Kabupaten Solok

Kala Pestisida Mengancam Kesehatan Petani Bawang Merah di Solok

Bagi petani bawang merah di Nagari Sungai Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, pestisida adalah kebutuhan pokok selain beras.

Penulis: Nandito Putra | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Nandito Putra
Petani sedang menyemprotkan pestisida di ladang bawang merah di Jorong Rimbo Data, Nagari Sungai Nanam, Kabupaten Solok, Kamis (14/6/2023). 

TRIBUNPADANG.COM, SOLOK - Bagi petani bawang merah di Nagari Sungai Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, pestisida adalah kebutuhan pokok selain beras.

"Sudah jadi kebutuhan pokok petani, kalau tidak pakai racun, sudah dijamin pasti tidak akan mendapat kita," kata salah seorang petani bawang merah, Zulkifli (53), Rabu (14/6/2023).

Penggunaan pestisida di kalangan petani bawang sangat masif. Saat kondisi cuaca lembab, kata Zulkifli, dalam seminggu petani bisa menyebarkan pestisida sebanyak tiga hingga empat kali.

"Ketika cuaca sering hujan dan kabut, itu penyakit bagi bawang. Kalau tidak diracun, daunnya akan kuning karena dimakan ulat," katanya.

Zulkifli mengatakan pestisida adalah komponen yang harganya paling mahal dalam pertanian bawang merah setelah pupuk.

Baca juga: Menteri Pertanian Dorong Kabupaten Solok jadi Sentra Bawang Merah di Luar Jawa

Ia mengatakan petani menghabiskan setengah modal hanya untuk beli ragam jenis pestisida.

Racun tersebut dinilai ampuh dan memberikan hasil yang cepat.

Di Nagari Sungai Nanam, mayoritas warga menggarap ladang bawang. Zulfkifli bilang sejak tahun 2012 banyak petani yang beralih ke bawang merah.

Markisah yang sempat jadi komoditi andalan daerah Sungai Nanam dan Alahan Panjang, kini telah tergantikan.

Setengah produksi bawang merah di Solok dihasilkan di daerah ini. Ladang bawang terhampar dimana pun mata memandang, bahkan ada warga yang tanam bawang di halaman rumah.

Luas panen bawang merah di kecamatan ini pada tahun 2022, menurut data BPS, mencapai 6.303 hektar atau setengah dari luas panen yang ada di Kabupaten Solok seluas 11.875 hektar.

Baca juga: Sedekah Bumi ke-78, Wujud Pluralisme, dan Berkah Pertanian di Solok Selatan

Petani bawang bernama Ari saat menyemprotkan pestisida di ladang bawang merah di Jorong Rimbo Data, Nagari Sungai Nanam, Kabupaten Solok, Kamis (14/6/2023). Paparan pestisida terhadap manusia dan lingkungan dinilai berbahaya karena menjadi pemicu kanker dan tumor.
Petani bawang bernama Ari saat menyemprotkan pestisida di ladang bawang merah di Jorong Rimbo Data, Nagari Sungai Nanam, Kabupaten Solok, Kamis (14/6/2023). Paparan pestisida terhadap manusia dan lingkungan dinilai berbahaya karena menjadi pemicu kanker dan tumor. (TribunPadang.com/Nandito Putra)

 

Ancaman Pestisida

Ari (32) sudah sering mual-mual dan pusing sehabis menyemprotkan pestisida.

"Dampaknya setelah ini kadang-kadang pusing dan mata perih. Untuk antisipasi, saya selalu minum susu bear brand atau kental manis," katanya.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved