Citizen Journalism
Opini: Bahasa Kita, Cermin Perilaku Kita
Bahasa adalah jendela jiwa; dari kata-kata kita, orang lain menilai siapa sesungguhnya
Maka dari itu, konteks menjadi sangat penting dalam memahami dan menggunakan bahasa secara bijak (Revita, 2014).
Kita hidup dalam masyarakat yang majemuk yang berbeda latar belakang budaya, pendidikan, bahkan selera humor.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus belajar menggunakan bahasa secara inklusif. Jangan sampai, niat bercanda malah menyakiti.
Jangan sampai, keinginan untuk menyampaikan pendapat malah menyinggung. Literasi bahasa harus berjalan seiring dengan literasi empati.
Bahasa, pada akhirnya, juga menyimpan empati. Di tengah dunia yang serba cepat dan sering penuh tekanan, memilih kata-kata yang menenangkan, menghindari ujaran kebencian, atau menahan diri dari komentar tajam adalah bentuk kedewasaan dalam berbahasa.
Dan, hal ini penting, karena satu kalimat bisa menyejukkan hati, tapi bisa juga menyulut api.
Penulis sebagai dosen linguistik, selalu percaya bahwa mengajarkan bahasa tidak cukup berhenti pada soal struktur kalimat.
Bahasa harus dilihat sebagai bagian dari karakter. Lewat bahasa, kita belajar menghargai perbedaan, menyampaikan gagasan dengan santun, dan membangun ruang dialog yang sehat.
Jadi, jika kita ingin membentuk masyarakat yang lebih baik, mari mulai dari cara kita berbicaradi dunia nyata maupun dunia maya. Karena pada akhirnya, bahasa kita adalah cermin dari diri kita.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/cara-buat-sound-wa.jpg)