Literasi Digital Pasbar

Dedikasi Putri Aceh di Pedalaman Pasaman Barat

Saya adalah seorang putri kelahiran tanah rencong. Kisah saya bermula saat tiba pengumuman penempatan Guru Garis Depan atau disingkat dengan GGD.

Tayang:
Editor: Fuadi Zikri
Guru Kelas SDN 10 Sungai Beremas Lusniati Saputri
Lusniati Saputri, S.Pd. (tengah), Guru Kelas SDN 10 Sungai Beremas. 

Saya tidak berani menolak, karena saya masih orang baru di sekolah tersebut. Sehingga saya tetap berusaha untuk menjalaninya. Selanjutnya saya mencari rumah yang disewakan untuk saya tempati agar bisa segera mengajar dan tinggal di desa tersebut.

Banyak yang menawari kami untuk tinggal di rumah warga. Namun pilihan saya tertuju pada tawaran sepasang kakek nenek yang membolehkan saya ngekos di salah satu kamar di rumah beliau.

Saya memilih rumah tersebut karena akses ke sekolah lebih dekat dan bersih. Akhirnya saya menurunkan semua perlengkapan rumah saya. Saya tinggal di sana dengan serba terbatas yaitu tanpa listrik dan tanpa sinyal.

Setahun pertama saya tinggal di desa tersebut, saya mengalami stres karena saya yang sebelumnya tidak pandai mengurus rumah, tapi saat di sana saya harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri dan semua dikerjakan dengan tangan.

Belum lagi saya memiliki balita yang pada saat itu sedang aktif-aktifnya. Saya berusaha belajar banyak pada tetangga saya yang kebetulan anak dari nenek yang punya rumah tersebut. Saya juga sering dibantu oleh kakak tersebut.

Tahun kedua saya di desa Lubuk Bontar, saya meminta kepada pemilik rumah kos saya yang kebetulan juga tuan tanah di situ agar membangun rumah kontrakan untuk saya serta keluarga kecil saya. Sang pemilik rumah pun mau menuruti permintaan saya.

Menunggu beberapa bulan rumah kontrakan pun selesai. Kami pindah dari kamar kos ke rumah kontrakan yang baru dibangun. Walaupun rumahnya sederhana dan kecil, tapi setidaknya bisa untuk kami belajar hidup mandiri.

Saat tinggal di rumah kontrakan listrik pun masuk, sehingga pekerjaan rumah sudah banyak terbantu. Saat itulah saya bisa menyesuaikan diri dengan tempat tinggal saya.

Saya mulai ada waktu untuk bersosialisasi dengan penduduk di desa tersebut. Penduduk di sana menerima saya dengan ramah-tamah. Mereka juga mengajarkan saya bagaimana cara bertahan hidup di desa itu.

Saya mulai menikmati profesi saya sebagai guru di daerah terpencil, saya juga mulai dekat dengan anak-anak di sana. Mengenal watak anak-anak yang tinggal di pedalaman serta mencari tahu bagaimana menaklukkan anak-anak agar patuh serta mengubah karakter mereka yang kurang baik, contohnya mereka suka berkata kotor.

Seiring berjalannya waktu saya bisa menjadi dekat dengan anak-anak di sana. Tahun berikutnya kepala sekolah meminta saya menjadi wali kelas VI, sehingga saya akan menghadapi tantangan baru lagi karena siswa kelas VI sedang mengalami masa peralihan, jadi tingkat melawannya lebih tinggi.

Namun tidak membutuhkan waktu lama, saya mampu menguasai kelas ketika mengajar di kelas VI. Sampai tiba pengumuman kelulusan dan siswa dinyatakan lulus, para siswa memeluk saya serta menangis dengan begitu harunya.

Sampai saat ini saya masih dipercayakan untuk menjadi wali kelas VI. Saya sangat menikmati setiap proses saat saya menjadi guru di sekolah pedalaman serta menjalani hidup terbatas di desa Lubuk Bontar.

Sekarang saya sudah memiliki banyak pengalaman serta ilmu yang pastinya tidak akan saya dapatkan jika tinggal di kota. Semoga yang saya jalani sekarang berkah untuk saya beserta keluarga kecil saya. Aamiin Yarabbal’alamin.

_____
Baca berita terbaru di Saluran TribunPadang.com dan Google News

 
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved