Opini

Wisata Instagramable, Meninggalkan Pengalaman Mengesankan atau Cuma Setor Konten Medsos ?

Media sosial (khususnya Instagram) menjadi sebuah wadah penyampaian informasi di ranah digital yang sedang digandrungi oleh masyarakat.

Tayang:
Editor: Mona Triana
istimewa
Mishbah El Yaser, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Andalas 

Ada juga ditemukan sebuah spot foto di suatu destinasi wisata yang cukup ‘menarik’ pandangan mata, dimana pada spot foto itu ada seperti frame atau gapura berbentuk simbol love dan dibalut dengan umbul-umbul atau asesoris dengan warna yang bentrok dengan warna alami dari destinasi wisata tersebut. Sekiranya temuan-temuan tersebut masih menjadi perdebatan apakah wisata nan instagramable itu definisinya seperti demikian.

Pernyataan pro dan kontra mengenai konsep wisata instagramable terus mengemuka ke permukaan. Bagi mereka yang pro dengan konsep wisata instagramble, mereka beralasan dengan konsep tersebut, perekonomian masyarakat setempat dapat meningkat. Saya berada pada pandangan kontra terhadap konsep wisata instagramable yang terlihat pada hari ini. Saya memandang konsep wisata instagramable yang tampak pada hari ini menimbulkan dua akibat, yang pertama, konsep wisata instagramable yang tampak saat ini tidak akan meninggalkan kesan pengalaman yang baik bagi para wisatawan. Saya melihat bahwa setiap destinasi wisata memberikan kesan pengalaman yang sangat positif bagi para pelancong wisata. Tiap-tiap destinasi wisata memberikan kesan pengalaman yang berbeda-beda kepada penunjung wisata.

Pengalaman tersebut bisa saja berupa bagaimana perjalanan pelancong menuju destinasi wisata, bagaimana pelayanan yang didapatkan pelancong dari warga setempat, kemudian keramahan warga setempat terhadap kedatangan pelancong wisata, hingga bagaimana warga setempat mampu menjaga aset wisata mereka.

Tentunya apabila masyarakat suatu destinasi wisata tidak mampu melihat dan memperhatikan hal ini, saya menaruh keyakinan bahwa pengunjung wisata yang mengunjungi destinasi wisata instagramable tidak mendapatkan pengalaman yang memuaskan. Karena tidak mendapatkan pengalaman mengesankan, pelancong wisata seakan-akan hanya mendapatkan konten di Instagram saja, sehingga ada kemungkinan tidak muncul keinginan pelancong untuk datang Kembali atau bahkan tidak merekomendasikan destinasi wisata yang ia kunjungi kepada orang lain.

Kedua, wisata instagramable yang identik dengan kemunculan berbagai landmark ikonik mancanegara di negeri sendiri menandakan bahwa suatu destinasi wisata yang menjadi tujuan para wisatawan tercederai oleh berbagai ‘gimmick’ penghias konten di Instagram. Saya memandang bahwa wisata alam di Indonesia (khususnya Sumatera Barat) memiliki potensi yang luar biasa. Keindahan alam Sumatera Barat sering mendapat pujian dari wisatawan baik domestik maupun internasional.

Baca juga: Masjid Batu di Kawasan Universitas Andalas Limau Manis, Jadi Destinasi Wisata Masyarakat Setempat

Indahnya Kawasan Lembah Harau dengan tebing yang tinggi menjulang memang layak untuk didokumentasikan oleh wisatawan, dan keindahan tersebut tidak akan sama dengan wisata alam lain di luar Sumatera Barat. Akan tetapi, jika sebagian kawasan tersebut dihadirkan sebuah destinasi landmark ikonik dari negara-negara tetangga kemudian ditampilkan dengan warna-warna yang terkesan menabrak warna alam dari kawasan Lembah Harau menimbulkan kesan yang aneh bagi wisatawan, plus menjadi kurang nyaman jika destinasi wisata tersebut menghadirkan warna-warna mencolok dan tidak sedap dipandang.

Wisata instagramable dengan membangun panggung-panggung berswafoto lengkap dengan asesoris yang ‘ramai’ juga turut menjadi perhatian. Hampir semua destinasi wisata di Sumatera Barat turut menghadirkan sebuah spot khusus untuk berswafoto, kemudian spot tersebut dihiasi dengan pernak-pernik yang terkesan ramai, font-font huruf yang disusun membentuk nama destinasi wisata. Oleh sebagian orang, konsep wisata ini memang dianggap instagramable, akan tetapi tidak sedikit yang memberikan komentar tidak menariknya konsep wisata tersebut.

Kawasan Wisata Mandeh di Pesisir Selatan dan Kawasan Ngarai Sianok di Bukittinggi adalah dua diantara banyak wisata alam di Sumatera Barat yang ternyata di sebagian wilayahnya dibangunkan spot-spot swafoto dan dihiasi oleh pernak-pernik yang dianggap ‘dapat mempercantik konten’ di Instagram. Oleh orang awam, memang adanya spot-spot berfoto ria dianggap wajar dan tidak menjadi persoalan asal hal tersebut dapat memenuhi konten mereka di media sosial Instagram. Namun bagi orang-orang yang sadar akan estetika keindahan, atau orang-orang wisata yang paham betul mengambil foto atau video dokumentasinya, mereka akan beranggapan bahwa tidak ada menariknya didirikannya spot-spot foto yang dibangun panggung-panggung kayu yang diberi pernak-pernik berwarna ‘kontras’ nan menabrak pandangan mata sehingga bagi mereka, hal tersebut cukup mengganggu dalam frame pengambilan foto atau video.

Terlepas adanya pro kontra tersebut, sejatinya destinasi wisata alam menampilkan keindahan natural sebuah lanskap alam suatu daerah yang dinikmati oleh para wisatawan secara inklusif. Bagi para wisatawan maupun masyarakat daerah, setiap orang memiliki pandangan masing-masing yang tentunya berbeda-beda mengenai apa itu wisata instagramable. Saya melihat cara-cara ini merupakan upaya masyarakat suatu daerah wisata untuk mengeluarkan potensi wisatanya dan mendorong agar perekonomian semakin maju, namun cara mewujudkan wisata instagramable seperti yang dijelaskan sebelumnya tidak akan bertahan lama.

Baca juga: DPRD Kota Pariaman Dukung Pemko Dirikan Posko Vaksinasi di Lokasi Wisata

Pengunjung wisata hanya mau datang ke tujuan wisata tersebut sebatas memenuhi konten di Instagram. Dengan konsep wisata instagramable yang demikian, para wisatawan cenderung akan menganggap sama saja dengan satu destinasi wisata baru yang akan menjadi tujuan wisatanya ke depannya. Kalau wisatawan sudah pernah datang ke Kawasan Wisata Little Venice atau Kawasan Wisata Devoyage di Bogor, atau Kawasan Wisata Great Asia Africa di Lembang, Bandung, maka mereka cenderung tidak akan tertarik datang ke Kawasan kampung Eropa yang berada di daerah Lembah Harau, Payakumbuh, karena konsep wisata yang ditonjolkan cenderung sama.

Pada akhirnya, wisata nan instagramable merupakan penilaian subjektif oleh setiap orang. Khusus pada destinasi wisata alam, setiap orang mempunyai sudut pandang bagaimana suatu destinasi wisata alam dinilai sangat indah, cantik, dan layak untuk dimuat di media sosial Instagram. Masyarakat suatu daerah yang sadar akan potensi wisata daerahnya berupaya mengelola asset tersebut dengan maksimal sehingga hasil yang diharapkan akan berbanding lurus dengan semakin diliriknya destinasi wisata di mata para pelancong.

Peran pemerintah (baik provinsi maupun kabupaten/kota) juga turut dilibatkan. Sekiranya pemerintah daerah berperan membantu masyarakat daerah untuk mengeluarkan potensi wisata secara maksimal, bisa berupa mengenalkan konsep wisata baru yang sesuai dengan karakteristik daerah wisata itu sendiri. Kemudian bersama masyarakat menjaga dan mengelola potensi wisata daerah, membantu promosi wisata hingga tingkat nasional bahkan internasional sehingga pelancong wisata yang datang secara kuantitatif semakin meningkat dan mendatangkan pendapatan untuk daerah itu sendiri. (*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
VS
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
VS
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved