Citizen Journalism
CATATAN Korban Selamat Rusuh Wamena : Mengenang Tangis di Bumi Papua
TRAGEDI Wamena menyisakan duka mendalam bagi Ranah Minang. Korban selamat mengambil sikap pulang kampung. Sementara mereka, yang pergi untuk selamanya
Penulis: Rizka Desri Yusfita | Editor: Emil Mahmud
Catatan Korban Selamat Rusuh Wamena: Mengenang Tangis di Bumi Papua
Oleh: Nofri Zendra, Sekretaris IKM Kabupaten Jayawijaya
TRAGEDI Wamena menyisakan duka mendalam bagi Ranah Minang. Korban selamat mengambil sikap pulang kampung. Sementara mereka, yang pergi untuk selamanya, tentunya takkan kembali. Kehilangan nyawa maupun kerugian harta benda akan menjadi catatan kelam perantau di Bumi Papua.
Benar kata tetuah bahwa ada hikmah di balik setiap peristiwa, ada pula pembelajaran usai rusuh Wamena. Kekompakan urang awak di seluruh Indonesia kian nyata di Nusantara. Terlebih setelah kedatangan Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar, Nasrul Abit di Wamena, perhatian pemimpin begitu terasa. Kami sempat menangis bersama.
Saya, bagian dari mereka yang selamat masih di sini. Menikmati kenangan indah Kota Wamena di sela puing-puing luka. Tulisan sekenanya ini sengaja saya tulis biar semua pihak ikut merasa.
Luka kami, duka saudara, dan duka Bangsa Indonesia. Semoga kelak kita tak lupa jika para pejuang pernah menyabung nyawa demi mengejar mimpi hari depan keluarga yang bahagia.
Tragedi Wamena berdarah menyisakan luka yang mendalam bagi kita semua. Sekelompok anak bangsa meluapkan amarahnya dengan melakukan pembakaran dan pembunuhan terhadap warga yang tidak tahu apa-apa.
• Nasrul Abit Bersyukur Putri Dibolehkan Pulang, Sempat 11 Hari Dirawat Akibat Kerusuhan Wamena
• Pemprov Sumbar Jamin Kelanjutan Sekolah Anak Pengungsi Wamena,Nasrul Abit: Pekan Depan Mulai Sekolah
• Alasan di Balik Kunjungan Wagub Sumbar Nasrul Abit ke Wamena: Saya Tidak Berpikir untuk Politik
Mereka yang jadi korban baru sempat memikirkan bagaimana cara mengais rezeki di rantau orang demi menopang ekonomi keluarga.
Tanggal 23 September 2019 adalah hari yang paling bersejarah bagi kami. Warga Minang mengalami nasib tragis hingga menjadi korban kerusuhan di sana. Para korban Wamena mengungsi ke Kodim dan Polres. Mereka menyelamatkan diri hanya dengan pakaian di badan. Saat itu kita semua tidak tahu harus berbuat apa.
Sehari setelah kejadian jenazah para korban sudah dibawa ke rumah sakit. Saya selaku Sekretaris IKM (Ikatan Keluarga Minang) Kabupaten Jayawijaya mendapat telepon dari keluarga korban di kampung halaman. Keluarga meminta tolong diuruskan jenazah korban agar bisa dipulangkan ke Pesisir Selatan.
Keluarga mengaku siap menanggung biaya asalkan korban dimakamkan di rumah. Saya sedih. Terbayang nasib mereka, sudah ditinggal keluarga, harus pula menanggung biaya pemulangan.
Malam itu saya sempat menangis sendiri di pengungsian. Kepada siapa harus mengadu. Kami semua di sini adalah korban.
Setiap saat saya selalu menjalin komunikasi dengan Ketua DPW IKM Papua Zulhendri Sikumbang melalui sambungan telepon. Berdiskusi untuk mencari solusi. Di sela-sela komunikasi dengan beliau yang akrab saya panggil “mamak”, karena sama-sama suku Sikumbang.
Lanjut, saya sampaikan, bagaimana kalau dalam situasi seperti ini, IKM mengadu kepada Pemda atau Pemerintah provinsi/Pemprov) Sumbar.
Kala itu saya mengakui tidak punya akses. Namun, koordinasi penting untuk menjalin komunikasi dengan Pemda Jayawijaya. Beliau menyetujui dan siap menghubungi Pemprov Sumbar.
Selang beberapa menit telepon saya kembali berdering. Mamak Zulhendri meminta nomor telepon Bupati Jayawijaya. Tidak sampai 1 jam Mamak Zulhendri Sikumbang menghubungi saya kembali. Katanya jenazah akan dipulangkan ke Sumbar dibiayai oleh Pemda Jayawijaya. Hanya peti jenazah yang dibebani pada korban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/wagub-sumbar-nasrul-abit-saat-menyambut-kedatangan-warga-wamena.jpg)