Citizen Journalism

Opini: Bahasa Kita, Cermin Perilaku Kita

Bahasa adalah jendela jiwa; dari kata-kata kita, orang lain menilai siapa sesungguhnya

Tayang:
Editor: Emil Mahmud
Dokumentasi/TribunMedan.com
FITUR APLIKASI WA - WhatsApp mempunya fitur yakni sound of text WA. Bila kamu bosan dengan notifikasi WhatsApp yang itu-itu saja, sound of text WA menjadi solusinya. Menggunakan sound of text WA, kamu dapat membuat nada dering sendiri sesuai dengan keinginanmu. 

Oleh Ike Revita, Penulis adalah Dosen Prodi Linguistik FIB Unand)


Bahasa adalah jendela jiwa; dari kata-kata kita, orang lain menilai siapa kita Ike Revita

PERNAHKAH kita berpikir, bagaimana orang menilai siapa kita hanya dari cara kita berbicara?

Bahasa, sesungguhnya, bukan cuma soal menyampaikan pesan dari mulut ke mulut atau lewat teks.

Lebih dari itu, bahasa adalah gambaran dari siapa kita, cara berpikir, cara bersikap, bahkan cara kita memandang dunia (Revita, 2023).

Dalam Linguistik, ada istilah language is a mirror of the mind. Bahasa mencerminkan isi kepala dan isi hati seseorang.

Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Chaika (1986) bahwa bahasa itu juga cerminan sosial language as social mirror’. 

Seseorang yang terbiasa bertutur kata sopan, rapi, dan penuh pertimbangan biasanya dipersepsikan sebagai pribadi yang santun dan menghargai orang lain.

Sebaliknya, kalau seseorang mudah menyindir, mencaci, atau berbicara dengan nada tinggi, biasanya juga akan dinilai negatif, meski niatnya belum tentu seburuk itu.

Era digital seperti sekarang, cara kita berbahasa semakin mudah dilihat orang. Cuitan di Twitter (sekarang X), komentar di Instagram, status WhatsApp/WA hingga obrolan singkat di Whatsapp Groups (WAG) keluarga, semuanya menjadi jejak bahasa yang sekaligus mencerminkan karakter kita.

Sayangnya, karena komunikasi digital tak dibarengi ekspresi wajah atau nada suara, kesalahpahaman sering terjadi.

Maksud bercanda, bisa disangka serius. Niat mengingatkan, bisa dituduh menggurui.

Dari sinilah kadang konflik bermula, hanya karena pilihan kata yang kurang pas atau kurang empati (Revita, 2024).

Dari perspektif Pragmatik, cabang linguistik yang mengkaji makna dalam konteks, kita belajar bahwa satu ucapan bisa punya banyak tafsir tergantung situasinya (Revita, 2008).

Contohnya, tuturan Kamu hebat, deh! bisa bermakna pujian tulus, bisa juga sindiran, tergantung nada suara, ekspresi wajah, atau bahkan hubungan antara pembicara dan pendengar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved