Berita Populer Padang

3 Berita Populer Padang: TPU Tunggul Hitam Ramai Peziarah Jelang Ramadan & Evakuasi Sapi Masuk Sumur

"Seekor sapi masuk ke dalam sumur samping rumahnya dan tidak dapat dievakuasi, kemudian dilaporkan ke petugas Damkar Kota Padang," ujar Rinaldi.

Tayang:
Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Muhammad Iqbal
TPU TUNGGUL HITAM- Penampakan masyarakat yang sedang melakukan ziarah kubur di TPU Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, kota Padang, jelang Ramadan 2026, Minggu (15/2/2026). Masyarakat ramai berziarah, membersihkan makam, menaburkan bunga hingga mengirimkan doa. 

Kasi Pusdalops Damkar Padang, Sutopo, mengungkapkan bahwa personelnya rutin melakukan aksi penyelamatan tak terduga mulai dari urusan sepele hingga yang membahayakan nyawa.

Penyelamatan terhadap manusia dilakukan saat ada korban tenggelam, melepaskan cincin di tangan dan hal lainnya.

Sementara itu, Damkar juga mampu mengevakuasi ular, buaya hingga biawak yang membahayakan manusia.

Tak cuma itu, saat handphone hingga kunci warga masuk ke dalam air atau tersangkut di celah-celah batu, Sutopo menyebut instansinya dapat mengatasi hal itu.

Baca juga: Jadwal SIM dan Samsat Keliling di Kota Padang Minggu 15 Februari 2026, Digelar 3 Titik

"Banyak yang bisa dilakukan Damkar selain memadamkan api, seperti penyelamatan manusia dan hewan," ungkapnya, saat ditemui di kantornya, Selasa (20/1/2026).

Bahkan, permasalahan pintu rumah, kedai atau warung yang susah dibuka, Damkar juga dapat melakukannya.

Untuk itu, masyarakat dapat melaporkannya kepada Damkar, saat mendapatkan kesulitan.

Damkar Kota Padang juga menyediakan layanan via telepon, pesan dan panggilan whatsapp, hingga datang secara langsung ke kantor.

Cara pelaporan sendiri melalui telepon, dapat menghubungi nomor 075128558. Sedangkan melalui whatsapp, warga dapat melaporkan kejadian apa saja.

Baca juga: 6 Bangunan di Berok Siteba Padang Hangus Terbakar Usai Salat Jumat, Damkar Masih Pendinginan

Namun, harus menyertakan video, mengirim lokasi kejadian, hingga bantuan seperti apa yang dibutuhkan.

"Warga dapat melapor ke 08116606113, jika ada kebakaran, sertakan bukti di atas dan berapa unit mobil yang harus diterjunkan," pungkasnya.

Dengan adanya bukti video, Sutopo menyebut dapat membantu instansinya sebelum terjun ke lapangan.

Tak hanya itu, bukti video juga dapat meminimalisir laporan bohong.

3. Jejak Lumpur yang Memudar, Trauma yang Mengakar: Potret Muram Lambung Bukit Jelang Ramadan

Matahari Minggu (15/2/2026) merangkak naik di langit Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Namun, bagi Maini, cahaya itu tak lagi memantulkan harapan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Di tanah kelahirannya, keriuhan berganti senyap yang mencekam. Luka akibat banjir bandang akhir November 2025 lalu, belum benar-benar mengering. 

Jejak lumpur mungkin sudah memudar, tetapi memori tentang air bah yang menerjang pemukiman mereka masih segar di ingatan, hingga menyayat hatinya.

Bagi Maini, air bukanlah kawan baru yang berkhianat. Ia masih mengingat betul getirnya banjir tahun 2012 silam. Namun, bencana yang menutup lembaran tahun lalu adalah puncaknya. 

Baca juga: Kisah Asmanidar 35 Tahun Mengepul Sampah di TPA Aie Dingin Padang, Berhasil Kuliahkan Anak

Ia menyaksikan sendiri bagaimana rumah-rumah tetangganya hanyut terbawa arus layaknya perahu kertas yang tak berdaya.

"Rumah-rumah itu hanyut seperti perahu," kenang Maini dengan suara pelan, seolah takut suaranya akan memanggil kembali kenangan pahit itu. 

Puluhan rumah rata dengan tanah, menyisakan puing dan rindu yang tak berkesudahan.

Salah satu kehilangan yang paling menyesakkan adalah runtuhnya Surau Jamiaturrahmah. 

Bagi warga setempat, surau itu bukan sekadar bangunan semen dan batu.

Bangunan itu adalah pusat semesta kecil mereka tempat mereka bersujud, mengadu, dan merajut ukhuwah. Kini, rumah ibadah itu telah tiada.

