kita juga sama-sama tau, aksesoris ini kan bahan hiasan, gaya hidup lah istilahnya, jadi jika tidak dalam masa liburan, bertabah hati saja jalannya,” pungkas Yal. (TribunPadang.com/Alif Ilham Fajriadi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/pedagang-sovenir.jpg)