Kasus Bullying di Pariaman

Orang Tua Pelajar SD di Pariaman Bantah Anaknya Kena Bully, Sebut Hanya Bercanda 

Orang tua kandung pelajar SD yang diduga dibully di Pariaman membantah anaknya meminum air seni hingga ditelanjangi.

Penulis: Panji Rahmat | Editor: Rizka Desri Yusfita
istimewa
Beredar di media sosial dugaan perundungan siswa di sebuah sekolah dasar di Kota Pariaman, Rabu (27/9/2023). 

TRIBUNPADANG.COM, PARIAMAN - Orang tua kandung pelajar SD yang diduga dibully di Pariaman membantah anaknya meminum air seni hingga ditelanjangi.

Bantahan disampaikan orang tua pelajar SD tersebut setelah maraknya informasi atau pemberitaan mengenai kasus bullying terhadap anaknya.

Linda (30), mengatakan, permasalahan antara anaknya dan pelaku memang ada, hanya saja tidak bisa dikategorikan perundungan.

Permasalahan itu terjadi bulan lalu, saat anaknya yang duduk di kelas 1 SD hendak pulang sekolah.

Saat perjalanan pulang, anaknya ditawarkan minuman teh jus dalam bungkus plastik oleh pelaku.

"Jadi pelaku (kakak kelas-red) ini menyebut bahwa teh itu adalah air seninya dan menyuruh anak saya meminumnya," jelas Linda.

Baca juga: Kisah Rokhim Jadi Korban Bully dari Kecil karena Sang Ibu ODGJ dan Harus Tinggal di Panti Asuhan

Sewaktu kejadian anaknya tidak percaya, hanya saja temannya melapor ke Linda bahwa anaknya di suruh minum air seni pelaku.

"Kebetulan pelaku ini teman anak saya dekat rumah, jadi saya langsung tanya baik-baik, trus dia jelaskan bahwa hanya bercanda," ujar Linda.

Sehari setelah kejadian itu, anak Linda sakit dan tidak bisa masuk sekolah. Informasi dari siswa menyebut anaknya sakit karena meminum air kencing tersebut.

Mendengar informasi itu wali kelas membesuk anaknya, dari sana baru bertemu titik terang ternyata anaknya hanya demam biasa.

Linda juga meluruskan informasi yang beredar, bahwa pelaku tidak melakukan hal seperti anggapan siswa lain.

"Jadi, sampai sekarang anak saya dan pelaku selalu main bersama kok, keduanya malah pergi sekolah juga bersama," jelasnya.

Baca juga: Personel Polres Payakumbuh Diperiksa Propam Akibat Istrinya Bully Anak Atta Halilintar

Kondisi ini membuat Linda heran kenapa informasi jadi berubah di media sosial. Padahal faktanya tidak serupa itu.

Seingat Linda ia juga tidak pernah menceritakan hal serupa pada orang lain, termasuk pengunggah pertama informasi ini di media sosial (Facebook).

"Saya sangat kaget informasinya bisa berubah sampai seperti ini, padahal ini kejadian lama, sudah selesai dan keduanya akur kok sampai saat ini," ujarnya.

Informasi yang diberikan Linda , juga dibenarkan oleh Kabid Dikdas Disdikpora Suhaimi. Suhaimi menyebut bahwa informasi perundungan itu tidak sesuai fakta.

Pihaknya sudah melakukan peninjauan langsung ke sekolah, menemui orang tua korban, pelaku, kepala sekolah hingga wali kelas.

"Sudah kami pastikan, tidak ada kejadian serupa itu di sekolah dasar di Kota Pariaman," jelas Kabid.

Baca juga: SMK Semen Padang Deklarasikan Program Anti Perundungan dan Stop Kekerasan di Sekolah

Terpisah Ketua Aspila Azwar Anas saat dihubungi mengaku sudah menghapus postingannya di media sosial terkait kasus tersebut.

Ia mengaku kasus tersebut sudah diselesaikan oleh kedua belah pihak bersama pihak sekolah.

Ia tidak menyangkal kesalahan informasi yang ia terima dan bantahan bahwa ibunya tidak pernah memberi informasi padanya.

"Saya dapat informasi dari ibunya dan teman satu tempat berkerja dengannya," jelasnya, saat dihubungi. 

Sebelumnya, Asosiasi Peduli Piaman Laweh (Aspila) menerima laporan dugaan perundungan siswa di sebuah sekolah dasar di Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), Rabu (27/9/2023).

Ketua Aspila Azwar Anas, menyebutkan, laporan itu ia terima dari orang tua murid setelah anaknya mendapat perundungan dalam beberapa pekan belakang.

"Jadi, pelaku ini sudah berulang melakukan perundungan, caranya bermacam-macam," jelasnya.

Azwar Anas menyebut, perundingan mulai dari ejekan, fisik, bahkan si perundung pernah menyuruh korban untuk meminum air seni di dalam botol.

Serta, korban juga pernah ditelanjangi oleh pelaku yang duduk di bangku kelas 5 SD itu.

Menurut pengakuan orang tua korban, pelaku tidak satu orang, ada sekitar tiga orang.

Korbannya juga demikian jumlahnya, tidak hanya anaknya saja.

"Laporan korban ini kami tampung dulu, kami akan coba kordinasi dengan sekolah dan dinas terkait," jelas Anas.

Lebih lanjut, ia menerangkan masalah perundungan ini sempat diselesaikan oleh guru, hanya saja kembali terulang.

Anas menilai, pihak sekolah harus mengambil tindak cepat atas kasus ini, mengingat salah satu korban mengalami ketakutan dan masalah psikologis.

"Jadi, anak ini takut pergi sekolah bahkan tidak bisa makan hingga gemetaran setiap waktu," jelasnya.

Anas mengaku takut hal serupa bisa membuat calon penerus bangsa dari Kota Pariaman bisa putus sekolah jika dibiarkan. (*)

 
Sumber: Tribun Padang
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved