Kekeringan di Padang

Ember dan Jeriken Hiasi Jalanan Kuranji Padang, Warga Berjuang Hadapi Krisis Air Bersih

Kondisi kekeringan yang melanda wilayah ini diketahui sudah berlangsung selama kurang lebih lima bulan terakhir hingga April 2026.

Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
KEKERINGAN: Deretan ember warga Kuranji, Kota Padang menunggu bantuan air bersih, Selasa (14/4/2026). Kondisi kekeringan yang melanda wilayah ini diketahui sudah berlangsung selama kurang lebih lima bulan terakhir hingga April 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Ember dan jeriken penuhi jalan Kuranji, warga antre air bersih setiap hari
  • Krisis air 5 bulan, sumur warga tak lagi berfungsi sejak banjir
  • Bantuan air tangki tak menentu, warga kadang menunggu hingga dua hari
  • Air hujan jadi andalan, tapi warga keluhkan sensasi tak nyaman
  • Warga bertahan dengan hemat air di tengah krisis yang belum berakhir

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Pemandangan barisan ember, baskom, hingga jeriken plastik aneka warna menghiasi sepanjang tepian jalan RT 01 RW 01, Kelurahan Kuranji, Kota Padang demi menyiasati krisis air bersih.

Warga setempat terpaksa menjajajakan wadah penampung tersebut untuk menanti bantuan air bersih yang tidak datang setiap hari.

Kondisi kekeringan yang melanda wilayah ini diketahui sudah berlangsung selama kurang lebih lima bulan terakhir hingga April 2026.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa (14/4/2026), terlihat pemandangan barisan wadah penampung air milik warga yang berjejer di sepanjang tepian jalan.

Baskom, ember, hingga jeriken plastik aneka warna tersusun rapi menanti datangnya bantuan distribusi air bersih.

Baca juga: BMKG Update Peringatan Dini Sumbar, Hujan Lebat dan Angin Kencang Hingga 22.00 WIB

Kekeringan ini dilaporkan bermula sejak akhir tahun lalu, tepatnya pasca musibah banjir bandang yang menerjang kawasan Kuranji, Padang.

Sejak saat itu, kondisi tanah di wilayah tersebut meranggas dan berdampak langsung pada sumber air tanah milik warga setempat.

Sumur-sumur galian milik warga yang biasanya menjadi tumpuan utama untuk kebutuhan mencuci dan kakus, kini sudah tidak berfungsi.

Lubang sumur sedalam belasan meter milik warga terpantau hanya menyisakan kegelapan dengan kondisi dasar yang kering kerontang.

Baca juga: Semen Padang FC Makin Terancam di Pekan ke-28, Persijap Datang dengan Modal Kemenangan 2-1

Harapan warga saat ini bergantung sepenuhnya pada uluran tangan pemerintah melalui distribusi air menggunakan mobil tangki.

Mariani, salah seorang warga yang terdampak, menuturkan bahwa hujan yang sempat turun beberapa hari lalu tidak mampu memulihkan kondisi sumur secara permanen.

Ia menyebutkan, meski sempat berair setelah hujan, namun kondisi tersebut biasanya tidak bertahan lama dan hanya bertahan sekitar dua hingga tiga hari saja.

Krisis air yang sudah berjalan lima bulan ini memberikan beban psikologis tambahan bagi warga karena jadwal bantuan air yang tidak teratur

Terkadang bantuan air bersih dari Pemerintah Kota (Pemko) Padang datang satu kali dalam sehari untuk melayani kebutuhan warga.

Baca juga: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Hingga Malam Hari di Padang, Waspada Pohon Tumbang dan Banjir

Namun, tak jarang pula warga harus gigit jari lantaran selama dua hari berturut-turut bantuan air tangki sama sekali tidak muncul di lokasi tersebut.

Kondisi ini memaksa Mariani dan warga lainnya untuk mempraktikkan gaya hidup hemat air yang sangat ketat demi mencukupi kebutuhan harian.

Mariani menceritakan bahwa dirinya harus sangat irit dalam menggunakan air, terutama untuk keperluan mandi anggota keluarganya.

"Sudah sekitar lima bulan kondisi kami begini. Kalaupun ada hujan, sumur memang sempat ada airnya lagi, tapi itu tidak lama, paling bertahan dua sampai tiga hari saja, setelah itu kering lagi," ujar Mariani saat ditemui

Warga harus berbagi air dengan sangat hati-hati agar tidak ada satu tetes pun yang terbuang sia-sia di tengah kondisi sulit tersebut.

Baca juga: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Lebat Hingga Malam Hari di Padang, Waspada Pohon Tumbang dan Banjir

Sementara itu, warga lainnya bernama Santi, mengeluhkan kualitas air hujan yang terpaksa digunakan warga untuk membersihkan diri.

“Mandi menggunakan air hujan memberikan sensasi yang berbeda di kulit, yakni terasa licin dan memberikan kesan tidak bersih meskipun sudah menggunakan sabun,”katanya.

Meski merasa tidak nyaman, warga mengaku tidak memiliki pilihan lain daripada tidak mandi sama sekali di tengah cuaca yang panas terik. (*)

Sumber: Tribun Padang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved