Harga BBM Naik
Curhat Driver Ojol di Padang Soal Pertamax Naik: Rela Antre Panjang, Demi BBM Subsidi Pertalite
Menurut Wahyu, jika dirinya memaksakan diri untuk tetap mengonsumsi Pertamax dengan harga baru, maka pendapatan dari tarif ojol akan terkuras habis.
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rezi Azwar
Bagi Budi, tidak masalah harga Pertamax melambung tinggi, asalkan pemerintah tidak mengusik harga Pertalite.
Budi mengutarakan bahwa Pertalite yang saat ini dibanderol dengan harga Rp10.000 per liter sudah sangat menolong kelangsungan dapurnya.
Oleh karena itu, ia rela menghabiskan waktu mengantre agak lama asalkan bisa mendapatkan bensin bersubsidi tersebut.
Pengamat: Konsumen Kelas Menengah 'Turun Kelas'
Sebelumnya, Melihat fenomena ini, pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang (FEB UNP), Doni Satria, memberikan analisisnya.
Ia memprediksi kenaikan tajam Pertamax ini akan mengubah total peta konsumsi energi di tingkat tapak.
Doni menyatakan bahwa selisih harga yang kian melebar jauh antara Pertalite dan Pertamax otomatis memaksa konsumen untuk berpikir lebih realistis.
Baca juga: Bahan Baku Naik, Warung Makan Mahasiswa di Padang Terpaksa Naikkan Harga Rp1.000 per Porsi
Golongan masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi pelanggan setia Pertamax diperkirakan bakal turun kelas dan ikut mengantre di jalur subsidi.
Menurut Doni, fenomena eksodus massal konsumen ini secara otomatis memicu lonjakan permintaan yang luar biasa terhadap Pertalite.
Dampaknya, pemandangan antrean kendaraan yang mengular di berbagai SPBU kini berpotensi menjadi rutinitas baru yang menjemukan bagi warga Kota Padang.
Kerugian Waktu Produktif yang Terbuang
Lebih lanjut, Doni menyoroti dampak sosiologis dan ekonomi makro dari fenomena ini. Ia menegaskan bahwa antrean panjang di SPBU bukan sekadar masalah gangguan visual atau kenyamanan pengendara, melainkan sebuah kerugian ekonomi yang nyata bagi daerah.
Masyarakat urban sering kali tidak menyadari bahwa waktu produktif yang mereka habiskan untuk berdiri atau duduk di atas motor saat mengantre sebenarnya memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi.
“Antre itu adalah biaya. Ketika seseorang harus menghabiskan waktu hingga satu jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar, maka ada waktu produktif yang terbuang sia-sia, begitu pula dengan energi kendaraan yang tetap menyala selama proses antrean," ujar Doni.
Baca juga: Konsumen di Pasar Raya Padang Tak Masalah Harga Bahan Pokok Naik Asalkan Upah Ikut Naik
Kerugian berupa hilangnya waktu produktif dan terbuangnya energi kendaraan tersebut pada akhirnya menumpuk.
Hal ini dinilai memicu pembengkakan biaya operasional hidup masyarakat secara keseluruhan, yang sebenarnya bertolak belakang dengan niat awal mereka untuk berhemat.
Doni menambahkan, situasi yang dihadapi masyarakat saat ini kian pelik lantaran tekanan ekonomi sebenarnya sudah dirasakan jauh sebelum penyesuaian harga Pertamax diberlakukan resmi oleh pemerintah.
dampak harga BBM naik
harga BBM naik
Update Harga BBM Naik
harga pertamax naik
harga pertamax di Sumatera Barat
harga Pertamax
Pertalite
SPBU
Padang
Driver Ojol
| Pemprov Sumbar Tegaskan Pengecekan STNK di SPBU Hanya untuk Kendaraan yang Dicurigai |
|
|---|
| Harga Pertamax di Sumbar Tembus Rp17.000 per Liter, ESDM Sebut Dipengaruhi Pajak Daerah 10 Persen |
|
|---|
| Pertamax Naik Jadi Rp 17.000, Pengamat FEB UNP Prediksi Konsumen Migrasi ke Pertalite Meningkat |
|
|---|
| Harga Pertamax Naik Jadi Rp17.000 Per Liter, Warga Padang Kaget dan Mulai Lirik Pertalite |
|
|---|
| Pertamax Naik Rp17.000 per Liter di Sumbar, Harga Pertalite dan Biosolar Tetap Normal |
|
|---|