Populer Sumatera Barat
3 Berita Populer Sumbar: Pria Hanyut di Solsel, Gunung Marapi Erupsi, hingga Fenomena Udara Kabur
Simak Kembali deretan berita popular Sumatera Barat di TribunPadang.com sepanjang, Sabtu (29/5/2026).
Penulis: Fajar Alfaridho Herman | Editor: Fajar Alfaridho Herman
Ia menambahkan, mayoritas wilayah yang terpantau mengalami udara kabur berada di kawasan dataran tinggi.
Meski demikian, BMKG belum dapat memastikan secara spesifik penyebab utama fenomena tersebut di masing-masing daerah.
"Belum bisa dipastikan apakah karena kebakaran hutan atau faktor lainnya. Harus dicek dulu titik apinya seperti apa," ujarnya.
Terkait kemungkinan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BMKG memastikan hingga saat ini belum ditemukan titik panas atau hotspot di wilayah Sumbar.
Pemantauan tersebut dilakukan melalui data satelit yang digunakan BMKG.
"Untuk hotspot kami pastikan lagi, sejauh ini masih tidak ada. Masih nol," kata Siltia.
Meski tidak ditemukan hotspot di Sumbar, BMKG mencatat adanya sejumlah titik panas di Provinsi Riau yang berbatasan dengan beberapa wilayah di Sumbar.
Baca juga: Cerita Sopir Truk di Padang Pasrah Jika Solar Habis Sebelum Giliran, Pilih Matikan Mesin & Menunggu
"Di Riau ada terpantau titik api. Seperti di Kuantan Singingi yang dekat ke Dharmasraya dan Sijunjung, kemudian di bagian timur Riau seperti Rokan Hulu yang lebih dekat ke arah Pasaman," jelasnya.
Menurut Siltia, keberadaan titik panas di wilayah tetangga tersebut berpotensi memengaruhi kondisi atmosfer di sebagian wilayah Sumbar.
"Dari provinsi tetangga bisa jadi kemungkinan," katanya.
Sementara terkait keterangan cuaca kabut/asap yang muncul di Kabupaten Solok, Kota Solok, dan Kota Padang, Siltia menjelaskan kondisi tersebut umumnya memang identik dengan pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan lahan.
Namun karena tidak ditemukan hotspot di Sumbar, faktor lain juga masih memungkinkan menjadi penyebab munculnya kondisi tersebut.
"Kalau kabut asap biasanya berkaitan dengan karhutla dan merupakan pencemaran udara berat akibat kebakaran hutan atau lahan. Tapi sejauh ini masih belum terpantau adanya titik api di wilayah Sumbar," ujarnya.
Selain kemungkinan kiriman asap dari daerah lain, kondisi cuaca yang cenderung cerah hingga cerah berawan juga dapat memengaruhi terbentuknya fenomena tersebut.
"Bisa jadi kiriman dari provinsi tetangga. Bisa juga karena pengaruh emisi dan kondisi cuaca saat ini," katanya.
BMKG menilai fenomena udara kabur umumnya tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat.
Namun kondisi tersebut tetap dapat menyebabkan penurunan jarak pandang, terutama apabila konsentrasi partikel di udara cukup tinggi.
"Kalau untuk udara kabur biasanya hanya menurunkan jarak pandang. Mungkin tidak terlalu berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat, tetapi bisa mengganggu pandangan tergantung ketebalannya," ujar Siltia.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan mengingat cuaca di Sumbar saat ini cenderung panas.
Masyarakat disarankan memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan, memakai masker bila diperlukan, serta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila kondisi udara memburuk.
Sementara itu, pantauan TribunPadang.com di kawasan Lubuk Begalung, Kota Padang, sekitar pukul 14.15 WIB menunjukkan kondisi cuaca cerah berawan.
Suhu udara terasa cukup panas dan menyengat kulit. Jarak pandang saat berkendara juga masih tergolong normal dan tidak ditemukan gangguan berarti.
Langit terlihat cukup jelas, berbeda dengan keterangan prakiraan cuaca yang menampilkan status kabut/asap di Kota Padang.
Syahrul, seorang warga Kota Padang, mengaku tidak merasakan adanya gangguan pandangan saat melintas di kawasan Jalan Bypass.
"Tadi saya lewat Jalan Bypass aman-aman saja. Pandangan pun jelas, tidak ada kabur atau terhalangi. Cuaca pun cerah, awan banyak, tapi panasnya sangat menyengat," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/PANTAUAN-CUACA-PADANG-Sdadang-Sabtdk-Kota-Padang.jpg)