Kota Bukittinggi
Nasib Pedagang Aksesoris di Jam Gadang, Penghasilan Terancam Saat Razia dan Hujan Datang
Pedagang saat ini harus main kucing-kucingan dengan tim SK4. Jika jadwal razia dilakukan di Jam Gadang, artinya hari itu tak dapat penghasilan
Penulis: Alif Ilham Fajriadi | Editor: Rahmadi
TRIBUNPADANG.COM, BUKITTINGGI - “Bagi kami, hujan dan tim SK4 adalah sebuah tantangan serta ancaman untuk mencari nafkah,” kata Yal, satu di antara penjual aksesoris di kawasan Jam Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar).
Begitulah obrolan pembuka yang dilontarkan Yal kepada TribunPadang.com, Senin (31/10/2022).
Yal sudah berjualan aksesoris di Jam Gadang sejak 2010 lalu. Pria kelahiran 1993 itu, asli dari Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, dan besar di Bukittinggi.
“Sejak 2010 sudah mulai berjualan gelang, cincin dan kalung ini. Soalnya orang tua berjualan nasi di Pasar Bawah, jadi sejak kecil saya sudah di Bukittinggi,” kata Yal.
Tim SK4 yang dimaksud Yal itu, adalah tim Satuan Kerja Keamanan dan Ketertiban Kota Bukittinggi. Mereka, rutin razia setiap hari, ke semua wilayah di kota tersebut.
Baca juga: 10 Rekomendasi Tempat Wisata Sumatera Barat di Bukittinggi, Ada Jam Gadang, Benteng Fort de Kock
“Kalau tidak salah, sejak 2016 lalu penertiban bagi kami pedagang kecil ini dilakukan, dulu itu bebas saja berjualan, sekarang sudah tidak,” ungkap Yal.
Yal menyebut, saat ini harus main kucing-kucingan dengan tim SK4. Jika jadwal razia dilakukan di Jam Gadang, artinya hari itu dirinya tak dapat penghasilan.
“Kami ini seperti sampah masyarakat, ramai tapi tidak mempunyai organisasi yang jelas, tidak tertata dan dibiarkan memadati sekitar objek kawasan wisata,” jelas Yal sembari menertawakan nasib.
Kendati demikian, Yal menuturkan sudah mulai mencintai pekerjaannya itu. Sebab, kata dia, rezeki tidak akan tertukar.
“Kita yakin saja, dan memang ternyata kalau dibilang bisa hidup atau tidaknya dari berjualan aksesoris, buktinya sejak 2010 lalu saya masih bertahan juga kan,” ujar Yal.
Baca juga: Di Tengah Gempuran Kamera Smartphone, Tekad Tukang Foto di Jam Gadang Bukittinggi Tak Pernah Surut
Yal bercerita, dirinya memulai aktivitas dari pukul 10.00 WIB, menyusun dagangannya dan sesekali menjaja kepada pengunjung di Jam Gadang.
Namun, tak boleh masuk ke kawasan Jam Gadang, sebab kata Yal, pedagang kaki lima di larang berjualan di sekitar objek wisata itu.
Karena itu, Yal beserta puluhan pedagang aksesoris lainnya, memadati sekitar trotoar Pasar Atas dan sebagian Jalan Minangkabau, Bukittinggi.
“Pulangnya nanti kalau sudah capek saja. Terkadang habis magrib, terkadang juga kalau ramai bisa hingga larut malam juga,” jelas Yal.
Yal mendapatkan aksesoris dari gudang yang ada di Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, terkadang juga memesan bahan dari Jogja.
Baca juga: POPULER SUMBAR: Suara Harimau Teror Warga Koto Tuo Agam, Kisah Tukang Foto di Jam Gadang Bukittinggi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/pedagang-sovenir.jpg)