Berita Populer Sumbar

4 Berita Populer Sumbar: Dampak Kenaikan Harga BBM Pertamax hingga Pemusnahan 145 Kg Ganja

Menurut Syafruddin, pergerakan harga minyak dan produk BBM di pasar Asia terus merangkak naik menyusul ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran.

Tayang:
Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto
BBM PERTAMAX NAIK- Aktivitas pengisian BBM di SPBU Sawahan, Kota Padang, Rabu (10/6/2026). Pada hari pertama pemberlakuan harga baru Pertamax sebesar Rp17.000 per liter, antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Padang masih terpantau normal dan belum terjadi lonjakan signifikan pada jalur pengisian Pertalite. 

Ringkasan Berita:
  • Pertamax di Sumbar naik jadi Rp17.000 per liter, dampaknya mulai terasa di berbagai sektor.
  • Satreskrim Polres Agam turun langsung memeriksa kendaraan di SPBU Maninjau.
  • BNNP Sumbar musnahkan 145 kg ganja, nilainya capai ratusan juta rupiah.
  • Seorang pemuda berinisial MRF ditangkap dalam dugaan penyalahgunaan narkotika jenis sabu.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Sejumlah informasi menarik disajikan pagi ini terkait kejadian seputar Sumatera Barat dalam 24 jam terakhir yang tayang TribunPadang.com.

Ada berita terkait dampak kenaikan harga BBM jenis Pertamax jadi Rp17.000 per liter di Sumatera Barat.

Kemudian kepolisian antisipasi penyalahgunaan BBM subsidi di salah satu SPBU kawasan Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Selanjutnya, BNNP Sumbar melakukan pemusnahan barang bukti narkoba jenis ganja sebanyak 145 kilogram dengan cara dibakar di krematorium.

Terdapat juga berita Polres Solok meringkus seorang pemuda dengan barang bukti enam paket diduga narkoba jenis sabu.

Baca berita selengkapnya:

1. Pertamax Rp17.000 per Liter di Sumbar, Ekonom Unand Sebut Travel dan Wisata Paling Terdampak

BBM PERTAMAX NAIK- Aktivitas pengisian BBM di salah satu SPBU kawasan Kota Padang, Rabu (10/6/2026).
BBM PERTAMAX NAIK- Aktivitas pengisian BBM di salah satu SPBU kawasan Kota Padang, Rabu (10/6/2026). (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto)

Gelombang tekanan ekonomi global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah mulai memapar ketahanan domestik. 

Kombinasi lonjakan harga minyak mentah dunia dan kejatuhan nilai tukar rupiah memaksa penyesuaian harga energi di dalam negeri, sebuah langkah yang dinilai rasional secara makro namun menyimpan risiko rambatan besar bagi perekonomian daerah.

Ekonom dari Universitas Andalas (Unand), Syafruddin Karimi, mengemukakan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax, harus dilihat sebagai langkah korektif yang tidak terhindarkan. 

Tekanan pada biaya pengadaan energi di tingkat global saat ini sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan bagi korporasi negara.

Menurut Syafruddin, pergerakan harga minyak dan produk BBM di pasar Asia terus merangkak naik menyusul ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran. 

Baca juga: Satreskrim Polres Agam Periksa Kendaraan di SPBU Maninjau, Cegah Penyalahgunaan BBM Subsidi

Syafruddin Karimi, Guru Besar Ekonomi Pembangunan, Universitas Andalas (Unand)
Syafruddin Karimi, Guru Besar Ekonomi Pembangunan, Universitas Andalas (Unand) (ISTIMEWA/DOK.UNAND)

Perang tersebut secara langsung menekan jalur pasokan energi global, memicu kelangkaan, dan mendongkrak biaya pengapalan komoditas energi ke berbagai belahan dunia.

Kondisi tersebut diperparah oleh performa mata uang garuda yang kian tak bertenaga. Saat ini, nilai tukar rupiah bertengger di kisaran Rp18.000 per dolar AS, sebuah level psikologis yang kian memperberat beban biaya impor minyak mentah (crude oil) yang harus dibayarkan dalam mata uang asing.

"Dalam situasi pelik seperti ini, PT Pertamina (Persero) tidak mungkin dipaksa untuk terus menjual Pertamax jauh di bawah harga keekonomiannya. Jika itu tetap dilakukan, taruhannya adalah arus kas perusahaan yang bakal tertekan hebat atau membengkaknya beban kompensasi tidak langsung yang harus ditanggung negara," ujar Syafruddin saat dihubungi Rabu (10/6/2026).

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved