Kota Pariaman
Wako Pariaman Desak Pusat Percepat Perbaikan Irigasi Anai 2, Kunci Swasembada Pangan Lokal
Komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan nasional menghadapi tantangan serius di tingkat daerah
Penulis: Panji Rahmat | Editor: Rahmadi
TRIBUNPADANG.COM, PARIAMAN - Komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan nasional menghadapi tantangan serius di tingkat daerah, salah satunya di Kota Pariaman, Sumatera Barat.
Meskipun memiliki potensi besar dengan 1.627 hektar lahan sawah, produksi padi di kota ini terancam stagnan akibat masalah infrastruktur irigasi yang sudah menahun.
Walikota Pariaman, Yota Balad, angkat bicara secara eksklusif mengenai urgensi perbaikan saluran Irigasi Anai Dua, yang disebutnya sebagai kunci utama kontribusi daerah terhadap ketahanan pangan nasional.
Dalam upaya mendukung program strategis Presiden Prabowo yang menjadikan swasembada pangan sebagai fokus utama, Pemerintah Kota Pariaman berhadapan dengan realita di lapangan.
Produksi padi lokal Kota Pariaman tercatat menurun, dari 16.101 ton pada tahun 2023 menjadi 15.689 ton pada tahun 2024.
Baca juga: Rentetan Gempa Bonjol Pasaman Capai 13 Kali, Dua Guncangan Terjadi Dini Hari
Penurunan ini salah satunya dipicu oleh masalah pengairan, terutama di Kecamatan Pariaman Selatan yang merupakan lumbung padi terbesar.
"Kota Pariaman memiliki peran strategis. Kami punya 1.627 hektar sawah, dan hampir 500 hektar di antaranya ada di Pariaman Selatan," ungkap Walikota Yota Balad.
"Sayangnya, dari 504 hektar sawah di sana, mayoritas, yaitu 354 hektar, masih mengandalkan tadah hujan.
Penyebab utamanya adalah kerusakan pada saluran Irigasi Anai Dua yang sudah terjadi selama tujuh tahun terakhir.
Yota Balad menjelaskan bahwa kerusakan saluran irigasi Anai Dua, yang pembangunannya diharapkan mampu mengairi hampir 500 hektar sawah, terjadi di wilayah Kabupaten Padang Pariaman.
Baca juga: Bocah SD Tewas Dianiaya Guru, Demam Tinggi dan Ada Benjolan di Kepala setelah Dipukul dengan Batu
Kerusakan ini telah memutus aliran air, memaksa petani di Pariaman Selatan hanya mengandalkan curah hujan.
Akibatnya, alih-alih panen dua hingga tiga kali setahun, produktivitas menjadi tidak optimal.
"Petani kita di sana terpaksa banting setir menanam jagung karena tanaman itu lebih toleran terhadap kekurangan air. Ini jelas menghambat potensi kita. Jika Anai Dua normal, kita perkirakan produksi padi dari lahan ini saja bisa mencapai estimasi 5.000 ton per tahun," tegas Wako Yota Balad.
Ia mengungkapkan bahwa permasalahan krusial ini telah dibawa ke meja pusat.
"Kami telah menyampaikan langsung kondisi ini kepada Bapak Andre Roside, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, dan bahkan kepada Bapak Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, saat kunjungan kerja beliau ke Sumatera Barat," katanya.
| Serap Aspirasi dari Dunia Pendidikan, Wako Yota Balad Kunjungi Ponpes Ibnu Abbas di Pariaman Utara |
|
|---|
| Menilik Buayan Kaliang yang Tetap Eksis di Pariaman, Tradisi Lebaran Sejak 70 Tahun |
|
|---|
| Pria Ditemukan Meninggal di Mobil Pikap Parkir di Pariaman, Tubuh Basah Bensin |
|
|---|
| Wako Pariaman Beri Santunan dan Jamin Beasiswa Anak Warga yang Diduga Minum Racun |
|
|---|
| Kematian Wanita di Pariaman Diduga Minum Racun, Wako Yota Balad Tegaskan Bukan karena Faktor Ekonomi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/Walikota-Pariaman-Yota-Bd-nasional.jpg)