Nelayan Kesulitan BBM
Nelayan di Padang Sering Tak Kebagian BBM, Terkendala Masalah Administrasi
Kalau untuk ketersedian Pertalite sampai saat ini masih normal, namun nelayan banyak kendala di masalah administrasi
Penulis: Muhammad Iqbal | Editor: afrizal
Seorang nelayan, Zulhelmi (55) mengatakan bahwa kapalnya menggunakan BBM subsidi Pertalite untuk bisa menangkap ikan di laut.
Namun, pembelian Pertalite terkendala lantaran stok di SPBU di tempat yang direkomendasikan sering habis.
"Kalau payang (kapal) kecil saya, bahan bakarnya pakai Pertalite. Tapi belinya susah sekarang, sering habis," kata dia saat ditemui jurnalis TribunPadang.com, Muhammad Iqbal, di Kampung Elo Pukek, Selasa (5/5/2026).
Faktor sulitnya pembelian Zulhelmi, disebabkan banyak masyarakat umum yang beralih ke BBM subsidi, pasca bahan bakar non subsidi melonjak.
Terkadang kata Zulhelmi, sulitnya mendapatkan pertalite membuat ia dan nelayan lainnya sulit ke laut.
Bahkan saat sekarang, hasil tangkapan para nelayan juga kurang membuahkan hasil.
"Berdasarkan izin Dinas Perikanan kami bisa beli maksimal, tapi saat kami mengisi ke SPBU sering tidak dapat," pungkasnya.
Hal serupa juga dirasakan Irfan Efendi (37), melonjaknya harga BBM non subsidi berpengaruh terhadap pembelian Pertalite.
Tidak jarang nelayan terpaksa harus membeli Pertamax yang harganya jauh lebih mahal dari Pertalite.
"Kalau sudah begini, kami sulit untuk ke laut. Tapi kalau kondisi ikan sedang banyak, terpaksa beli Pertamax, walau perbandingannya satu jeriken Pertamax sama dengan dua jeriken Pertalite," tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/NELAYAN-Kapal-nelayan-di-kampung-Elo-Pukek-050526.jpg)