Dampak Rupiah Melemah

Rupiah Menguat ke Rp17.700, Ekonom Unand: Tekanan Mereda, Namun Belum Hilang

"Rupiah saat ini menguat, tetapi belum berada pada posisi aman. Level Rp17.740 menunjukkan tekanan mereda, bukan hilang," tegasnya.

Tayang:
Penulis: Muhammad Iqbal | Editor: Rezi Azwar
Dokumentasi/Syafruddin Karim
NILAI TUKAR RUPIAH- Pakar Ekonomi dari Universitas Andalas (Unand), Prof. Syafruddin Karimi. Ia sebut meski nilai tukar rupiah menguat, namun tekanannya belum hilang, Rabu (17/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.700 per dolar Amerika Serikat setelah sebelumnya menembus level Rp18.000.
  • Syafruddin menilai penguatan rupiah saat ini lebih tepat dibaca sebagai campuran antara sentimen pasar dan dukungan fundamental yang masih terbatas.
  • Meski nilai tukar rupiah menguat, namun tekanannya belum hilang.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan dan kini mulai menyentuh di kisaran Rp17.700 per dolar Amerika Serikat setelah sebelumnya sempat menembus level Rp18.000.

Ekonom Universitas Andalas (Unand), Syafruddin Karimi, global saat dikonfirmasi TribunPadang.com menilai penguatan rupiah dalam beberapa waktu terakhir merupakan hasil kombinasi sejumlah faktor yang bergerak bersamaan di pasar keuangan global.

Menurut dia, perbaikan sentimen global, turunnya premi risiko energi, sikap Bank Indonesia (BI) yang tetap ketat, serta meredanya risiko sovereign turut menjadi faktor utama yang mendorong penguatan mata uang nasional.

"Data LSEG menunjukkan USD/IDR berada di kisaran Rp17.740 hingga Rp17.755, lebih baik dari puncak 52 minggu di level Rp18.190. Pada saat yang sama, CDS lima tahun turun ke 87,557, yield SBN 10 tahun turun ke 6,859 persen, dan Brent berada di sekitar 79,08 dolar AS per barel," kata Syafruddin memberikan keterangan, Rabu (17/6/2026).

Baca juga: Respons Aksi BEM Sumbar, Muhidi: Tuntutan Mahasiswa Akan Kami Teruskan ke DPR RI

Ia menuturkan, kombinasi indikator tersebut memberi ruang bagi rupiah untuk menguat karena pasar melihat tekanan dari harga minyak, risiko geopolitik, dan risiko obligasi mulai mereda.

Kata dia, penguatan rupiah bukan datang dari satu faktor tunggal, melainkan dari perbaikan persepsi risiko yang bergerak bersamaan di pasar valas, obligasi, dan energi," ujarnya.

Kendati demikian, Syafruddin menilai penguatan rupiah saat ini lebih tepat dibaca sebagai campuran antara sentimen pasar dan dukungan fundamental yang masih terbatas.

Ia juga menyebut, sentimen pasar memang membaik setelah harga minyak turun, CDS menurun, dan investor kembali masuk ke aset emerging markets. Namun, sejumlah indikator domestik menunjukkan fondasi ekonomi eksternal Indonesia belum sepenuhnya kuat.

Baca juga: Sebagian Pedagang GOR Agus Salim Padang Pindah ke Kolam Teratai, PKL Pinggir Jalan Belum Dapat

"Cadangan devisa masih turun ke 144,9 miliar dolar AS, surplus dagang Mei hanya sekitar 0,09 miliar dolar AS, penjualan ritel April masih negatif 3,7 persen, dan posisi rupiah masih dekat sisi lemah rentang 52 minggu," jelasnya Syafruddin.

Untuk pasar saat ini sedang memberi ruang pemulihan, tetapi fondasi eksternal Indonesia masih rapuh karena impor barang dan jasa mencapai 20,545 persen terhadap PDB serta kebutuhan valuta asing yang tetap besar.

Syafruddin menyoroti pengaruh kebijakan suku bunga Amerika Serikat terhadap pergerakan rupiah. Menurutnya, arah kebijakan The Fed sangat menentukan kekuatan dolar, yield global, dan minat investor terhadap aset negara berkembang.

"Saat pasar memperkirakan The Fed tidak lagi agresif menaikkan bunga, tekanan dolar biasanya menurun dan arus modal berpeluang kembali ke emerging markets," sebutnya.

Baca juga: Wagub Sumbar Dukung Nobar Piala Dunia 2026, Sebut Bisa Jadi Sarana Hiburan dan Pererat Silaturahmi

Laporan Reuter juga mencatat perhatian investor saat ini tertuju pada keputusan The Fed dan rapat bank sentral kawasan, termasuk Bank Indonesia. Di sisi lain, analis juga memperkirakan BI tetap mempertahankan sikap ketat untuk mendukung stabilitas rupiah.

Dengan BI Rate 5,50 persen, Indonesia masih menawarkan imbal hasil tinggi, tetapi selisih imbal hasil itu hanya efektif jika risiko kurs dan risiko fiskal terkendali.

Karena itu, lanjutnya, suku bunga AS memengaruhi rupiah melalui tiga jalur utama, yakni kekuatan dolar, arus modal portofolio, dan premi risiko yang diminta investor.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
1 - 1
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
VS
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
VS
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
VS
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved