Nilai Ekspor Manggis Sumbar di 2022 Menurun Dibanding Tahun Lalu, Ekspor Hanya ke Negara China

Nilai ekspor buah manggis dari daerah Sumatera Barat (Sumbar) tercatat menurun pada 2022 dibandingkan 2021. Kepala Balai Karantina Pertanian Padang

Penulis: Rahmadi | Editor: Mona Triana
ISTIMEWA
Suasana saat proses pengecekan Buah Manggis oleh petugas yang akan di ekspor dari Sumbar ke luar negeri. 

Laporan Reporter TribunPadang.com, Rahmadi

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Nilai ekspor buah manggis dari daerah Sumatera Barat (Sumbar) tercatat menurun pada 2022 dibandingkan 2021.

Kepala Balai Karantina Pertanian Padang, Iswan Haryanto mengatakan hingga Agustus 2022 pihaknya mencatat ada sekitar 1,3 juta kilogram ekspor manggis dari Sumbar.

Sementara pada tahun 2021 tercatat ekspor manggis Sumbar sekitar 4,5 juta kilogram atau senilai Rp 132 miliar.

Baca juga: Sempat Setop Sementara akibat PMK, Ekspor Rendang Sumbar Kembali Diizinkan

"Jumlah tersebut senilai Rp 62 miliar sampai Agustus tahun ini, ini menurun, tetapi kami berharap jumlah ini bertambah terus hingga akhir 2022," katanya saat jumpa pers di Padang, Jumat (30/9/2022).

Pada tahun 2021 ada tiga negara tujuan ekspor yaitu China, Perancis, dan Inggris. 

Sementara pada tahun 2022 hanya ke negara China saja.

Dia mengatakan penurunan terjadinya akibat berkurangnya perusahaan Packing House (PH) di Sumbar.

"Sebelumnya ada lima PH, namun sekarang hanya ada satu PH yang masih berkegiatan," ujarnya.

Alasan lain karena ada PH yang lagi ajukan perpanjang izin, sebab masa izinnya sudah habis.

Perusahaan ini harus menunggu sampai mendapatkan izin resmi dari pihak negara China sebagai tujuan ekspor.

Baca juga: Penerbangan Internasional di BIM Dibuka, Iswan Haryanto: Bakal Naikkan Nilai Ekspor Pertanian Sumbar

"Masa berlaku mereka ini sudah habis, mereka lagi ajukan perpanjangan dan sedang dalam proses, selama perpanjangan tidak boleh beroperasi," katanya.

Kemudian ada juga perusahaan yang memindahkan manajemen ke daerah lain, sehingga tidak tercatat lagi sebagai ekspor dari Sumbar.

Lalu ada juga perusahaan PH yang mengundurkan diri, karena tidak bisa memenuhi persyaratan yang diminta negara tujuan.

"Sebelumnya diizinkan, kemudian China mengajukan persyaratan, tentu untuk melindungi masyarakatnya, kemudian PH tidak mampu memenuhi persyaratan itu sehingga mengundurkan diri," katanya.

Sebelumnya penerbangan internasional yang ditutup akibat pandemi juga menyulitkan kegiatan ekspor Sumbar.

Diharapkan, dibukanya kembali penerbangan internasional bisa meningkatkan ekspor produk pertanian dari Sumbar.

"Ekspor ini kita tidak ada target, tetapi kalau bisa sebanyak-banyaknya," katanya. (*)
 

 

Sumber: Tribun Padang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved