Dampak Rupiah Melemah
Rupiah Menguat ke Rp17.700, Ekonom Unand: Tekanan Mereda, Namun Belum Hilang
"Rupiah saat ini menguat, tetapi belum berada pada posisi aman. Level Rp17.740 menunjukkan tekanan mereda, bukan hilang," tegasnya.
Penulis: Muhammad Iqbal | Editor: Rezi Azwar
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah menyentuh Rp17.700 per dolar Amerika Serikat setelah sebelumnya menembus level Rp18.000.
- Syafruddin menilai penguatan rupiah saat ini lebih tepat dibaca sebagai campuran antara sentimen pasar dan dukungan fundamental yang masih terbatas.
- Meski nilai tukar rupiah menguat, namun tekanannya belum hilang.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan dan kini mulai menyentuh di kisaran Rp17.700 per dolar Amerika Serikat setelah sebelumnya sempat menembus level Rp18.000.
Ekonom Universitas Andalas (Unand), Syafruddin Karimi, global saat dikonfirmasi TribunPadang.com menilai penguatan rupiah dalam beberapa waktu terakhir merupakan hasil kombinasi sejumlah faktor yang bergerak bersamaan di pasar keuangan global.
Menurut dia, perbaikan sentimen global, turunnya premi risiko energi, sikap Bank Indonesia (BI) yang tetap ketat, serta meredanya risiko sovereign turut menjadi faktor utama yang mendorong penguatan mata uang nasional.
"Data LSEG menunjukkan USD/IDR berada di kisaran Rp17.740 hingga Rp17.755, lebih baik dari puncak 52 minggu di level Rp18.190. Pada saat yang sama, CDS lima tahun turun ke 87,557, yield SBN 10 tahun turun ke 6,859 persen, dan Brent berada di sekitar 79,08 dolar AS per barel," kata Syafruddin memberikan keterangan, Rabu (17/6/2026).
Baca juga: Respons Aksi BEM Sumbar, Muhidi: Tuntutan Mahasiswa Akan Kami Teruskan ke DPR RI
Ia menuturkan, kombinasi indikator tersebut memberi ruang bagi rupiah untuk menguat karena pasar melihat tekanan dari harga minyak, risiko geopolitik, dan risiko obligasi mulai mereda.
Kata dia, penguatan rupiah bukan datang dari satu faktor tunggal, melainkan dari perbaikan persepsi risiko yang bergerak bersamaan di pasar valas, obligasi, dan energi," ujarnya.
Kendati demikian, Syafruddin menilai penguatan rupiah saat ini lebih tepat dibaca sebagai campuran antara sentimen pasar dan dukungan fundamental yang masih terbatas.
Ia juga menyebut, sentimen pasar memang membaik setelah harga minyak turun, CDS menurun, dan investor kembali masuk ke aset emerging markets. Namun, sejumlah indikator domestik menunjukkan fondasi ekonomi eksternal Indonesia belum sepenuhnya kuat.
Baca juga: Sebagian Pedagang GOR Agus Salim Padang Pindah ke Kolam Teratai, PKL Pinggir Jalan Belum Dapat
"Cadangan devisa masih turun ke 144,9 miliar dolar AS, surplus dagang Mei hanya sekitar 0,09 miliar dolar AS, penjualan ritel April masih negatif 3,7 persen, dan posisi rupiah masih dekat sisi lemah rentang 52 minggu," jelasnya Syafruddin.
Untuk pasar saat ini sedang memberi ruang pemulihan, tetapi fondasi eksternal Indonesia masih rapuh karena impor barang dan jasa mencapai 20,545 persen terhadap PDB serta kebutuhan valuta asing yang tetap besar.
Syafruddin menyoroti pengaruh kebijakan suku bunga Amerika Serikat terhadap pergerakan rupiah. Menurutnya, arah kebijakan The Fed sangat menentukan kekuatan dolar, yield global, dan minat investor terhadap aset negara berkembang.
"Saat pasar memperkirakan The Fed tidak lagi agresif menaikkan bunga, tekanan dolar biasanya menurun dan arus modal berpeluang kembali ke emerging markets," sebutnya.
Baca juga: Wagub Sumbar Dukung Nobar Piala Dunia 2026, Sebut Bisa Jadi Sarana Hiburan dan Pererat Silaturahmi
Laporan Reuter juga mencatat perhatian investor saat ini tertuju pada keputusan The Fed dan rapat bank sentral kawasan, termasuk Bank Indonesia. Di sisi lain, analis juga memperkirakan BI tetap mempertahankan sikap ketat untuk mendukung stabilitas rupiah.
Dengan BI Rate 5,50 persen, Indonesia masih menawarkan imbal hasil tinggi, tetapi selisih imbal hasil itu hanya efektif jika risiko kurs dan risiko fiskal terkendali.
Karena itu, lanjutnya, suku bunga AS memengaruhi rupiah melalui tiga jalur utama, yakni kekuatan dolar, arus modal portofolio, dan premi risiko yang diminta investor.
Dampak Rupiah Melemah
Rupiah Melemah
Dolar AS
Prof Syafruddin Karimi
Syafruddin Karimi
Sumatera Barat
Nilai Tukar Rupiah
Universitas Andalas
Unand
| Harga Bahan Pokok Naik, Penjual Soto di Padang Ogah Naikkan Harga, tapi Pembeli Tetap Sepi |
|
|---|
| Bahan Baku Naik, Warung Makan Mahasiswa di Padang Terpaksa Naikkan Harga Rp1.000 per Porsi |
|
|---|
| BI-Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Pakar Unand Sebut Kepercayaan Pasar Penentu Rupiah Menguat |
|
|---|
| Disdag Padang Temukan Pedagang Jual MinyaKita di Atas HET Bakal Langsung Diberi Teguran |
|
|---|
| Antisipasi Harga Sembako Melonjak, Pemko Padang Siap Gelar Operasi Pasar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Pakar-Ekonomi-dari-Universitas-Andalas-Unand-Prof-Syafruddin-Karim-652026.jpg)