Banjir di Padang

Sungai Batang Aia Dingin Padang Meluap, Warga Lubuk Minturun Cemas Trauma Galodo

Hujan lebat yang mengguyur Kota Padang sejak siang hingga sore hari menyebabkan debit air Sungai Batang Aia Dingin di Kelurahan Lubuk Minturun

Tayang:
Penulis: Fajar Alfaridho Herman | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman
PENINGKATAN DEBIT AIR - Warga memantau derasnya aliran Sungai Batang Aia Dingin di Kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu (13/5/2026). Hujan lebat yang mengguyur sejak siang menyebabkan debit air sungai meningkat dan memicu kekhawatiran warga akan potensi banjir serta galodo. 

Ringkasan Berita:
  • Hujan deras di Padang picu debit Batang Aia Dingin naik drastis.
  • Warga Lubuk Minturun ramai pantau arus sungai sejak sore.
  • Suara benturan batu dari aliran sungai bikin warga waspada.
  • Trauma galodo 2025 membuat warga takut banjir kembali terjadi.
  • Hulu sungai masih gelap, warga khawatir debit air kembali naik.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Hujan lebat yang mengguyur Kota Padang sejak siang hingga sore hari menyebabkan debit air Sungai Batang Aia Dingin di Kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, meningkat drastis, Rabu (13/5/2026).

Pantauan TribunPadang.com di lokasi sekitar pukul 17.40 WIB, aliran sungai tampak deras dengan warna air coklat pekat.

Arus yang kencang bahkan menimbulkan suara benturan batu yang terbawa aliran air.

Kondisi langit di kawasan hulu sungai juga masih terlihat gelap dan mendung, sehingga memicu kekhawatiran warga akan potensi meningkatnya debit air.

Sejumlah warga tampak berkumpul di tepi sungai untuk memantau kondisi aliran air.

Baca juga: Seminar HGI di Padang Kupas Dampak Sosial dan Psikologis Aktivitas Digital Berisiko

Sementara beberapa warga lainnya terlihat mencoba menjaring ikan dari pinggiran sungai dan juga memancing.

Salah seorang warga, Yose, mengatakan hujan mulai turun sejak pukul 15.00 WIB. Namun, debit air mulai meningkat sekitar pukul 17.00 WIB.

“Kalau hujan sudah sejak pukul 15.00 WIB tadi, kalau air naik dan derasnya sejak pukul 17.00 WIB,” ujarnya.

Menurut Yose, warga di sekitar bantaran sungai kini selalu diliputi rasa cemas setiap kali hujan deras turun, terutama setelah bencana galodo yang terjadi pada akhir tahun 2025 lalu.

“Sejak bencana galodo akhir tahun lalu itu kami warga sekitar sini pasti takut, waswas atau cemas. Karena takut kejadian itu terulang lagi, makanya kalau hujan deras dan debit air naik, kami langsung ke tepi sungai untuk memantau,” katanya.

Baca juga: Banjir Rendam Jalan Depan Kampus UPI YPTK Padang, Macet Parah Mengular Saat Jam Pulang Kerja

Ia mengaku kondisi tersebut kerap membuat warga sulit tidur, terutama saat hujan turun pada malam hari.

“Apalagi kalau malam, kadang membuat kami susah tidur dan terus memantau kondisi aliran sungai,” tambahnya.

Meski demikian, Yose menyebut warga kini sedikit lebih tenang setelah pemerintah bersama pihak terkait melakukan penataan bantaran sungai pasca banjir bandang.

Menurutnya, bantaran sungai telah diperlebar dan dibangun tembok beton pembatas guna menahan luapan air.

“Sejak pinggiran sungai diperlebar dan dibuatkan tembok beton kami sedikit merasa aman, karena ada pembatasnya, jadi bisa tertahan dulu sebelum meluap,” jelasnya.

Baca juga: BNNP Sumbar Gagalkan Penyelundupan 150 Kg Ganja di Agam, 4 Pria Terancam Hukuman Mati

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved