Tangan Dingin Darima: Mengubah Limbah Plastik Menjadi Harapan Ribuan Anak Putus Sekolah

Ia mulai mengajarkan cara membuat tas sandang ke pasar, tas kecil, tempat minum, hingga keranjang dari olahan limbah plastik.

Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
PKBM- Darima pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tenggang Raso ditemui di Pagambiran Ampalu Nan XX, Padang, Rabu (22/4/2026). Logika Darima sederhana namun efektif memberikan solusi atas masalah sampah sekaligus meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat. 

Ringkasan Berita:
  • Mengintip Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tenggang Raso di Kota Padang.
  • Didirikan oleh Darima, perempuan yang masa kecilnya habis di jalanan sebagai penjual kantong plastik.
  • Pengalaman pahit itulah memicu lahirnya PKBM Tenggang Raso pada tahun 2000.
  • Darima telah meluluskan sekitar 13.000 orang untuk ikut program kesetaraan Paket A, B, dan C.
  • Ribuan orang yang dulunya mungkin hanya akan menjadi beban sosial, kini telah bertransformasi menjadi polisi, pengusaha, PNS, hingga anggota DPRD.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Di sebuah sudut bangunan di Jalan Bakti ABRI, Pagambiran Ampalu Nan XX, Padang, suara gesekan plastik terdengar ritmis di antara gumam doa dan tawa kecil.

Pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tenggang Raso, Darima, duduk bersila di tengah kepungan botol plastik bekas yang warnanya sudah memudar.

Di tangan perempuan ini, limbah itu bukan sekadar sampah, melainkan nyawa bagi masa depan ratusan anak asuhnya.

Siang itu, Rabu (22/4/2026), Darima tampak sibuk memegang sebuah pola keranjang. Matanya yang tajam mengamati setiap lekukan plastik, sementara tangannya dengan cekatan memberi instruksi kepada seorang remaja di hadapannya.

Baca juga: Intip Ketangguhan Keranjang Daur Ulang Milik Dalima, Bisa Tahan Bertahun-tahun

Ia tidak sekadar mengajar, ia sedang mentransfer harapan yang dulu pernah hampir hilang dari genggamannya sendiri.

"Kita dilahirkan bukan untuk mengganggu. Ayolah, kumpulkan sampah ini, bersihkan, lalu kita cari ide bersama," ucap Darima lembut. Kalimat itu seolah menjadi mantra yang mampu mengubah rasa rendah diri anak-anak marginal menjadi semangat yang berkobar.

Berawal dari Terminal dan Pahitnya Masa Lalu

PKBM Tenggang Raso ditemui di Pagambiran Ampalu 22/4/2026
PKBM- Darima pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tenggang Raso ditemui di Pagambiran Ampalu Nan XX, Padang, Rabu (22/4/2026).

Lahir pada tahun 1960, Darima tumbuh dalam bayang-bayang kemiskinan yang pekat. Masa kecilnya habis di jalanan sebagai penjual kantong plastik. Ia pernah merasakan pedihnya menjadi orang yang dianggap sebelah mata karena tidak mengenyam pendidikan formal.

Nasibnya berubah ketika sebuah tangan baik membantunya mengikuti ujian persamaan hingga akhirnya ia meraih ijazah. Pengalaman pahit itulah yang kemudian memicu lahirnya PKBM Tenggang Raso pada tahun 2000.

Nama "Tenggang Raso" sendiri dipilih bukan tanpa alasan; sebuah filosofi Minang yang berarti tenggang rasa atau kepedulian terhadap sesama.

Baca juga: Melawan Mahalnya Plastik di Padang, Dalima Beralih ke Keranjang Daur Ulang

Awalnya, Darima bergerak di lingkungan terminal. Ia merangkul anak-anak yang putus sekolah dan terlantar berasal dari berbagai daerah. Keprihatinannya memuncak saat melihat tumpukan sampah yang tak terurus.

Logika Darima sederhana namun efektif memberikan solusi atas masalah sampah sekaligus meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat.

Senjata Ijazah dan Keterampilan Tangan

Ia mulai mengajarkan cara membuat tas sandang ke pasar, tas kecil, tempat minum, hingga keranjang dari olahan limbah plastik. Semuanya dimulai dengan modal ikhlas dan bantuan beberapa masyarakat lainnya.

Ia sadar bahwa keterampilan tangan saja tidak akan cukup untuk menembus kerasnya dunia kerja modern.

Maka, Darima mengetuk pintu Dinas Pendidikan agar anak-anak binaannya bisa mengikuti program kesetaraan Paket A, B, dan C. Ijazah adalah kunci, tapi keterampilan adalah senjatanya pikirnya saat itu.

Baca juga: Peringati Hari Kartini, RSJ dr. Yaunin Gelar Bakti Sosial dan Survei Kesehatan Mental Korban Banjir

Kini, perjuangan seperempat abad itu membuahkan hasil yang mencengangkan. Darima telah meluluskan sekitar 13.000 orang sejak awal berdiri. Ribuan orang yang dulunya mungkin hanya akan menjadi beban sosial, kini telah bertransformasi menjadi polisi, pengusaha, PNS, hingga anggota DPRD.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved