Bencana Agam
Warga Salareh Aie Agam: Galodo Maut Datang Kurang 4 Menit Usai Dengar Getaran Mirip Suara Helikopter
Banjir bandang yang melanda, Salareh Aie, Palembayan, Agam, Sumbar, menyisakan tanda tanya bagi masyarakat akan kecepatan galodo
Penulis: Panji Rahmat | Editor: Rahmadi
Ringkasan Berita:
- Warga mengaku mendengar suara seperti helikopter dari jarak enam kilometer sebelum banjir datang.
- Hanya tiga menit setelah suara itu terdengar, arus besar menghantam permukiman.
- Telepon peringatan dari keluarga datang terlambat, warga tak sempat menyelamatkan barang.
- Banjir bandang terjadi saat hujan sudah reda berjam-jam.
- Kesaksian dua saksi mata membuka misteri kecepatan galodo di Salareh Aie.
TRIBUNPADANG.COM, AGAM - Banjir bandang yang melanda, Salareh Aie, Palembayan, Agam, Sumbar, menyisakan tanda tanya bagi masyarakat akan kecepatan galodo yang melanda daerah tersebut, Kamis (27/11/2025).
Ragam cerita banjir bandang ini muncul dalam ingatan para korban yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung.
Mulai dari waktu kejadian yang tidak pasti, ada sekira pukul 17.15 WIB, pukul 17.25 WIB bahkan ada yang bilang pukul 17.45 WIB, banyak versi.
Diantaranya satu yang pasti, Salareh Aie sudah rata dengan air, batu sebesar roda truck, pohon dan lumpur tanah sudah menghiasi pemukiman yang dulu ditepati masyarakat.
Namun, ada hal yang masih menjadi tanda tanya bagi masyarakat akan kecepatan banjir bandang atau akrab disebut galodo bagi masyarakat setempat.
Baca juga: Bertaruh Nyawa Demi Bekal Bulan Puasa, Detik-detik Alizar Selamatkan Padi Saat Banjir Bandang Padang
Diantaranya Armansyah, yang sangat yakin bahwa bunyi helikopter yang akhirnya ia sederhanakan menjadi bunyi alat berat itu sudah terdengar dari jarak lima sampai enam kilo.
Hal ini ia yakini, karena bunyi itu sangat dekat bahkan getarannya terasa di rumahnya tapi hampir tiga menit tidak ada tanda-tanda alat berat melintas.
Bahkan ia sempat menunggu di teras rumah, melihat warga berlarian mengatakan “galodo,galodo” tapi belum sempat ia memahami air sudah datang.
Armansyah harus berjibaku dengan arus air yang deras bercampur lumpur tanah dan perabotan rumah warga yang terbawa.
“Saya yakin air itu datang dengan sangat cepat, karena bunyi-bunyian itu terdengar dekat,” ujarnya.
Baca juga: Warga Kampung Guo Padang Dihantui Ketakutan Setiap Hujan Turun, Trauma Banjir Bandang Belum Hilang
Warga lainnya Hendra meberi keterangan yang sangat mendukung pernyataan Armansyah, karena saat kejadian, tetangga mendapat telfon dari saudaranya tiga sampai empat menit sebelum air melanda rumah mereka.
Telfon itu didapat tetangganya dari saudara yang berada sekitar lima sampai enam kilo dari tempat tinggalnya.
Tapi agak berbeda, Hendra menafsirkan bunyi galodo yang berjarak enam kilo itu layaknya orgen tunggal, karena ada getaran.
Padahal tidak ada pesta di hari kejadian tersebut, suasana di Salareh Aie sunyi dan sepi, mengingat sore waktu berkumpul dengan keluarga.
| Longsor Tutupi Jalan Malalak Agam, Camat Tegaskan Akses Hanya untuk Warga Lokal |
|
|---|
| Jalan Palembayan-Matur Nyaris Putus, Mahyeldi: Perbaikan Terkendala Anggaran |
|
|---|
| Kerangka Diduga Korban Galodo di Salareh Aia Barat Agam Dievakuasi ke RSUD Lubuk Basung |
|
|---|
| Kerangka Manusia Dewasa Ditemukan di Salareh Aia Barat Agam, Diduga Korban Galodo |
|
|---|
| Banjir Sungai Batang Agam Rendam Rumah Warga, 100 KK Mengungsi di Tanjung Raya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/korban-banjir-bandang-Hendra-menunjukan-jalur-air-yadnjir-bandad.jpg)