Kabupaten Solok
Kala Pestisida Mengancam Kesehatan Petani Bawang Merah di Solok
Bagi petani bawang merah di Nagari Sungai Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, pestisida adalah kebutuhan pokok selain beras.
Penulis: Nandito Putra | Editor: Rahmadi
Sore itu, Rabu (14/6/2023), Ari tengah menyemprotkan pestisida di ladang bawang milik mertuanya. Bau pestisida yang menyengat bahkan tercium hingga radius 100 meter dari lokasi Ari bekerja.
"Memang sering begitu, karena diterbangkan angin," katanya.
Saat menyemprotkan pestisida, Ari tidak pakai alat pelindung diri yang memadai. Mulutnya hanya ditutup kain buff tipis yang biasanya dipakai untuk penutup kepala.
Baca juga: Pemkab Solok Selatan Lepas, Keberangkatan 34 Orang Calon Jamaah Haji ke Tanah Suci
"Kalau masker yang tebal susah bernapas," katanya.
Ari mengatakan kakak iparnya saat ini mengidap sesak napas berkepanjangan karena sering terpapar pestisida.
"Sudah banyak petani yang sakit karena pestisida ini. Tapi petani tidak bisa menghindarinya karena sudah jadi kebutuhan dasar kalau mau bertanam bawang," ujarnya.
Kepala Puskesmas Alahan Panjang, Ns. Detrisnalianora, S.Kep, mengamini apa yang dialami Ari dan sejumlah petani lainnya.
Tidak hanya penyakit gangguan pernapasan, ia menjelaskan paparan pestisida terhadap manusia dan lingkungan juga menjadi pemicu kanker dan tumor.
Baca juga: Balada Rantai Distribusi Bawang Merah di Pasar Parayiah Solok
Ia mengatakan, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskeadas) Kementerian Kesehatan tahun 2018 mencatat Kabupaten Solok jadi daerah dengan angka pravelensi kanker tertinggi di Sumatera Barat.
Kata Destrina, nagari-nagari sentra bawang merah di Lembah Gumanti merupakan daerah dengan pasien penyakit kanker tertinggi di Kabupaten Solok.
"Tahun lalu kami mencatat ada 50-an kasus kanker di Lembah Gumanti. Kasus ini umumnya dialami petani yang sering terpapar pestisida," katanya kepada Tribunpadang.com, Kamis (15/6/2023).
Ia mengatakan Puskesmas Alahan Panjang yang punya cakupan wilayah kerja di Lembah Gumanti sudah sering berikan penyuluhan kepada petani.
Akan tetapi para petani sulit untuk menerapkan pola penggunaan pestisida yang aman, seperti menggunakan APD yang layak.
Baca juga: Balada Rantai Distribusi Bawang Merah di Pasar Parayiah Solok
Destrina bilang saat ini petani masih abai terhadap keselamatan mereka. Banyak petani yang bekerja di ladang tak pakai sarung tangan dan hanya mengenakan kaos oblong.
Seharusnya, kata Destrina, standar pakaian yang aman saat menyemprotkan pestisida yaitu pakai jubah hazmat, seperti petugas medis saat Covid-19.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Petani-sedang-menyemprotkan-pestisida-di-ladang-bawang-merah.jpg)