Lifestyle

Menggali Makna Slow Living di Tengah Tekanan Hidup Modern

PERNAH nggak sih kalian merasa tertinggal dari teman-teman yang lain? Mereka aktif ikut organisasi, magang ke sana-sini, ikut program pertukaran pel

Editor: Emil Mahmud
Magang FIB UNAND/Aisa Elvira
ILUSTRASI KREATIFITAS MANUSIA - Seorang mahasiswa perempuan memerankan tokoh dalam pementasan kampus yang digelar di Medan Nan Balinduang Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Foto ini diambil dalam rangka kebangkitan teater kampus yang kini mulai dilirik kembali dan bahkan menjadi mata kuliah wajib di beberapa jurusan. 

PERNAHKAH nggak sih kalian merasa tertinggal dari teman-teman yang lain? Mereka aktif ikut organisasi, magang ke sana-sini, ikut program pertukaran pelajar, atau panen prestasi tiap semester.

Sementara kita? Kadang rasanya cuma bisa nonton dari pinggir. Rasanya seperti jalan di tempat, sementara yang lain berlari kencang.

Buat Sebagian mahasiswa, tekanan semacam itu sangat nyata. Tak jarang muncul rasa bersalah, seolah-olah hidup kita “kurang cepat”, kurang produktif, dan kurang bersinar.

Tapi, di tengah budaya hustle yang makin kencang, ada satu pilihan gaya hidup yang kini mulai mendapat tempat yaitu slow living.

 Apa itu Slow Living?

Slow living bukan berarti hidup tanpa tujuan, apalagi malas-malasan. Slow living adalah gaya hidup yang mengajak untuk memperlambat ritme fokus pada hal yang penting, dan menikmati proses tanpa merasa harus terus-terusan mengejar validasi.

Tren ini tumbuh sebagai respons atas budaya kerja dan belajar yang makin cepat, makin keras, dan makin melelahkan. Bagi sebagian anak muda, termasuk mahasiswa, slow living jadi cara untuk tetap waras dan mengenal diri sendiri lebih dalam.

Menurut studi dari Harvard Business Review (2022), lebih dari 47 persen professional muda di dunia merasa kelelahan karena tekanan sosial untuk “selalu produktif”.

Banyak dari mereka mulai mencari keseimbangan hidup, termasuk dengan mempraktikkan gaya hidup seperti slow living, mindfulness, dan digital detox.

Baca juga: Ketahui Bahaya Hustle Culture yang Jarang Dibahas, Terlihat Produktif Tapi Burnout

Manfaat Slow Living

Hidup lebih pelan punya banyak sisi positif. Kesehatan mental lebih terjaga karena kita tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Kita bisa lebih sadar atas pilihan-pilihan hidup, bukan hanya mengikuti arus atau tekanan sosial. 

Sebuah laporan dari World Health Organization (WHO) tahun 2023 mencatat bahwa gangguan kecemasan dan depresi meningkat sebesar 25 persen sejak pandemi, terutama di kalangan anak muda.

Perlambatan ritme hidup yang diiringi dengan praktik slow living terbukti bisa menurunkan stres dan meningkatkan kebahagiaan harian.

Dengan ritme yang lebih tenang, kita juga jadi lebih bisa mengevaluasi apa yang benar-benar penting, apa yang bisa ditunda, dan apa yang bisa ditinggalkan.

Apa Benar Slow Living Bukan Alasan Untuk Malas?

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved