Populer Sumatera Barat

3 Berita Populer Sumbar: Pria Hanyut di Solsel, Gunung Marapi Erupsi, hingga Fenomena Udara Kabur

Simak Kembali deretan berita popular Sumatera Barat di TribunPadang.com sepanjang, Sabtu (29/5/2026). 

Tayang: | Diperbarui:
TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman
PANTAUAN CUACA PADANG – Suasana cuaca di kawasan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sabtu (30/5/2026). Langit tampak cerah berawan dengan suhu udara yang cukup panas dan menyengat, sementara jarak pandang masih terlihat jelas meski BMKG mencantumkan prakiraan kabut atau asap untuk Kota Padang. 

Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Agam agar senantiasa berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung atau dengan Pos Pengamatan Gunung Marapi di Jl. Prof. Hazairin No.168 Bukittinggi untuk mendapatkan informasi langsung tentang aktivitas Gunung Marapi.

Masyarakat dapat memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunung Marapi melalui website Badan Geologi https://geologi.esdm.go.id, website PVMBG https://vsi.esdm.go.id, website Magma Indonesia https://magma.esdm.go.id, aplikasi Magma Indonesia yang dapat diunduh di Google Playstore, atau melalui media sosial PVMBG (facebook, twitter, dan instagram @pvmbg_).

Kondisi Udara Kabur di Sejumlah Kabupaten dan Kota di Sumbar

Sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) terpantau mengalami fenomena cuaca yang tidak biasa pada Sabtu (30/5/2026).

Berdasarkan data prakiraan cuaca yang ditampilkan pada laman resmi bmkg.go.id, beberapa wilayah diprediksi mengalami kondisi udara kabur, sementara sejumlah daerah lainnya terpantau mengalami kabut atau asap.

Daerah yang diprakirakan mengalami udara kabur antara lain Kabupaten Tanah Datar, Pasaman, Dharmasraya, Solok Selatan, Pasaman Barat, serta Kota Padang Panjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh.

Baca juga: Detik-detik Bus AKAP Jakarta-Padang Terbakar di Sumsel, Penumpang Berhamburan Selamatkan Diri

Sementara itu, Kabupaten Solok, Kota Padang, dan Kota Solok terpantau dengan keterangan cuaca kabut atau asap. Adapun wilayah lainnya di Sumbar umumnya diprediksi mengalami cuaca cerah hingga berawan.

Fenomena tersebut menjadi perhatian masyarakat karena keterangan "udara kabur" dan "kabut atau asap" jarang muncul pada prakiraan cuaca harian di Sumbar.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau, Siltia Wahyuni, menjelaskan bahwa istilah udara kabur bukan berarti cuaca tidak dapat dipantau atau terjadi kabut tebal.

Menurutnya, kondisi tersebut lebih berkaitan dengan penurunan jarak pandang atau visibility akibat adanya partikel-partikel tertentu di atmosfer.

"Udara kabur itu mungkin lebih efek visibility cuaca saat itu. Visibility-nya yang kurang dari 10.000 meter. Jadi yang membuat udara itu kabur. Atau bisa jadi karena udara yang lembab, sehingga membuat langit terlihat kabur," kata Siltia saat diwawancarai TribunPadang.com.

Ia menjelaskan, fenomena udara kabur terjadi ketika jarak pandang berkurang akibat adanya partikel-partikel kering yang melayang di udara.

"Udara kabur ini fenomenanya di mana jarak pandang berkurang akibat adanya partikel kering seperti debu, asap atau polusi udara yang melayang di udara," ujarnya.

Siltia mengatakan penyebab udara kabur tidak selalu berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor seperti emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, hingga kualitas udara di suatu wilayah.

"Biasanya bisa bersumber dari emisi kendaraan, industri atau kebakaran. Jadi bisa dari kualitas udara juga," katanya.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved