Penemuan Mayat di Padang

Identitas Mahasiswa PNP yang Tewas di Padang: Ternyata Warga Solok Selatan, Bukan Dharmasraya

Dia bukan orang Dharmasraya, tapi dari Solok Selatan. Kami tahu karena kami satu kampung.

Tayang:
TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto
PENEMUAN MAYAT: Bima Adistia (21) memberikan keterangan terkait identitas Febrintino Dwi Awan di RS Bhayangkara Padang, Sabtu (11/4/2026). Ia memastikan korban merupakan warga Solok Selatan, bukan Dharmasraya seperti yang sempat beredar di media sosial. 
Ringkasan Berita:
  • Kabar meninggalnya seorang mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) dalam kondisi gantung diri di kamar kosnya kawasan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, sempat menimbulkan kebingungan terkait identitas asal korban.
  • Korban diketahui berinisial FDA, mahasiswa aktif semester 6 di PNP.
  • Bima yang merupakan tetangga korban di kampung halaman menegaskan, FDA berasal dari Jorong Pincuran Tujuh, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kabar meninggalnya seorang mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) dalam kondisi gantung diri di kamar kosnya kawasan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, sempat menimbulkan kebingungan terkait identitas asal korban.

Bantahan Asal Daerah Korban

Di media sosial, dan laporan polisi awal korban disebut-sebut berasal dari Kabupaten Dharmasraya. 

Namun informasi tersebut dipastikan tidak benar oleh pihak keluarga dan kerabat dekat korban.

Baca juga: Kesaksian Pemilik Kos di Limau Manis Temukan Mahasiswa Tergantung: Pintu Terkunci, Jasad Menghitam

Korban diketahui berinisial FDA, mahasiswa aktif semester 6 di PNP.

Identitas Asli dari Solok Selatan

Salah seorang teman korban, Bima Adistia (21), mengaku awalnya juga mengetahui kabar tersebut dari media sosial dan sempat terkejut melihat informasi yang beredar.

“Kami tahu dari media sosial. Di sana disebut korban dari Dharmasraya, tapi itu tidak benar,” ujarnya saat ditemui TribunPadang.com di RS Bhayangkara Padang, Sabtu (11/4/2026).

Bima yang merupakan tetangga korban di kampung halaman menegaskan, FDA berasal dari Jorong Pincuran Tujuh, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan.

“Dia bukan orang Dharmasraya, tapi dari Solok Selatan. Kami tahu karena kami satu kampung,” katanya.

Menurutnya, kabar yang beredar di media sosial dikenali dari foto dan video yang memperlihatkan sosok korban, sehingga keluarga dan warga kampung memastikan identitas tersebut.

“Dari foto dan video itu kami langsung tahu, karena kenal wajah dan badannya,” ujarnya.

Keluarga Sempat Hilang Kontak

Ia juga mengungkapkan, keluarga korban di kampung sebelumnya sempat kehilangan kontak dengan korban selama beberapa hari.

“Informasi dari keluarga, sudah sekitar empat hari tidak ada kabar,” katanya.

Baca juga: Ditinggal Bantu Memasak di Acara Pesta Pernikahan, Rumah Pedagang di Sirukam Solok Ludes Terbakar

Saat ini, orang tua korban telah berada di Padang untuk mengurus administrasi di Polsek Pauh sebelum membawa jenazah pulang ke kampung halaman.

“Orang tua sudah di sini, sedang mengurus di Polsek Pauh,” ujarnya.

Sementara itu, korban ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya pada Sabtu pagi. Pemilik kos, Mesi (25), mengatakan penemuan tersebut bermula saat ia diminta oleh ayah korban untuk mengecek kondisi anaknya.

Saat pintu kamar dibuka menggunakan kunci cadangan, korban ditemukan dalam kondisi tergantung di pintu kamar mandi.

Kasus ini kini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.

Diberitakan sebelumnya, seorang mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) berinisial FDA (24) ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di kawasan Jawa Gadut, Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (11/4/2026) pagi. Korban ditemukan dalam kondisi tergantung di pintu kamar mandi setelah pihak keluarga kehilangan kontak selama beberapa hari.