Baca juga: Curhat Penyintas Banjir di Kapalo Koto Padang: Berharap Lebaran di Hunian Tetap Baru

Maini kini terpaksa menumpang di rumah anak  yang luput dari amukan air. Meski atap masih melindunginya dari hujan, rasa asing tetap menjalar. 

Ia merasa seperti pengungsi di tanah sendiri. Kesunyian kini menjadi kawan setianya sehari-hari.

Kampung yang dulu semarak itu kini kehilangan denyutnya. Orang-orang telah pergi. 

Sebagian memilih pindah ke tempat yang dianggap lebih aman, sebagian lagi mengisi hari-hari di Hunian Sementara (Huntara).

Lambung Bukik seolah menjadi kampung mati saat senja mulai turun. Aktivitas warga kini hanya menyisakan rutinitas yang getir.

Mereka yang rumahnya masih berdiri akan datang pada pagi hari untuk membersihkan sisa debu dan lumpur, namun saat malam tiba, mereka kembali ke Huntara atau rumah kerabat.

Potret Muram Lambung Bukit Jelang Puasa

pasbanjir di lambung bukit padang 15/2/2026
PASABANJIR- Penampakan kondisi Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada Minggu (15/2/2026).

Tak ada lagi tawa di teras rumah saat petang menjelang. Kesunyian ini terasa kian menghujam jantung saat kalender menunjukkan Ramadan segera tiba. 

Bagi umat Muslim, Ramadan adalah bulan kemenangan, namun bagi warga Batu Busuk, ini adalah masa ujian yang sangat berat.

Segalanya telah berubah, tak ada lagi suasana yang sama.

"Memasuki Ramadan ini memang mungkin cobaan bagi kami. Banyak hal berubah," ujar Maini lirih. 

Baca juga: Rumah Hasil Tani Alizar Hilang Disapu Galodo Padang, Hanya Bisa Tertawa Meski Sesak Menahan Air Mata

Kebutuhan mendesak warga saat ini bukanlah sekadar bantuan pangan sesaat.

Mereka merindukan tempat tinggal yang aman, sebuah rumah permanen yang tidak jauh dari Batu Busuk tempat di mana mereka mengais rezeki dan menggantungkan hidup sebagai buruh maupun petani.

Tak jauh dari lokasi Maini, Siti Rohani juga merajut sisa-sisa ketabahan. Ia memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi di atas bukit. 

Rumah lamanya kini hanya tinggal kenangan, tak mungkin lagi dihuni karena risiko bencana yang selalu mengintai di bawah sana.

Siti merasakan betul bagaimana ekonomi warga lumpuh total. Sawah dan ladang yang menjadi tumpuan hidup tertimbun material banjir. 

Baca juga: Kondisi Korban Banjir Padang, Nurhayati: Kami Kehilangan Tanah, Sawah, tapi Tak Boleh Hilang Arah

"Yaa, bagaimana lagi, itu kehendak Yang Kuasa. Kita hanya umat yang diuji, semestinya harus bersabar," ucap Siti dengan nada pasrah. 

Sebuah kepasrahan yang lahir dari ketidakberdayaan, namun tetap menyimpan secercah iman.

Kesedihan Siti kian bertumpuk saat melihat tradisi balimau ritual mandi menyambut Ramadan terancam hilang. 

Tempat pemandian yang biasanya riuh oleh canda warga kini sepi. Airnya mengecil dan keruh, tak layak lagi untuk menyucikan diri secara simbolis.

Wisatawan atau pengunjung dari luar tak lagi datang. Batu Busuk yang dulu asri kini tampak muram dengan infrastruktur yang compang-camping dan belum tersentuh perbaikan menyeluruh.

Ramadan kali ini juga memaksa warga untuk merantau dalam ibadah.

Tanpa Surau Jamiaturrahmah, mereka harus berjalan menuju masjid atau musala di kampung lain hanya untuk melaksanakan salat tarawih. Sebuah perjalanan spiritual yang penuh dengan beban ingatan.

"Kami terpaksa salat Tarawih ke masjid lain. Tentu suasananya berbeda, ingatan kami masih di surau yang dulu," tutur Siti. 

Baca juga: Warga Guo Bangkit Usai Diterjang Galodo, Syafrizal Perbaiki Rumah Orang Tua Pakai Material Bekas

Ada kerinduan yang mendalam pada suara azan yang dulu menggema dari surau mereka sendiri.

Kini, warga Lambung Bukik hanya bisa menatap langit, berharap Ramadan kali ini membawa ketenangan di tengah puing-puing kehilangan. 

Sebab bagi mereka, sabar bukan lagi sekadar kata, melainkan nafas untuk bertahan hidup di tengah sisa-sisa bencana.(*)

Sumber: Tribun Padang
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved