Kabupaten Padang Pariaman

Pria di Padang Pariaman Asingkan Diri di Gubuk Plastik Akibat Sakit Parah

Pria berusia 60 tahun itu, tinggal dalam gubuk plastic berukuran dua kali dua meter dengan tinggi 1,5 meter. Plastic tersebut menjadi dinding ..

Penulis: Panji Rahmat | Editor: Fuadi Zikri
Foto: Panji Rahmat/tribunpadang.com
Zainal Arifin, 60 tahun, warga Padang Pariaman yang mengasingkan diri karena sakit. 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG PARIAMAN – Mendengar langkah kaki beriringan dari kejauhan, Zainal Arifin, sudah awas, menggerakkan tubuhnya yang ringkih, memastikan siapa datang. Melalui bola mata hitamnya yang sudah ke abuan tertutup selaput tebal, Zai sapaan akrabnya melihat ke bagian luar rumah hanya melalui dinding untuk mengetahui tamu mana yang mengunjunginya siang ini.

Ia hanya dari dinding saja, ayah tiga anak itu sudah mengetahui siapa tamunya, bukan karena punya ilmu batin atau apalah semacamnya, tapi memang rumahnya hanya terbuat dari plastic bening.

Pria berusia 60 tahun itu, tinggal dalam gubuk plastic berukuran dua kali dua meter dengan tinggi 1,5 meter. Plastic tersebut menjadi dinding sekaligus atap gubuknya, yang sudah lima bulan lalui ia persiapkan untuk tinggal, memisahkan diri dari keluarga.

“apo kaba nak (apa kabar nak),” ujarnya menyambut TribunPadang.com dari dalam gubuk plastic dengan suara yang hanya bisa didengar dalam jarak dua meter, Sabtu (26/4/2025).

Suara seadanya itu diikuti dengan gerakkan lamban Zai yang masih dalam kondisi setengah berbaring, supaya bisa duduk di pinggir tempat tidurnya, tempat tidur itu ia buat menggunakan coran semen, dilapisi karpet berwarna hijau dan Kasur Palembang hijau, di atasnya Zai tidur dengan bantal tanpa sarung dan selimut tebal berwarna ungu.

Coran itu menjadi lantai bagi gubuknya, semen itu ia dapat dari hasil mengemis di pasar lubuk basung setiap hari sebanyak dua kilo setiap hari. Begitu juga plastik bening tersebut, ia beli sepanjang tiga meter setiap hari.

“awalnya pemilik took plastic curiga, setiap hari saya datang belanja barang yang sama. Saya bilang saja untuk ladang. Karena aneh kalua saya bilang untuk rumah,” ujarnya.

Di gubuk itu semua keperluan sehari-harinya, ia tata dengan sangat apik, mulai dari alat makan, pakaian sehari-hari hingga perkakas kerjanya tersusun rapi, meski dengan tempat seadanya, dengan tali rafia, atau kayu dahan pohon yang tidak lurus.

Di gubuk plastic yang hanya bertonggakkan pohon sebesar pergelangan bahu tahan orang dewasa, Zai yang pernah bekerja sebagai pembuat furniture tersebut, berhasil menyulap gubuknya dengan rapi bermodalkan pengerat tali rafia warna hitam. Layaknya rumah, di sisi gubuk ada juga jendela kecil begitu juga pintu.

Sayangnya pintu tersebut tidak selesai, plastic yang dimiliknya kurang, sehingga gubuk tersebut tanpa pintu selama ia tinggali dalam empat bulan belakang, selain pintu, gubuk tersebut juga tidak memiliki lampu.

“makanya saya pilih plastic bening, jadi tidak perlu lampu, cukup penerangan dari rumah yang ada di sekitar saja” ujar pria dengan rambut hitam lebat, walau bagian depannya sudah agak licin tersebut.

setelah duduk di ujung tempat tidurnya, tangan kekar Zai langsung menjangkau tongkat aluminum berkaratnya, Zai berdiri tergopoh, kakinya agak bengkak sebelah, entah apa penyebabnya. Ia menapaki Langkah sayup dengan mengambil gelas kopi kea rah tungku kayu yang berada di depan gubuk.

Sebelum TribunPadang.com datang ternyata Zai sedang memanaskan air untuk menyeduh kopi sebagai teman melukis patung kayu burung yang sudah satu bulan belakang ia kerjakan. Secangkir kopi hitam panas, itu ia letakkan di meja kayu yang sudah ia siapkan untuk bekerja, di atasnya terdapat kerajinan tangan patung burung hantu dari kayu yang sudah sebulan ia kerjakan.

Setelah semua terasa pas, Zai langsung duduk di kursi kayu sebelah meja tersebut, menyandarkan badannya yang terbungkus baju batik warna kream dengan motif bunga-bunga maron yang sudah berubah warna menjadi orange, tidak terkancing satupun.

“say aitu sakit-sakitan sudah empat tahun terakhir, sehingga sering batuk berlebihan. Jadi mengganggu kenyamanan orang. Makanya saya pilih untuk tinggal menyendiri seperti ini,” ujarnya dengan mata berlinang.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved