Literasi Digital Pasbar

Literasi di Kelasku, Aku dan Sekolahku

SD Negeri 18 Kinali yang berada di Nagari Koto Gadang Jaya, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat merupakan sekolah tempat aku mengajar.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Rahmadi
Dok. Pribadi
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) oleh Iswantini, S.Pd Guru SDN 18 Kinali, Kecamatan Kinali, Pasaman Barat. 

Oleh: Iswantini, S.Pd Guru SDN 18 Kinali, Kecamatan Kinali, Pasaman Barat

PASAMAN BARAT - Sekolah Dasar (SD) Negeri 18 Kinali yang berada di Nagari Koto Gadang Jaya, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat merupakan sekolah tempat aku mengajar.

Sekolah ini dipimpin oleh Kepala Sekolah bernama Nyuradi, S.Pd dan aku dipercaya untuk mengajar siswa-siswi yang duduk di bangku kelas VI dengan jumlah murid sebanyak 38 orang yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 21 siswi perempuan.

Untuk kurikulum sendiri yang digunakan di sekolah ini terdiri dari kurikulum 13 untuk siswa kelas III dan kelas VI, sedangkan untuk kelas I, II, IV dan V sudah menggunakan Kurikulum Merdeka.

Bagaimana literasi di Kelasku?

Berbicara tentang literasi zaman sekarang ini sudah tidak asing lagi bagi kita, apalagi kami yang sehari-hari bergelut di lingkungan pendidikan. Secara umum literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah, memahami informasi dengan membaca, menulis, menambah pengetahuan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah serta kemampuan komunikasi yang efektif.

Baca juga: Pelajar di Padang Dibekali Financial Literacy Program, Hasilkan Proyek Kampanye Literasi Keuangan

Akan tetapi, saat ini kemampuan dan minat membaca peserta didik sangatlah rendah. Ini terlihat dimana peserta didik jarang sekali membaca buku di luar jam pelajaran dan peserta didik juga terlihat sulit ketika diminta memahami soal cerita dalam pelajaran matematika dan juga pelajaran lainnya.

Hal ini juga terlihat ketika waktu istirahat tiba, setelah makan dan jajan para siswa lebih suka bermain-main dan berkumpul disana sini daripada masuk perpustakaan untuk membaca. Sehingg dalam pembelajaran mereka terkendala dengan lemahnya kemampuan literasi.

Melihat keadaan yang demikian, sekolah akhirnya mewujudkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dengan melakukan berbagai cara dan menyediakan berbagai fasilitas agar kemampuan peserta didik dalam literasi dapat meningkat.

Selain itu, guna mewujudkan visi sekolah tentang literasi, maka setiap kelas melaksanakan misi agar tercapai visi sekolah tentang pemantapan kemampuan literasi peserta didik yang lebih optimal. Tentunya dalam gerakan pemantapan kemampuan literasi butuh kerjasama dari berbagai pihak.

Kerjasama itu mulai dari peserta didik, guru, kepala sekolah, orangtua, dan masyarakat. Selain adanya kerjasama juga diperlukan berbagai kegiatan dalam memantapkan kemampuan literasi peserta didik.

Baca juga: Pesantren Ramadan Digelar bagi Pelajar SD dan SMP di Pasaman Barat, Berlangsung Mulai 18 Maret

Sebagai upaya mencapai tujuan itu, saya melakukan beberapa kegiatan kepada siswa diantaranya :

1. Kegiatan membaca 10 menit sebelum pembelajaran dimulai.

Setelah kegiatan berdoa dan mengambil absen, selanjutnya peserta didik membaca buku teks bacaan ataupun buku pelajaran di bangku masing – masing selama 10 menit sebelum pelajaran dimulai. Buku yang dibaca boleh diambil di rak sudut baca kelas atau buku bacaan yang ada pada peserta didik.

2. Kegiatan membaca buku di sudut baca kelas.

Pada setiap kelas sudah disediakan rak buku dan sudut baca. Di dalam rak terdapat buku dengan berbagai bacaan teks fiksi dan para peserta didik membaca buku di waktu jam istirahat. Dalam waktu satu kali seminggu buku di sudut baca kelas ditukar sementara dengan buku yang ada di kelas. Kemudian peserta didik juga bisa bertukar membaca dengan teman – temannya.

Buku yang berisi teks fiksi adalah teks yang dibuat berdasarkan hayalan dan imajinasi pengarangnya. Contohnya : Cerpen, Fabel, Puisi, dan sebagainya. Sedangkan teks non fiksi adalah teks yang berdasarkan kejadian nyata, fakta, menyampaikan pengetahuan, menjelaskan argumen dan menjelaskan suatu topik tertentu. Contohnya : Buku pelajaran tumbuhan, hewan, ASEAN, dan lain sebagainya.

3. Kegiatan berkunjung ke Perpustakaan Sekolah

Peserta didik membaca buku di perpustakaan pada saat waktu senggang dan boleh meminjam buku di perpustakaan untuk dibawa pulang. Buku yang mau dipinjam dan dibawa pulang terlebih dahulu dicatat dulu oleh petugas perpustakaan yang berisikan data nama peminjam, kelas, hari/tanggal, judul buku, nama pengarang buku dan lamanya buku yang dipinjam untuk dibawa pulang adalah 3 hari. Setelah 3 hari buku dikembalikan lagi ke perpustakaan sekolah. Hal ini untuk mengantisipasi agar buku tidak rusak kalau lama – lama dirumah peserta didik.

4. Melatih peserta didik membuat sinopsis dari buku teks fiksi

Sinopsis adalah ringkasan cerita dari buku teks fiksi yang telah dibaca. Kemudian dibuat ringkasannya mulai dari apa judul buku,nama pengarangnya, jumlah halaman, dan lama peserta didik membaca satu buku. Kemudian membuat sinopsis pada kertas satu lembar dan selanjutnya sinopsisnya dibacakannya didepan kelas.

5. Melatih peserta didik membuat puisi

Puisi yang dibuat peserta didik temanya bebas, terserah peserta didik. Tema puisi tidak ditentukan oleh guru. Puisi tidak perlu panjang-panjang, cukup satu atau dua bait saja. Selanjutnya puisi yang telah dibuat dibacakan dihadapan teman-teman di depan kelas.

Baca juga: Ikhlas adalah Kunci Mendidik yang Berbuah Manis

6. Memajang hasil karya peserta didik di Majalah Dinding (Mading) kelas.

Karya yang dipajang bisa berbentuk puisi, sinopsis, seni rupa (gambar tumbuhan,hewan, peta, dan lain-lain), poster anti perundungan, anti intoleransi, dan anti kekerasan seksual (3 dosa pendidikan) yang sudah disosilisasikan oleh guru atau memajang hasil karya lain berbentuk dua dimensi.

7. Selalu menerapkan kesepakatan atau keyakinan kelas

Keyakinan kelas ini telah dibuat secara bersama, curah pendapat, dan diskusi kelas diawal tahun ajaran baru (bisa dirubah keyakinan kelas sesuai kesepakatan seluruh warga kelas) dan harus diterapkan setiap saat karena sudah disepakati secara bersama.

Disamping itu, dalam pembelajaran, penerapan penguatan literasi yang saya lakukan diantaranya adalah melakukan pembelajaran tentang pemantapan kemampuan literasi peserta didik dengan teks non fiksi dan mengisi teka-teki silang dengan materi peran Indonesia dalam ASEAN.

Sebelum mengisi teka-teki silang peserta didik terlebih dahulu membaca, mencermati dan memahami teks non fiksi peran Indonesia dalam ASEAN yang ditayangkan guru lewat proyektor infokus.

Siswa bekerja dalam kelompok, mengisi teka-teki silang sesuai materi yang telah dipaparkan guru. Dalam kelompok itu ada struktur organisasi seperti ketua, sekretaris, dan anggota.

Baca juga: Bijaksana Bermedia Sosial “Saring sebelum Sharing"

Guru menjelaskan fungsi masing – masing pengurus dalam kelompok. Sehingga saat bekerja kelompok atau diskusi peserta didik dilatih disiplin, jujur, bekerja sama, bertukar pendapat, menghargai pendapat teman lain yang berbeda pendapatnya dengan kita.

Alhasil, dari kegiatan itu terlihat peserta didik sangat bersemangat dan antusias mengisi teka-teki silang tersebut. Setelah selesai berdiskusi kelompok, perwakilan kelompok diminta untuk membacakan hasil diskusinya dan kelompok lain memberikan tanggapannya.

Setelah selesai mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, kita sebagai guru memberi reward untuk tiap kelompok sebagai bentuk apresiasi dan penyemangat siswa dalam belajar serta diakhiri dengan kegiatan diskusi kelas untuk menyimpulkan hasil diskusi kelompok.

Begitulah salah satu pembelajaran pemantapan kemampuan literasi yang kami lakukan dan terapkan pada peserta didik di kelas. Dimana kegiatan ini juga sudah saya jadikan Aksi Nyata di Pelatihan Mandiri pada Platform Merdeka Mengajar (PMM) dengan topik “Literasi Meningkatkan Kompetensi Murid” serta yang diberi judul “Aktifitas Penguatan Literasi Teks Fiksi dan Non Fiksi (Guru)”.

Dari aksi nyata yang ditelah dilakukan itu, saya sudah mendapat sertifikat dari Sekretariat Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK).

Baca juga: YBM - Srikandi PLN Goes To Campus Bagikan Beasiswa Peduli Pendidikan

Untuk kita ketahui, dalam memantapkan kemampuan literasi peserta didik dapat kita lakukan dengan berbagai cara. Sesuatu yang baik harus dijadikan sebagai kebiasaan, kegiatan itu tidak mudah, namun tidak ada kata sulit bagi kita yang mau berusaha dan mencari solusinya.

Literasi bukan hanya diterapkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia saja, akan tetapi literasi diterapkan di semua mata pelajaran. Mudah-mudahan usaha yang kita lakukan bisa meningkatkan literasi peserta didik.

Mewujudkan kemampuan literasi peserta didik butuh waktu dan penuh kesabaran. Peserta didik yang banyak, memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda serta latar belakang yang berbeda sudah menjadi tugas guru untuk membimbing dan melatih dengan memakai pendekatan yang bervariasi, seperti pendekatan psikologi bagi peserta didik yang lambat dalam membaca.

Sebab, tugas guru mencerdaskan generasi bangsa. Begitulah Literasi yang saya terapkan kepada siswa-siawi saya di kelas dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi guru-guru yang ada di seluruh pelosok negeri ini.(*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved