Kabupaten Padang Pariaman

Pria di Padang Pariaman Asingkan Diri di Gubuk Plastik Akibat Sakit Parah

Pria berusia 60 tahun itu, tinggal dalam gubuk plastic berukuran dua kali dua meter dengan tinggi 1,5 meter. Plastic tersebut menjadi dinding ..

Tayang:
Penulis: Panji Rahmat | Editor: Fuadi Zikri
Foto: Panji Rahmat/tribunpadang.com
Zainal Arifin, 60 tahun, warga Padang Pariaman yang mengasingkan diri karena sakit. 

Selain batuk berlebihan, air besar Zai juga sering mengeluarkan darah dan lender, sehingga membuat bau tidak sedap yang mengganggu keluarganya, jika tinggal satu atap dengannya. Zai menyebut dua orang anaknya tinggal di rumah bersama adik kandungnya yang berjarak lima meter di samping kanan gubuk tersebut. Sedangkan anaknya yang satu lagi tinggal di Lubuk Basung bersama keluarganya.

Di samping kiri gubuk juga terdapat rumah saudara Zai lainnya berjarak lima meter pula, tapi Zai tidak mau membuat kenyamanan keluarganya terganggu sehingga ia memilih tinggal di gubuk tersebut selama empat bulan terakhir. Karena pernah suatu hari kejadian, saat istri adiknya makan, ia batuk berlebihan, perasaan Zai jadi tidak enak.

“Kalau orang sumando (suami adek) marah tentu tidak mungkin, karena saya mamak rumah. Tapi ini tentang tenggang rasa saja,” ujarnya mengerunyutkan dahinya yang luas, karena kerontokan pada bagian rambut depan.

Tenggang rasa ini yang membuat Zai memilih untuk hidup mandiri tidak menyusahkan keluarga besar dan anak kandungnya. Kemandirian ini membuat Zai setiap hari harus mengemis ke Pasar lubuk basung, mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB.

Zai pergi mengemis menggunakan jasa ojek pangkalan dengan biaya Rp20 ribu pulang pergi, jumlah itu tertutupi dengan penghasilan mengemisnya, dengan  rata-rata Rp30 ribu sehari. Uang sia ongkos akan ia gunakan untuk sarapan pagi besoknya.

“Rp30 ribu itu sudah di luar makan malam, uang sia ongkos itu yang biasanya saya tabung dulu untuk membeli plastic, semen dan sarapan pagi. Tergantung jumlahnya,” ujar Zai, yang mengaku hanya makan dua kali sehari (sarapan dan makan malam).

Selain mengemis, satu bulan terakhir, ia kembali mengasah keterampilannya semasa dulu sebagai tukang furniture, dengan membuat kerajinan tangan patung burung dari kayu. Maklum Zai. Saat masih kuat sudah melalang buana menjadi tukang furniture hingga ke Jambi dan Bengkulu. Jadi susah untuknya berdiam diri tanpa bekerja.

Semasa aktif membuat patung kayu itu Zai, mengaku bisa mendapat uang Rp300 ribu untuk satu patung, sekarang harganya entah berapa yang penting ia ingin menambah pemasukan guna bisa membeli plastic melengkapi pintu gubuknya.

Meski memisahkan diri dari keluarga dan anaknya, hangatnya kekeluargaan tidak hilang begitu saja dalam kehidupannya. Anak Zai setiap hari selalu mampir ke gubuk ayahnya, bercerita membagi suka dan duka.

“kalau uang tidak banyak di kasih anak, mungkin bisa jadi tidak di kasih, karena kondisi ekonomi kan kita sama tahu. Saya juga tidak pernah minta, soalnya saya masih bisa memenuhi kebutuhan pribadi,” ujarnya datar.

ia mengaku penyakit yang menimpanya belum pernah diobati ke rumah sakit, karena menurutnya tidak ada masalah dan akan sembuh pada waktunya, Zai tidak mau merepotkan untuk biaya berobat atau menemaninya berobat.

Meski begitu, Zai mengeluhkan bahwa memang penyakit ini belakangan sudah merambat kemana-mana, kadang membuat perut atau punggungnya sakit, tapi ia tetap berusaha menahannya.

Bagi Zai yang sejak masa bujangnya sudah sering merantau, menjalani kehidupan serupa ini bukanlah hal yang menakutkan, malah menyenangkan karena tidak menyusahkan orang lain. Larangan dari keluarga dan anaknya untuk tinggal di sana tidak pernah ia indahkan, bahkan ia akan lebih senang jika memang dibuatkan rumah lebih layak, asalkan tinggal seorang diri.

Saat ini gubuk Zai tidak dilengkapi kamar mandi, sehingga ia masih menggunakan saluran air yang berjarak empat meter dari gubuknya, di pinggir jalan tempat warga melintas untuk membasuh badan dan buang air kecil, serta besar.

“sekarang saya juga sedang coba menyemai bibit cabai padi, untuk modal Bertani menambah pemasukan. Tapi keterbatasan biaya juga, jadi bibitnya masih sedikit,” ujarnya.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved