Menyapa Nusantara
Sekolah yang Tidak Menerima Pendaftaran
Program Sekolah Rakyat menyasar anak-anak dari keluarga rentan yang selama ini sulit mengakses pendidikan formal.
RIZKY tidak pernah mendaftar ke sekolah mana pun setelah lulus SD. Bukan karena malas. Ibunya, Ni Putu Yuniawati, buruh tani di Tabanan, tidak punya cukup uang. Dari enam anaknya, lima lebih dulu berhenti di jenjang yang sama, tamat SMP, lalu selesai.
Pendidikan bukan mimpi yang mereka kejar. Itu adalah kemewahan yang mereka pelajari untuk tidak diinginkan. Sampai seseorang dari pemerintah datang ke rumah mereka.
Bukan formulir pendaftaran. Bukan pengumuman lewat media sosial. Seorang pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dari Dinas Sosial yang mengetuk pintu, mengecek nama dalam daftar, dan bertanya: Apakah Rizky bersedia bersekolah lagi? Itulah cara Sekolah Rakyat bekerja. Negara tidak menunggu, tapi mencari.
Program Sekolah Rakyat dirancang berbeda dari logika pendidikan yang selama ini berlaku. Tidak ada pengumuman penerimaan peserta didik baru yang ditempel di papan pengumuman. Tidak ada antrean orang tua di depan gerbang sekolah sejak subuh. Yang ada adalah proses sebaliknya, pemerintah yang pergi mencari. Sekolah Rakyat adalah satu-satunya sekolah yang tidak membuka pendaftaran.
Calon siswa diidentifikasi berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dikelola Badan Pusat Statistik. Dari data itu, pendamping PKH dan Dinas Sosial turun ke lapangan, mengunjungi keluarga, memverifikasi kondisi, dan baru kemudian mengajak anak-anak yang memenuhi syarat untuk masuk. Hanya mereka yang berada di desil 1 dan 2, kelompok paling bawah dalam skala kesejahteraan nasional, yang menjadi sasaran.
Baca juga: Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 163: Kunci Jawaban Unsur Kebahasaan Artikel dan Buku Ilmiah
Kepala Sekolah SRMP 17 Tabanan I Putu Jaya Negara menyebutnya sebagai ground check. "Dilakukan ground check apa sudah betul-betul memenuhi syarat atau tidak, bersedia atau tidak. Kalau sudah memenuhi syarat, baru diterima," ujarnya.
Para orang tua siswa di Tabanan rata-rata petani dan buruh harian. Bagi I Nyoman Sukonado, buruh tani yang anaknya terjaring program ini, tawaran itu datang seperti sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sekolah gratis, berasrama, makan tiga kali sehari, seragam, dan perlengkapan belajar. Semua tanpa pungutan.
Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah gratis biasa. Ia dirancang sebagai boarding school penuh bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, sebuah model yang memisahkan siswa dari lingkungan kemiskinan selama jam-jam belajar, sekaligus membebaskan orang tua dari beban biaya harian.
Jenjang yang tersedia mencakup SD, SMP, hingga SMA. Kurikulum mengikuti standar nasional, namun dengan penekanan pada pembentukan karakter dan kedisiplinan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan ada tiga hal yang tidak ditoleransi di lingkungan Sekolah Rakyat, yakni perundungan, kekerasan fisik dan seksual, serta intoleransi. Jika itu terjadi, pelanggar peraturan akan ditindak tegas dan dikeluarkan saat itu juga.
Hasilnya mulai terlihat. Gede Bagus Abimanyu, siswa SRMP 17, menceritakan kepada Presiden Prabowo bahwa ia dulu kerap dibully sejak SD. Dirinya pendiam, tidak suka bergaul, hampir putus sekolah. Setelah masuk Sekolah Rakyat, kepribadiannya berubah. Ia kini ingin mencegah perundungan di sekolahnya sendiri.
Baca juga: Kelakar Wagub Vasko Ruseimy Goda Zulhas soal Warna Baju, Puji PAN Paling Setia ke Prabowo
"Saya harap dengan gelar ini saya dapat mencegah bullying dan dapat menjaga teman-teman saya agar tidak merasakan hal yang saya rasakan sebelumnya," kata Gede Bagus Abimanyu.
Sedangkan Rizky, yang ibunya dulu tak punya harapan lebih jauh dari tamat SMP, kini punya cita-cita jadi insinyur pertanian.
Per awal 2026, Sekolah Rakyat telah beroperasi di 166 tempat yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota. Total ada 15.954 siswa yang belajar di dalamnya, didampingi 2.218 guru dan lebih dari 4.800 tenaga kependidikan. SRMP 17 Tabanan adalah satu dari 166 rintisan itu, dengan menampung 74 siswa SMP dalam tiga rombongan belajar dari empat kabupaten berbeda di Bali.
Kementerian Sosial menargetkan penambahan lebih dari 32 ribu siswa pada tahun ajaran 2026/2027. Pada 2027/2028, angkanya diproyeksikan melampaui 100 ribu. Jika konsisten, Mensos Saifullah memperkirakan pada 2030 jumlah siswa Sekolah Rakyat bisa menembus 500 ribu, dari 500 gedung permanen yang masing-masing menampung hingga 1.000 murid.
Minggu, 7 Juni 2026, Mobil Maung RI-1 memasuki halaman SRMP 17 Tabanan sekitar pukul 11.42 WITA. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto turun mengenakan safari cokelat. Belasan siswa berseragam sudah berbaris. Enam belas di antara mereka langsung membawakan tari Kecak, dengan seorang penari berkebutuhan khusus sebagai pusat pertunjukan. Prabowo berhenti, menyaksikan, lalu menyalami mereka satu per satu.
Baca juga: Presiden Prabowo Targetkan Obat Generik Murah Tersedia untuk Rakyat dalam Setahun
| Infografik: Rp 549 Miliar untuk Kredit Industri Padat Karya |
|
|---|
| Pemprov Sumbar Normalisasi Aliran Sungai Padang Pariaman Pascabencana |
|
|---|
| Misi Mengembalikan Anak ke Sekolah: Kemendikdasmen Terjunkan Relawan di 10 Daerah |
|
|---|
| Indonesia Membangun Identitas Halal: Target Sertifikat Gratis Naik Jadi 1,35 Juta di 2026 |
|
|---|
| Presiden Prabowo Targetkan Obat Generik Murah Tersedia untuk Rakyat dalam Setahun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/prabowo-artikel.jpg)