Peristiwa ini pertama kali diketahui sekitar pukul 08.25 WIB oleh pemilik kos, Mesi (25). Penemuan tersebut berawal dari kecurigaan ayah korban yang berada di kampung halaman. Sang ayah merasa khawatir karena panggilan telepon dan pesan singkat yang dikirimkan kepada anaknya tidak mendapatkan respons sejak beberapa hari terakhir.

Mesi menjelaskan, dirinya diminta secara khusus oleh ayah FDA melalui pesan singkat WhatsApp untuk mengecek kondisi putranya di kamar kos. Ayah korban merasa ada yang tidak beres karena komunikasi rutin yang biasanya terjalin tiba-tiba terputus tanpa alasan yang jelas.

Setibanya di depan kamar korban, Mesi mendapati pintu dalam keadaan terkunci dari dalam. Setelah upaya mengetuk pintu tidak membuahkan hasil, ia memutuskan untuk menggunakan kunci cadangan guna membuka akses masuk. Namun, saat pintu terbuka, ia justru mendapati pemandangan yang memilukan.

“Saat dibuka menggunakan kunci cadangan, saya melihat korban sudah dalam posisi tergantung di pintu kamar mandi. Kondisinya sudah menghitam dan mengeluarkan aroma menyengat,” ujar Mesi saat memberikan keterangan di lokasi kejadian, Sabtu pagi.

Berdasarkan pengamatan di lokasi, korban ditemukan menggunakan tali tambang plastik berwarna putih. FDA yang saat itu mengenakan kaus berwarna hitam diperkirakan sudah meninggal dunia lebih dari satu hari, mengingat kondisi fisik jasad yang sudah mulai mengalami dekomposisi dan perubahan warna.

Pihak kepolisian dari sektor Pauh dan Tim Inafis Polresta Padang segera tiba di lokasi sesaat setelah menerima laporan. Polisi langsung memasang garis pembatas di sekitar bangunan kos yang terletak tepat di depan rumah makan Ampera Rafli untuk mengamankan tempat kejadian perkara (TKP).

Kapolsek Pauh, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Edi Harto, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, kepolisian masih melakukan pendalaman terkait motif di balik tindakan nekat mahasiswa jurusan Administrasi Niaga semester enam tersebut.

“Laporan dari masyarakat kami terima sekitar pukul 08.00 WIB. Tim sudah di lapangan untuk melakukan identifikasi awal. Untuk sementara, identitas korban sudah terkonfirmasi sebagai mahasiswa dari perguruan tinggi negeri di Padang,” tutur Edi Harto.

Sejumlah warga di sekitar lokasi mengaku terkejut dengan kejadian ini. Rita Nengsih (47), seorang pemilik warung di samping kos korban, menyebutkan bahwa FDA adalah pelanggan tetap yang sering berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti mie instan dan minuman.

Namun, Rita mencatat ada perubahan kebiasaan korban dalam sepekan terakhir. Ia menyebut terakhir kali melihat FDA sekitar tujuh hari yang lalu saat korban membeli minuman di warungnya. Setelah itu, keberadaan mahasiswa tersebut seolah menghilang dari aktivitas sosial di lingkungan kos.

Senada dengan Rita, warga lainnya bernama Febi Febrianti juga memberikan kesaksian serupa. Ia sempat melihat korban membeli gorengan seminggu yang lalu, namun setelah itu kamar korban tampak selalu tertutup rapat tanpa ada tanda-tanda aktivitas penghuninya.

Hingga pukul 11.00 WIB, suasana di kawasan Limau Manis masih dipadati oleh warga yang ingin menyaksikan proses evakuasi. Petugas kepolisian harus bekerja ekstra untuk menenangkan kerumunan agar proses identifikasi oleh tim Inafis berjalan lancar di dalam ruang sempit kamar kos tersebut.

Jasad FDA akhirnya dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumatera Barat untuk menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut. Pihak kepolisian juga menunggu kedatangan keluarga korban yang dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju Padang untuk menjemput jenazah.

Disclaimer: Berita atau artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Apabila Anda atau seseorang terdekat memiliki dorongan untuk melakukan bunuh diri, segera hubungi profesional kesehatan mental atau pihak berwenang.

 

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved