Mahasiswi UI Asal Padang & Rekannya Ciptakan Pendidikan Dwibahasa (PeDe) Metode Ajar untuk Anak Tuli

Ayyubie Cantika Yuranda bersama tiga rekannya mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) berhasil menciptakan metode ajar Pendid

Mahasiswi UI Asal Padang & Rekannya Ciptakan Pendidikan Dwibahasa (PeDe) Metode Ajar untuk Anak Tuli
ISTIMEWA/DOK.PRIBADI
Ayyubie Cantika Yuranda, mahasiswi UI asal Padang, Sumatera Barat, bersama tiga temannya sesama mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) melakukan penelitian yang diselenggarakan Kementerian Ristek Dikti Tahun 2019 

“Kemampuan berkomunikasi dan kepercayaan diri merupakan hal yang paling penting bagi seseorang untuk bersosialisasi membangun pertemanan. Selain itu, bahasa sebagai ‘jendela dunia’ memegang peranan penting untuk masuknya arus informasi," ucapnya.

Tim periset kata Yurnaldi berharap, kegiatan kami dapat membantu mereka untuk mengasah kemampuan menulis dan membaca, serta meningkatkan keberaniannya.

Tentang Ayyubie  piawai medikatakan juga terbilang piawai mendongeng dan menghibur anak-anak di pedesaan dan anak-anak perkotaan.  

Sedangkan, program penelitian sang putri bersama timnya telah berlangsung sejak akhir April hingga Juni 2019.

Hasil Penelitian: Konsumsi Penyedap Rasa dan Pengawet Bikin Orang Malas Olahraga, Kok Bisa?

Hasil Penelitian Ungkap Mencuci Piring Kotor Bisa Tekan Tingkat Stres, Simak Caranya

Kegiatan yang dilakukan yaitu mengadakan kelas bahasa untuk para siswa dan kelas diskusi terpumpun (Focus Group Discussion) untuk para guru.

 Terkait metode ajar, nama ‘Dwibahasa’ diberikan sesuai dengan cara pengajaran menggunakan sistem Dwibahasa. 

Para siswa diajarkan bahasa Indonesia dengan pengantar bahasa isyarat dibantu dengan gambar dan video berbahasa isyarat.

Setelah para siswa paham konsep kata atau kalimat dalam isyarat, siswa diminta untuk menuliskannya.

Dalam mengajar dengan metode PeDe, siswa mendapat materi sesuai dengan kebutuhannya.

“Di kelas, kami awalnya memancing dulu adik-adiknya dengan video cerita dari gambar menggunakan bahasa isyarat dan meminta mereka menulis. Setelah kami tahu sejauh mana pemahaman mereka, kami diskusikan dengan dosen pembimbing urutan materi yang harus diajarkan. Adik-adik tersebut kami ajarkan pelan-pelan dalam sembilan kali pelaksanaan kelas, mulai dari kata, konsep tulisannya, lalu kalimat sederhana hingga paragraf," demikian paparan Ayyubie yang diuraikan ayahnya Yurnaldi.(*/TribunPadang.com/EmilMahmudsyah)

Penulis: Emil Mahmud
Editor: afrizal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved