Citizen Journalism

Napak Tilas Bagindo Aziz Chan: Menguak Tabir Atas Gugurnya, Seorang Pejuang Bangsa di Kota Padang

INTENSITAS pertempuran sporadis di Kota Padang semakin tinggi, utamanya masa agresi Belanda pertama Tahun 1947 silam.

Editor: Emil Mahmud
TribunPadang.com/Rima Kurniati
Patung Bagindo Aziz Chan di Museum Aditywarman Kota Padang. Sekilas sejarah pertempuran sporadis di Kota Padang semakin tinggi hingga 19 Juli 1947, terjadilah peristiwa tragis di sana. 

Oleh: Marshalleh Adaz *)

INTENSITAS pertempuran sporadis di Kota Padang semakin tinggi, utamanya masa agresi militer Belanda pertama pada Tahun 1947 silam.

Sekaitan itu, ada peristiwa bersejarah tentang Bagindo Aziz Chan, Wali Kota Padang yang gugur pada masa suasana gejolak perang tersebut. 

Setiap tempat dan daerah di kota ini selalu diwarnai dengan letupan penyerangan para pejuang yang senantiasa selalu menganggu pasukan Belanda dengan sekutunya.

Setiap Belanda maupun pihak Sekutu akan memproses secara hukum mereka, maka Bagindo Aziz Chan disinyalirnya relatif kerap yang menjadi penghalang.

Surat yang dilayangkan pun tdk memuaskan kehendak mereka. Belanda harus mengulang kembali sifat pendahulunya, yaitu menggunakan segala cara untuk mencapai suatu tujuan.

Peristiwa pada 23 Agustus 1946, saat baru saja jadi wali kota, dimana ia melabrak markas Belanda yang menangkapi masyarakat di Gunung Pangilun setelah mereka diserang secara bergerilya.

Baca juga: Momentum Gugurnya Bagindo Aziz Chan Diperingati, Wali Kota Mahyeldi Pimpin Upacara Secara Virtual

Masyarakat yang dikumpulkan di Lapangan Dipo, Padang Pasir dan Muaro akhirnya dibebaskan Belanda, berkat keteguhan dan keberanian menghadapi dialog politik Sekutu yang licik.

Rentetan sepak terjang Bagindo Aziz Chan semakin meresahkan pihak Sekutu. Oleh karena itu, satu-satunya jalan adalah melalui provokasi.

Yakni, memancing jiwa pemimpin pejuang ini bahwa di Simpang Kandih sedang terjadi pertempuran.

Bagindo Azizchan yang semulanya akan ke Bukittinggi menyampaikan langsung keadaan Kota Padang pada Residen Sumatera Barat.

Lantaran, merasa yakin bahwa di Simpang Kandih itu memang sedang terjadi aksi yang harus dia sendiri agar bisa menanganinya.

Di sinilah akhir perjalanan Bagindo Aziz Chan, sebuah pukulan benda berat di kepalanya sehingga mengalami cedera berat.

Guna menutupi hal tersebut, diduga pasukan Belanda menembaki jarak dekat atau persis di tempat pukulan itu. Diketahui, empat dokter yang melakukan visum untuk menyatakan Bagindo Azizchan meninggal bukan karena ditembak.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved