Harga BBM Naik

Curhat Driver Ojol di Padang Soal Pertamax Naik: Rela Antre Panjang, Demi BBM Subsidi Pertalite

Menurut Wahyu, jika dirinya memaksakan diri untuk tetap mengonsumsi Pertamax dengan harga baru, maka pendapatan dari tarif ojol akan terkuras habis.

Tayang:
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rezi Azwar
Ringkasan Berita:
  • Dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax di Kota Padang.
  • Antrean pengisian BBM subsidi jenis Pertalite membludak di SPBU Kayu Gadang.
  • Driver ojol rela antre panjang untuk mendapatkan Pertalite.
  • Driver ojol sebut harga Pertamax dinilai sudah semakin tidak terjangkau bagi dompet pekerja jalanan.
  • Pengamat melihat antrean panjang di SPBU adalah sebuah kerugian ekonomi yang nyata bagi daerah.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang melonjak tajam memicu gelombang migrasi konsumen di Kota Padang, Sumatera Barat.

Masyarakat kini berbondong-bondong beralih ke BBM bersubsidi jenis Pertalite demi menghemat pengeluaran harian.

Diketahui bahwa terjadi penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax pada Rabu (10/6/2026). Harga BBM Pertamax untuk wilayah Sumatera Barat naik menjadi Rp17.000 per liter.

Baca juga: Pemprov Sumbar Tegaskan Pengecekan STNK di SPBU Hanya untuk Kendaraan yang Dicurigai

Antrean BBM Subsidi Ramai daripada Nonsubsidi

ANTREAN BBM- Deretan pengendara yang sedang antre untuk pengisian BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Jumat (12/6/2026).
ANTREAN BBM- Deretan pengendara yang sedang antre untuk pengisian BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Jumat (12/6/2026). (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Pantauan Reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda langsung di lapangan pada Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 10.52 WIB, pemandangan kontras terlihat jelas di SPBU Pertamina Kayu Gadang, kawasan Simpang Kampus Unand, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Lokasi SPBU yang berjarak sekitar 800 meter dari kantor Pengadilan Agama Padang Kelas 1-A ini, terdapat antrean kendaraan roda dua sangat panjang di jalur pengisian Pertalite.

Baca juga: Antrean Pertalite Mengular di Padang, Warga Terpaksa Beli Pertamax Rp 17.000 per Liter

Antrean yang padat merayap ini didominasi oleh sepeda motor milik masyarakat dari berbagai elemen.

Tidak hanya kendaraan roda dua, antrean jalur Solar subsidi juga terpantau ramai oleh kendaraan bertubuh besar. Antrean truk-truk tersebut bahkan meluber hingga memakan bahu jalan di sekitar area SPBU.

Pemandangan ini berbanding terbalik dengan jalur pengisian Pertamax. Di jalur BBM nonsubsidi tersebut, suasana tampak lengang dan hanya terlihat satu unit sepeda motor serta satu unit mobil yang melakukan pengisian.

Jeritan Pekerja Jalanan: Rela Antre Asal Dapat BBM Subsidi

Berdasarkan pengamatan di jalur antrean Pertalite, konsumen yang rela berdiri lama di bawah terik matahari datang dari berbagai kalangan. Terlihat di antaranya para pengemudi ojek online (ojol), ibu rumah tangga, hingga mahasiswa.

Melonjaknya jumlah kendaraan di jalur Pertalite ini merupakan imbas langsung dari kenaikan harga Pertamax. Diketahui, harga Pertamax telah meroket dari Rp 12.500 menjadi Rp 17.000 per liter sejak beberapa hari yang lalu.

Salah seorang pengemudi ojol yang ikut mengantre, Wahyu, mengaku dirinya memang jarang menggunakan Pertamax dan lebih memilih Pertalite.

Baca juga: Bupati Dharmasraya Tinjau Proyek Sekolah Rakyat di Sungai Kambut, Progres Fisik Capai 74 Persen

Terlebih dengan kondisi saat ini, di mana harga Pertamax dinilai sudah semakin tidak terjangkau bagi dompet pekerja jalanan.

Menurut Wahyu, jika dirinya memaksakan diri untuk tetap mengonsumsi Pertamax dengan harga baru, maka pendapatan dari tarif ojol akan terkuras habis.

Akibatnya, ia tidak akan memiliki sisa uang yang cukup untuk makan atau memenuhi kebutuhan keluarga lainnya.

Senada dengan Wahyu, driver ojol lainnya bernama Budi Arsya juga memilih bersabar dalam antrean Pertalite yang panjang.

Bagi Budi, tidak masalah harga Pertamax melambung tinggi, asalkan pemerintah tidak mengusik harga Pertalite.

Budi mengutarakan bahwa Pertalite yang saat ini dibanderol dengan harga Rp10.000 per liter sudah sangat menolong kelangsungan dapurnya.

Oleh karena itu, ia rela menghabiskan waktu mengantre agak lama asalkan bisa mendapatkan bensin bersubsidi tersebut.

Pengamat: Konsumen Kelas Menengah 'Turun Kelas'

Sebelumnya, Melihat fenomena ini, pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang (FEB UNP), Doni Satria, memberikan analisisnya.

Ia memprediksi kenaikan tajam Pertamax ini akan mengubah total peta konsumsi energi di tingkat tapak.

Doni menyatakan bahwa selisih harga yang kian melebar jauh antara Pertalite dan Pertamax otomatis memaksa konsumen untuk berpikir lebih realistis.

Baca juga: Bahan Baku Naik, Warung Makan Mahasiswa di Padang Terpaksa Naikkan Harga Rp1.000 per Porsi

Golongan masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi pelanggan setia Pertamax diperkirakan bakal turun kelas dan ikut mengantre di jalur subsidi.

Menurut Doni, fenomena eksodus massal konsumen ini secara otomatis memicu lonjakan permintaan yang luar biasa terhadap Pertalite.

Dampaknya, pemandangan antrean kendaraan yang mengular di berbagai SPBU kini berpotensi menjadi rutinitas baru yang menjemukan bagi warga Kota Padang.

Kerugian Waktu Produktif yang Terbuang

Lebih lanjut, Doni menyoroti dampak sosiologis dan ekonomi makro dari fenomena ini. Ia menegaskan bahwa antrean panjang di SPBU bukan sekadar masalah gangguan visual atau kenyamanan pengendara, melainkan sebuah kerugian ekonomi yang nyata bagi daerah.

Masyarakat urban sering kali tidak menyadari bahwa waktu produktif yang mereka habiskan untuk berdiri atau duduk di atas motor saat mengantre sebenarnya memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi.

“Antre itu adalah biaya. Ketika seseorang harus menghabiskan waktu hingga satu jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar, maka ada waktu produktif yang terbuang sia-sia, begitu pula dengan energi kendaraan yang tetap menyala selama proses antrean," ujar Doni.

Baca juga: Konsumen di Pasar Raya Padang Tak Masalah Harga Bahan Pokok Naik Asalkan Upah Ikut Naik

Kerugian berupa hilangnya waktu produktif dan terbuangnya energi kendaraan tersebut pada akhirnya menumpuk.

Hal ini dinilai memicu pembengkakan biaya operasional hidup masyarakat secara keseluruhan, yang sebenarnya bertolak belakang dengan niat awal mereka untuk berhemat.

Doni menambahkan, situasi yang dihadapi masyarakat saat ini kian pelik lantaran tekanan ekonomi sebenarnya sudah dirasakan jauh sebelum penyesuaian harga Pertamax diberlakukan resmi oleh pemerintah.

Inflasi pada sejumlah komoditas bahan pokok sudah terjadi lebih awal di pasar-pasar tradisional.

Faktor eksternal global, seperti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS serta ketegangan geopolitik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah, ditengarai menjadi hulu dari segala persoalan ini karena sukses menekan stabilitas harga domestik terlebih dahulu.

"Jadi, kondisi di lapangan menunjukkan harga-harga barang sudah merangkak naik bahkan sebelum harga Pertamax resmi disesuaikan. Kenaikan BBM nonsubsidi ini seolah menjadi beban tambahan di atas beban ekonomi yang sudah bertubi-tubi dipikul masyarakat," pungkas Doni.(*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved