Opini

Wisata Instagramable, Meninggalkan Pengalaman Mengesankan atau Cuma Setor Konten Medsos ?

Media sosial (khususnya Instagram) menjadi sebuah wadah penyampaian informasi di ranah digital yang sedang digandrungi oleh masyarakat.

Tayang:
Editor: Mona Triana
istimewa
Mishbah El Yaser, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Andalas 

Oleh : Mishbah El Yaser

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Andalas

Media sosial (khususnya Instagram) menjadi sebuah wadah penyampaian informasi di ranah digital yang sedang digandrungi oleh masyarakat.

Berbagai unggahan pengguna berupa foto-foto dan video ditampilkan dalam bentuk unggahan feed Instagram atau Instagram stories, sehingga konten yang diunggah dapat dilihat oleh pengguna Instagram lainnya.

Semua konten di Instagram dapat kita nikmati, yaitu bisa berupa informasi berita, konten guyonan, dokumentasi, pencapaian si pengguna, bahkan konten dokumentasi pariwisata pun juga bisa diunggah melalui Instagram.

Baca juga: Opini: Alumni Kuat Perguruan Tinggi Hebat

Kita tentu tidak menolak pernyataan bahwa pariwisata di berbagai daerah semakin dikenal karena unggahan melalui Instagram. Seorang traveler yang menjelajahi suatu destinasi wisata tidak akan melewatkan momen perjalanan wisatanya tanpa mendokumentasikan perjalanannya (dalam bentuk foto maupun video) dan mengunggahnya melalui media sosial, khususnya Instagram.

Suatu destinasi wisata yang sebelumnya belum banyak atau tidak pernah terekspos akan semakin terekspos oleh masyarakat karena unggahan seseorang yang diunggah ke akun Instagram. Jika Bali, Danau Toba, Gunung Bromo, dan Candi Borobudur adalah destinasi wisata yang telah dulu terkenal sebelum adanya Instagram, maka karena Instagramlah kita bisa tahu bahwa ada daerah-daerah lain yang memiliki potensi wisata keindahan alam yang tidak kalah bagusnya dengan daerah-daerah wisata seperti Bali, Kawasan Gunung Bromo, Danau Toba, Candi Borobudur, dan lainnya.

Kita tidak ragu akan potensi wisata yang dimiliki bangsa Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke, keindahan alam seperti air terjun, pantai, danau, lanskap pegunungan, dan potensi wisata non-alam pun ada di Indonesia. Jika kita kecilkan sekop cakupan wisatanya, maka mari kita lihat potensi wisata di Sumatera Barat. Provinsi yang beribukota Padang ini memiliki banyak potensi wisata, baik wisata alam maupun non alam.

Baca juga: Peran Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan Dalam Komunikasi Pembangunan

Pada bagian wisata alam, Sumatera Barat hampir memiliki semuanya, pantai, danau, air terjun, dataran tinggi, hingga lanskap geopark ada di Sumatera Barat. Di bagian wisata non alam pun, Sumatera Barat tentu sudah memilikinya, siapa yang tidak kenal dengan Museum Adityawarman di Padang, atau Kawasan Lobang Jepang, Rumah Kediaman Bapak Mohammad Hatta, dan Benteng Fork de Kock di Bukittinggi, Istano Rajo Pagaruyuang di Kabupaten Tanah Datar, Kawasan Museum Tambang Ombilin di Sawahlunto, atau bahkan wisata penangkaran penyu di Pariaman.

Seorang pelancong wisata yang kini melek akan penggunaan Instagram bisa dipastikan tidak akan mau melewatkan momentum mengunjungi destinasi wisata tanpa mendokumentasikan keunikan destinasi wisata dan mengunggahnya ke akun Instagramnya.

Menurut mereka, keunikan, kekhasan, dan pengalaman berbeda yang didapatkan seseorang ketika mengunjungi suatu destinasi wisata merupakan pertimbangan yang layak dipublis, layak untuk dipotret dan diunggah ke akun Instagram, dengan demikian, publik atau followers Instagram bisa mengetahui, bisa kenal, dan muncul ketertarikan untuk mengeksplor destinasi wisata tersebut. Maka berdasarkan pernyataan tersebut, kini kita mengenal istilah wisata Instagramable.

Baca juga: Menikmati Destinasi Wisata Talao Pauh Water Front City, Telaga di Tepi Pantai Pariaman

Sebenarnya apa itu Instagramable ? Istilah itu terdiri atas dua kata, yaitu Instagram, dan able. Instagram yaitu media sosial wadah seseorang berbagi foto dan video, sedangkan able artinya dapat, pantas, atau layak. Jadi istilah Instagramable merujuk pada kata sifat yang menandakan suatu objek foto atau video yang dinilai pantas, layak, unik, dan bisa diunggah di media sosial Instagram. Kita mengenal istilah Instagramable merujuk pada suatu tempat atau objek yang memiliki keunikan, kekinian, terkenal sehingga layak diabadikan dan dibagikan di media sosial Instagram. Itulah kiranya saat ini banyak daerah-daerah destinasi wisata berupaya berbenah diri agar terlihat Instagramable bagi para pengunjung wisata.

Suatu daerah yang memiliki potensi wisata (khususnya wisata alam) mestinya memang perlu dikembangkan dan dijaga agar mampu memunculkan rasa kepuasan hingga kesan yang sangat baik dari para wisatawan terhadap destinasi wisata tersebut.

Menjadikan destinasi wisata sebagai spot-spot yang Instagramable juga adalah upaya mengembangkan dan menjaga potensi wisata suatu daerah.

Bagi daerah yang memiliki potensi wisata alam, masyarakat pada kawasan potensi wisata itu mestinya benar-benar menyadari bahwa yang potensi wisata yang dimiliki adalah keindahan alam itu sendiri.

Kawasan wisata Mandeh di Pesisir Selatan memiliki keindahan alam yang berbeda dengan kawasan pantai Air Manis di Kota Padang. Alam Danau Maninjau tentu memiliki keindahan alam yang khas dan berbeda dengan alam Danau Singkarak maupun Danau Diateh dan Dibawah.

Baca juga: Menyelisik Kopi Buk Nur Aia Dingin Kabupaten Solok, Ketenangan Hidup Ada di Kopi

Bisa kita simpulkan, potensi wisata alam yang menawarkan kecantikan alam adalah nilai Instagramable yang harus didapatkan oleh para wisatawan sehingga memunculkan ketertarikan wisatawan untuk mengunjungi daerah wisata tersebut.

Namun, konsep instagramable ditangkap berbeda oleh masyarakat di kawasan destinasi wisata. Berdasarkan pengamatan dan riset penulis, ditemukan bahwa wisata yang instagramable itu ialah wisata kalibiru dan wisata landmark luar negeri.

Wisata kalibiru bisa dikatakan sebagai suatu daerah wisata dengan tampilan spot foto berupa panggung kayu berlatarbelakang alam, dan dihiasi oleh pernak-pernik berwarna. Sementara itu, wisata landmark itu adalah wisata yang mengusung budaya dan landmark ikonik mancanegara di dalam negeri.

Kedua tipe wisata tersebut pada intinya memiliki kesamaan, yaitu destinasi wisata yang berupaya menarik minat pelancong wisata dengan menyediakan spot-spot untuk berfoto selfie. Jangankan Indonesia, kita pun dapat dengan mudah menemukan sejumlah destinasi wisata di Sumatera Barat dengan mengedepankan tema wisata kalibiru maupun wisata landmark.

Fenomena wisata instgramable menjadi sebuah perdebatan di tengah-tengah masyarakat. Ada yang pro, ada juga yang kontra dengan fenomena wisata instagramable.

Menjadikan suatu destinasi wisata alam sebagai destinasi tujuan wisata yang instagramable sekiranya sah-sah saja, jika masyarakat suatu daerah menyadari betul apa yang menjadi potensi wisata di daerahnya masing-masing.

Daerah yang potensi wisata alam seperti pantai tentu memiliki keindahan alam yang berbeda dengan daerah potensi wisata seperti pegunungan, air terjun, dataran tinggi, kawasan danau, dan sebagainya. Para wisatawan akan merasa tertarik mengunjungi destinasi wisata karena penasaran akan keindahan alam dari tujuan destinasi tersebut.

Oleh karena itu, kepada masyarakat, penting sekiranya untuk tahu betul bagaimana mengemas potensi wisata daerahnya menjadi destinasi wisata yang semakin dikenal dan mampu menarik minat dan memberikan pengalaman mengesankan kepada wisatawan.

Tidak cukup sebatas teori saja, tetapi kita perlu menyinggung bagaimana realitas dari fenomena wisata instagramable, khususnya di Sumatera Barat. Kita bisa melihat bagaimana indahnya alam yang terbentang di kawasan Lembah Harau yang berada di Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota.

Keindahan Lembah Harau terlihat dari bentangan alam nan hijau yang diapit oleh dua tebing yang begitu tinggi, dan semakin cantik dengan adanya air terjun. Keindahan ini menjadi potensi yang luar biasa yang dimiliki oleh kawasan Lembah Harau. Namun di sebagian kawasan Lembah Harau, ada satu destinasi yang dinamakan sebagai Kampung Eropa Lembah Harau.

Kehadiran miniatur Eropa di sebagian kawasan Lembah Harau menuai banyak komentar oleh kalangan masyarakat. Ada sebagian yang menyukai konsep wisata instagramable di Lembah Harau ini, dan ada juga yang kontra dengan konsep ini. Mereka yang menyukai konsep wisata instagramable seperti itu karena mereka merasa tidak perlu jauh-jauh lagi pergi ke luar negeri jikalau sudah bisa berfoto di miniatur menara Eifel ala-ala Perancis, atau miniatur Big Bang ala-ala Inggris, atau berfoto naik sampan ala-ala Venice di Italia.

Akan tetapi, bagi mereka yang tidak menyukai konsep wisata ini, mereka beralasan bahwa konsep wisata dengan menampilkan landmark ikonik negara luar negeri di dalam negeri seperti tidak percaya diri dengan potensi, kekhasan, keunikan, dan identitas wisata daerah sendiri. Wisata domestik sejatinya mempromosikan keunikan, kekhasan, dan potensi destinasi wisata sendiri kepada publik sehingga dengan demikian, para pelancong wisata pun merasa berminat, tertarik, hingga mempersiapkan perjalanan ke tujuan destinasi tersebut.

Baca juga: Serunya Berkunjung ke Desa Wisata Tungkal Selatan Kota Pariaman, Sajikan Beragam Wahana

Selain menganggap wisata instagramable dengan menampilkan sejumlah landmark ikonik mancanegara, temuan penulis juga menyatakan bahwa destinasi wisata yang instagramable juga identik dengan banyak pernak-pernik spot-spot berfoto selfie.

Pernak-pernik tersebut berupa panggung kayu di atas pohon, atau sebuah frame (bingkai) seperti gapura yang dihiasi berbagai hiasan dan berwarna-warni, terkadang warna yang dimunculkan terkesan ramai, bahkan bertabrakan dengan warna-warna di lokasi wisata alam tersebut.

Ada juga ditemukan sebuah spot foto di suatu destinasi wisata yang cukup ‘menarik’ pandangan mata, dimana pada spot foto itu ada seperti frame atau gapura berbentuk simbol love dan dibalut dengan umbul-umbul atau asesoris dengan warna yang bentrok dengan warna alami dari destinasi wisata tersebut. Sekiranya temuan-temuan tersebut masih menjadi perdebatan apakah wisata nan instagramable itu definisinya seperti demikian.

Pernyataan pro dan kontra mengenai konsep wisata instagramable terus mengemuka ke permukaan. Bagi mereka yang pro dengan konsep wisata instagramble, mereka beralasan dengan konsep tersebut, perekonomian masyarakat setempat dapat meningkat. Saya berada pada pandangan kontra terhadap konsep wisata instagramable yang terlihat pada hari ini. Saya memandang konsep wisata instagramable yang tampak pada hari ini menimbulkan dua akibat, yang pertama, konsep wisata instagramable yang tampak saat ini tidak akan meninggalkan kesan pengalaman yang baik bagi para wisatawan. Saya melihat bahwa setiap destinasi wisata memberikan kesan pengalaman yang sangat positif bagi para pelancong wisata. Tiap-tiap destinasi wisata memberikan kesan pengalaman yang berbeda-beda kepada penunjung wisata.

Pengalaman tersebut bisa saja berupa bagaimana perjalanan pelancong menuju destinasi wisata, bagaimana pelayanan yang didapatkan pelancong dari warga setempat, kemudian keramahan warga setempat terhadap kedatangan pelancong wisata, hingga bagaimana warga setempat mampu menjaga aset wisata mereka.

Tentunya apabila masyarakat suatu destinasi wisata tidak mampu melihat dan memperhatikan hal ini, saya menaruh keyakinan bahwa pengunjung wisata yang mengunjungi destinasi wisata instagramable tidak mendapatkan pengalaman yang memuaskan. Karena tidak mendapatkan pengalaman mengesankan, pelancong wisata seakan-akan hanya mendapatkan konten di Instagram saja, sehingga ada kemungkinan tidak muncul keinginan pelancong untuk datang Kembali atau bahkan tidak merekomendasikan destinasi wisata yang ia kunjungi kepada orang lain.

Kedua, wisata instagramable yang identik dengan kemunculan berbagai landmark ikonik mancanegara di negeri sendiri menandakan bahwa suatu destinasi wisata yang menjadi tujuan para wisatawan tercederai oleh berbagai ‘gimmick’ penghias konten di Instagram. Saya memandang bahwa wisata alam di Indonesia (khususnya Sumatera Barat) memiliki potensi yang luar biasa. Keindahan alam Sumatera Barat sering mendapat pujian dari wisatawan baik domestik maupun internasional.

Baca juga: Masjid Batu di Kawasan Universitas Andalas Limau Manis, Jadi Destinasi Wisata Masyarakat Setempat

Indahnya Kawasan Lembah Harau dengan tebing yang tinggi menjulang memang layak untuk didokumentasikan oleh wisatawan, dan keindahan tersebut tidak akan sama dengan wisata alam lain di luar Sumatera Barat. Akan tetapi, jika sebagian kawasan tersebut dihadirkan sebuah destinasi landmark ikonik dari negara-negara tetangga kemudian ditampilkan dengan warna-warna yang terkesan menabrak warna alam dari kawasan Lembah Harau menimbulkan kesan yang aneh bagi wisatawan, plus menjadi kurang nyaman jika destinasi wisata tersebut menghadirkan warna-warna mencolok dan tidak sedap dipandang.

Wisata instagramable dengan membangun panggung-panggung berswafoto lengkap dengan asesoris yang ‘ramai’ juga turut menjadi perhatian. Hampir semua destinasi wisata di Sumatera Barat turut menghadirkan sebuah spot khusus untuk berswafoto, kemudian spot tersebut dihiasi dengan pernak-pernik yang terkesan ramai, font-font huruf yang disusun membentuk nama destinasi wisata. Oleh sebagian orang, konsep wisata ini memang dianggap instagramable, akan tetapi tidak sedikit yang memberikan komentar tidak menariknya konsep wisata tersebut.

Kawasan Wisata Mandeh di Pesisir Selatan dan Kawasan Ngarai Sianok di Bukittinggi adalah dua diantara banyak wisata alam di Sumatera Barat yang ternyata di sebagian wilayahnya dibangunkan spot-spot swafoto dan dihiasi oleh pernak-pernik yang dianggap ‘dapat mempercantik konten’ di Instagram. Oleh orang awam, memang adanya spot-spot berfoto ria dianggap wajar dan tidak menjadi persoalan asal hal tersebut dapat memenuhi konten mereka di media sosial Instagram. Namun bagi orang-orang yang sadar akan estetika keindahan, atau orang-orang wisata yang paham betul mengambil foto atau video dokumentasinya, mereka akan beranggapan bahwa tidak ada menariknya didirikannya spot-spot foto yang dibangun panggung-panggung kayu yang diberi pernak-pernik berwarna ‘kontras’ nan menabrak pandangan mata sehingga bagi mereka, hal tersebut cukup mengganggu dalam frame pengambilan foto atau video.

Terlepas adanya pro kontra tersebut, sejatinya destinasi wisata alam menampilkan keindahan natural sebuah lanskap alam suatu daerah yang dinikmati oleh para wisatawan secara inklusif. Bagi para wisatawan maupun masyarakat daerah, setiap orang memiliki pandangan masing-masing yang tentunya berbeda-beda mengenai apa itu wisata instagramable. Saya melihat cara-cara ini merupakan upaya masyarakat suatu daerah wisata untuk mengeluarkan potensi wisatanya dan mendorong agar perekonomian semakin maju, namun cara mewujudkan wisata instagramable seperti yang dijelaskan sebelumnya tidak akan bertahan lama.

Baca juga: DPRD Kota Pariaman Dukung Pemko Dirikan Posko Vaksinasi di Lokasi Wisata

Pengunjung wisata hanya mau datang ke tujuan wisata tersebut sebatas memenuhi konten di Instagram. Dengan konsep wisata instagramable yang demikian, para wisatawan cenderung akan menganggap sama saja dengan satu destinasi wisata baru yang akan menjadi tujuan wisatanya ke depannya. Kalau wisatawan sudah pernah datang ke Kawasan Wisata Little Venice atau Kawasan Wisata Devoyage di Bogor, atau Kawasan Wisata Great Asia Africa di Lembang, Bandung, maka mereka cenderung tidak akan tertarik datang ke Kawasan kampung Eropa yang berada di daerah Lembah Harau, Payakumbuh, karena konsep wisata yang ditonjolkan cenderung sama.

Pada akhirnya, wisata nan instagramable merupakan penilaian subjektif oleh setiap orang. Khusus pada destinasi wisata alam, setiap orang mempunyai sudut pandang bagaimana suatu destinasi wisata alam dinilai sangat indah, cantik, dan layak untuk dimuat di media sosial Instagram. Masyarakat suatu daerah yang sadar akan potensi wisata daerahnya berupaya mengelola asset tersebut dengan maksimal sehingga hasil yang diharapkan akan berbanding lurus dengan semakin diliriknya destinasi wisata di mata para pelancong.

Peran pemerintah (baik provinsi maupun kabupaten/kota) juga turut dilibatkan. Sekiranya pemerintah daerah berperan membantu masyarakat daerah untuk mengeluarkan potensi wisata secara maksimal, bisa berupa mengenalkan konsep wisata baru yang sesuai dengan karakteristik daerah wisata itu sendiri. Kemudian bersama masyarakat menjaga dan mengelola potensi wisata daerah, membantu promosi wisata hingga tingkat nasional bahkan internasional sehingga pelancong wisata yang datang secara kuantitatif semakin meningkat dan mendatangkan pendapatan untuk daerah itu sendiri. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
Live
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved