Pendapatan Petani Sumbar Menguat, BPS Catat Nilai Tukar Petani Naik di Desember 2025
Nilai Tukar Petani atau NTP Provinsi Sumatera Barat pada Desember 2025 tercatat sebesar 127,72. Angka ini naik 1,57 persen
Penulis: Rahmadisuardi | Editor: Rahmadi
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Nilai Tukar Petani atau NTP Provinsi Sumatera Barat pada Desember 2025 tercatat sebesar 127,72. Angka ini naik 1,57 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan NTP menunjukkan kondisi daya beli petani di Sumatera Barat mengalami perbaikan pada akhir 2025.
Nilai Tukar Petani, sering disingkat NTP, adalah ukuran sederhana untuk melihat seberapa sejahtera kehidupan petani.
NTP menunjukkan apakah penghasilan petani cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya usaha taninya.
NTP juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
Baca juga: Jadwal SIM Keliling di Kota Padang Sabtu 10 Januari 2026, Digelar di Simpang Ganting
Kenaikan NTP di Sumbar terjadi karena harga hasil pertanian yang diterima petani meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan harga barang dan jasa yang harus dibayar petani.
Dicuplik Jumat (9/1/2026), pada Desember 2025, Indeks Harga yang Diterima Petani naik sebesar 3,71 persen. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani naik 2,11 persen.
Nilai Tukar Petani merupakan perbandingan antara pendapatan petani dari hasil pertanian dengan pengeluaran yang harus dikeluarkan petani.
Pengeluaran tersebut mencakup kebutuhan rumah tangga dan biaya produksi pertanian. Jika NTP berada di atas angka 100, artinya pendapatan petani lebih besar dibanding pengeluarannya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, seluruh subsektor pertanian di Sumatera Barat pada Desember 2025 mencatat nilai NTP di atas 100.
Baca juga: Harga Tiket Laga Semen Padang Vs Persis Solo, Tribun Umum Barat Ollin VIP FC Rp250 Ribu
Kondisi ini menunjukkan sebagian besar petani masih memiliki daya beli yang cukup baik.
Subsektor hortikultura mencatat NTP tertinggi dengan angka 171,15. Angka ini naik tajam dibanding bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya harga komoditas sayur-sayuran dan tanaman obat-obatan yang diterima petani.
Subsektor tanaman perkebunan rakyat mencatat NTP sebesar 144,97. Meskipun angkanya masih tinggi, subsektor ini mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya.
Penurunan terjadi karena harga hasil perkebunan yang diterima petani turun, sementara biaya yang harus dibayar petani justru meningkat.
Baca juga: Padang Panjang Ajukan Dana R3P ke BNPB Rp 410 Miliar, Perbaikan Infrastruktur Jadi Prioritas
| Kejar Operasional, 22 Koperasi Merah Putih Solok Selatan Resmi Kantongi Izin |
|
|---|
| Hujan Ringan hingga Sedang Guyur Mentawai Hari Ini, Warga Diminta Waspada Perubahan Cuaca |
|
|---|
| Daftar Kebutuhan Mendesak Banjir Pasaman, Logistik hingga Pembersihan Puskesmas Jadi Prioritas |
|
|---|
| Jadwal SIM Keliling Padang Pariaman Rabu 15 April 2026 Digelar di Mako Polsek Sungai Sariak |
|
|---|
| Update Kondisi Banjir di Pasaman: Satu Masih Hilang, Puluhan Rumah Terendam dan Jalan Putus |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/petani-bungus-teluk-kabung-bencana-ekologis-31122025.jpg)