Harga BBM Naik

Harga Sayur di Pasar Raya Padang Masih Tinggi, Daya Beli Masyarakat Turun Drastis

Harga sejumlah komoditas sayur mayur di Pasar Raya Padang masih berada di level tinggi meski beberapa jenis sayuran mulai menunjukkan penurunan

Tayang:
Penulis: Muhammad Afdal Afrianto | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto
PEDAGANG SAYUR - Pedagang sayur melayani pembeli di Pasar Raya Padang, Jumat (12/6/2026). Harga sejumlah komoditas sayur mayur seperti kol, tomat, daun sup, dan kangkung masih mengalami kenaikan sehingga berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat serta pelaku usaha kuliner. 
Ringkasan Berita:
  • Harga sayur di Pasar Raya Padang masih tinggi meski sebagian mulai turun.
  • Selada sempat Rp50 ribu per kg, kini turun setengahnya.
  • Daun sup justru melonjak dari Rp15 ribu jadi Rp50 ribu per kg.
  • Rumah makan dan pedagang bakso mulai mengurangi pembelian sayur.
  • Pedagang mengaku daya beli turun, kondisi pasar pun ikut berubah.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Harga sejumlah komoditas sayur mayur di Pasar Raya Padang masih berada di level tinggi meski beberapa jenis sayuran mulai menunjukkan penurunan harga dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut diakui para pedagang berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, terutama pelaku usaha kuliner yang menjadi pelanggan utama mereka.

Salah seorang pedagang sayur di Pasar Raya Padang, Sabarjak (53), mengatakan kenaikan harga sayuran sudah terjadi sejak bulan Ramadan lalu dan hingga kini sebagian komoditas masih bertahan di harga tinggi.

"Sayur memang naik. Sekarang sebagian sudah mulai turun, tetapi masih ada beberapa yang harganya tinggi," kata Sabarjak kepada TribunPadang.com, Jumat (12/6/2026).

Ia mencontohkan harga selada yang sebelumnya sempat menyentuh Rp 50 ribu per kilogram. 

Baca juga: Kebakaran di Kawasan Pasar Raya Padang Hanguskan 34 Bangunan, 38 Warga Mengungsi

Saat ini harga komoditas tersebut mulai turun menjadi sekitar Rp 25 ribu per kilogram.

"Kalau selada kemarin sampai Rp 50 ribu per kilo, sekarang sudah turun jadi Rp 25 ribu. Artinya sebelumnya naik hampir 50 persen," ujarnya.

Menurut Sabarjak, hampir seluruh jenis sayuran sempat mengalami kenaikan harga dengan persentase yang bervariasi. 

Bahkan, beberapa komoditas mengalami lonjakan hingga 50 persen.

Ia menduga kenaikan harga dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari cuaca buruk yang berdampak pada produksi hingga kondisi nilai tukar rupiah yang ikut memengaruhi biaya distribusi dan produksi.

Baca juga: Syarat Daftar Sekolah, Warga Urus Dokumen Kependudukan di Padang Melonjak 700 Orang per Hari

"Naiknya bisa karena cuaca yang kurang bagus. Selain itu mungkin juga dipengaruhi kondisi ekonomi dan nilai rupiah," katanya.

Meski harga selada mulai turun, sejumlah komoditas lain seperti kol dan tomat masih mengalami kenaikan harga.

Di sisi lain, harga daun sup juga melonjak cukup tajam. 

Jika sebelumnya hanya sekitar Rp 15 ribu per kilogram, kini mencapai Rp 50 ribu per kilogram.

Sementara itu, harga kangkung yang biasanya dijual Rp 5 ribu kini naik menjadi Rp 10 ribu.

"Jadi rata-rata harga sayur memang masih naik dibandingkan biasanya," ucapnya.

Baca juga: PLN UP3 Solok Gandeng PT KSI, Buka Peluang Tambah Beban Listrik 304,6 kVA di Solok Selatan

Kenaikan harga tersebut, kata Sabarjak, turut memengaruhi pola belanja konsumen. 

Banyak pelanggan yang berasal dari rumah makan, warung makan, hingga pedagang bakso mulai mengurangi pembelian sayur karena biaya operasional meningkat.

"Mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual makanan. Akhirnya penggunaan sayur dikurangi supaya biaya tetap bisa ditekan," jelasnya.

Akibatnya, volume pembelian sayur di pasar mengalami penurunan dibandingkan saat harga masih normal.

"Kalau harga naik terus, pembeli tentu mengurangi belanja. Itu yang sekarang kami rasakan," tuturnya.

Bahan Baku Lontong Naik

Kenaikan harga sejumlah bahan pokok turut dirasakan para pedagang makanan di Kota Padang, Sumatera Barat. 

Kondisi tersebut membuat keuntungan pedagang semakin menipis meski harga jual makanan masih dipertahankan.

Salah seorang pedagang lontong sayur di Pasar Raya Padang, Siti Aisyah, mengaku saat ini harus menghadapi kenaikan harga berbagai bahan baku yang digunakan untuk berjualan setiap hari.

Menurutnya, hampir seluruh kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga, mulai dari sayuran, kacang-kacangan, minyak goreng hingga beras.

Siti mencontohkan harga kangkung yang biasa dibelinya seharga Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per ikat kini naik menjadi sekitar Rp 10.000 per ikat. 

Baca juga: Harga Emas di Padang Melejit Hari Ini, Satu Ameh Tembus Rp 6 Juta di Pasar Raya

Kangkung tersebut digunakan sebagai salah satu bahan untuk membuat lontong pical yang dijualnya.

"Semuanya bahan pokok mahal, mulai dari sayur, kacang, minyak goreng, beras, kerupuk merah, mi, hingga kangkung," kata Siti Aisyah kepada TribunPadang.com, Jumat (12/6/2026).

Kenaikan harga bahan baku tersebut, menurutnya, berdampak langsung terhadap keuntungan yang diperoleh dari hasil berjualan.

"Tentu keuntungan semakin tipis saat berjualan karena semuanya mahal," ujarnya.

Untuk tetap bertahan, Siti mengaku harus lebih cermat saat berbelanja kebutuhan dagangan di pasar.

"Tentunya saat belanja harus pandai-pandai. Karena keuntungan semakin tipis akibat harga bahan pokok naik," katanya.

Baca juga: Harga Bahan Pokok Naik, Penjual Soto di Padang Ogah Naikkan Harga, tapi Pembeli Tetap Sepi

Meski biaya produksi terus meningkat, Siti memilih tidak menaikkan harga lontong sayur yang dijualnya. 

Ia khawatir pelanggan akan beralih ke tempat lain apabila harga dinaikkan.

"Tentu saat ini harus sabar. Karena kalau harga dinaikkan, takut pelanggan mencari tempat yang lain," jelasnya.

Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan pokok sehingga pedagang kecil tetap bisa memperoleh keuntungan yang layak.

"Tentu kami berharap harga bahan pokok kembali normal agar kami bisa mendapatkan keuntungan. Kalau saat ini hanya capek berjualan, untungnya tipis," ujarnya.

Pantauan TribunPadang.com di warung lontong sayur milik Siti pada pukul 12.27 hingga 12.50 WIB tidak terlihat adanya pembeli yang datang. 

Baca juga: Penjualan TV di Pasar Raya Padang Masih Sepi Meski Piala Dunia 2026 Sudah Bergulir

Sementara itu, di meja dagangannya masih tampak sekitar setengah porsi lontong sayur yang belum terjual.

Di sela menunggu pelanggan, Siti terlihat duduk bersama anaknya sambil berbincang dengan pedagang lain di sekitar lokasi.

Pedagang Soto Tak Naikkan Harga

Kenaikan harga sejumlah bahan pokok dikeluhkan para pedagang makanan di Kota Padang, Sumatera Barat. 

Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh pedagang semakin menipis, terlebih di tengah kondisi pembeli yang dinilai masih sepi.

Pantauan reporter TribunPadang.com, Muhammad Afdal Afrianto, pada pukul 12.27 WIB terlihat aktivitas jual beli di warung soto milik Asna masih terbilang sepi.

Hanya terlihat seorang pelanggan yang sedang menikmati makanan di warung tersebut.

Di sela menunggu pembeli, Asna tampak menawarkan dagangannya kepada warga yang melintas di depan lapaknya dengan harapan dapat menarik lebih banyak pelanggan.

Baca juga: Penjualan TV di Pasar Raya Padang Masih Sepi Meski Piala Dunia 2026 Sudah Bergulir

PEDAGANG- Penampakan lapak pedagang soto di kawasan Pasar Raya Padang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Jumat (12/6/2026) siang.
PEDAGANG- Penampakan lapak pedagang soto di kawasan Pasar Raya Padang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Jumat (12/6/2026) siang. (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Salah seorang penjual soto di Pasar Raya Padang, Asna, mengaku saat ini harus menghadapi kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok yang digunakan untuk berdagang.

Diketahui bahwa Pasar Raya Padang berada di dalam kawasan Kelurahan Kampung Jao, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang.

Menurutnya, hampir seluruh bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat soto mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.

"Semua bahan pokok saat ini mengalami kenaikan. Sementara pembeli juga sepi," kata Asna saat ditemui TribunPadang.com, Jumat (12/6/2026).

Baca juga: Harga Plastik di Padang Meroket, Beli Nasi Minta Lauk Dipisah Kini Kena Biaya Tambahan Rp1.000

Meski biaya produksi meningkat, Asna mengaku belum menaikkan harga jual soto yang ia tawarkan kepada pelanggan.

"Soto tidak ada kami naikkan harganya. Harganya masih normal," ujarnya.

Keputusan untuk mempertahankan harga jual tersebut berdampak pada menurunnya keuntungan yang ia peroleh setiap hari.

"Karena harga tidak saya naikkan, tentu keuntungan yang saya peroleh jadi tipis," katanya.

Asna menjelaskan, kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas penting, mulai dari beras, minyak goreng, cabai hingga telur.

Meski demikian, ia memastikan porsi dan cita rasa soto yang dijualnya tetap dipertahankan agar pelanggan tidak kecewa.

"Meski harga bahan naik, porsi dan rasa soto tidak ada yang berubah. Kalau diubah, nanti orang tidak mau membeli," jelasnya.(*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved