Kekeringan di Padang
Empat Bulan Kekeringan, Warga Kuranji Padang Bergantung pada Bantuan dan Air Hujan
"Tanah sudah benar-benar kering. Kalaupun ada air dari bantuan, datangnya tidak tentu jam berapa," ujarnya saat ditemui di lokasi.
Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rezi Azwar
Ringkasan Berita:
- Warga Kelurahan Kuranji dilanda krisis air bersih berkepanjang.
- Kondisi ini sudah belangsung sekitar empat bulan.
- Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, warga bergantung dengan bantuan air bersih.
- Selain itu, warga juga terpaksa menampung air hujan.
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Deretan baskom, ember, hingga jeriken plastik aneka warna berjejer rapi di sepanjang tepian jalan RT 01/RW 01, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.
Baskom tersebut menjadi saksi bisu penantian panjang warga yang yang terdampak krisis air bersih akibat kekeringan berkepanjangan.
Sudah empat bulan lamanya pascabanjir akhir tahun 2025 lalu, tanah di wilayah ini merekah. Sumur-sumur warga yang biasanya menjadi tumpuan hidup kini hanya menyisakan dasar yang kering dan berdebu.
Kini, harapan satu-satunya hanyalah bantuan air bersih yang datangnya sering kali tak menentu.
Baca juga: KemenHAM Dorong Pembentukan Kampung REDAM di Sumbar untuk Perkuat Perdamaian Nagari
Mariani salah satu warga setempat, tampak berdiri lesu di samping barisan wadah miliknya. Baginya, menunggu bantuan air telah menjadi rutinitas baru yang melelahkan sekaligus mencemaskan.
"Tanah sudah benar-benar kering. Kalaupun ada air dari bantuan, datangnya tidak tentu jam berapa," ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis (12/3/2026).
Ketidakpastian jadwal pendistribusian air bersih ini membuat warga harus berjaga sepanjang waktu.
Terkadang air datang di pagi hari, namun tak jarang pula baru tiba saat hari sudah gelap. Kondisi ini memaksa warga untuk menunggu di rumah agar tidak ketinggalan.
Baca juga: Rutan Padang Gelar Santri Ramadan, 217 Warga Binaan Diusulkan Dapat Remisi
Mariani menceritakan, dalam kondisi normal, lima ember atau baskom air mungkin cukup untuk kebutuhan dasar. Namun, kenyataannya kebutuhan air sangat bergantung pada jumlah anggota keluarga di dalam rumah.
“Kadang lima ember itu tidak cukup untuk sehari. Harus benar-benar pandai mengatur," tambahnya.
Krisis ini memaksa warga untuk mempraktikkan gaya hidup hemat air yang ekstrem. Istilah irit mandi bukan lagi sekadar gurauan, melainkan keharusan demi menyambung hidup.
Air diprioritaskan untuk memasak dan minum, sementara urusan sanitasi berada di urutan sekian.
Baca juga: Bus dan Truk Rusak di Sitinjau Lauik, Kendaraan dari Padang-Solok Mengular Panjang Kamis Siang
Kecemasan warga semakin memuncak ketika bantuan air bersih tak kunjung datang selama dua hari berturut-turut.
Dalam masa jeda tersebut, warga terpaksa memutar otak untuk mendapatkan air bersih, termasuk menanti berkah dari langit melalui air hujan.
Namun, menggunakan air hujan pun bukan tanpa kendala. Santi, warga lainnya, menuturkan bahwa kualitas air hujan tidak bisa disamakan dengan air bersih dari tanah atau PDAM.
| Ember dan Jeriken Hiasi Jalanan Kuranji Padang, Warga Berjuang Hadapi Krisis Air Bersih |
|
|---|
| Bantuan Tangki Pemko Padang Tak Menentu, Warga Kuranji Tagih Solusi Permanen Masalah Kekeringan |
|
|---|
| Warga Kuranji Padang Terpaksa Mandi Air Hujan Akibat Krisis Air Bersih, Keluhkan Kulit Terasa Licin |
|
|---|
| 5 Bulan Kekeringan di Kuranji Padang, Warga Terpaksa Mandi Air Hujan Akibat Sumur Kering Kerontang |
|
|---|
| Lebaran di Depan Mata, Warga Kuranji Padang Krisis Air Bersih, Mariani: Tanah Sudah Benar-Benar Mati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/krisis-air-bersih-di-Kuranji-Padang-1232026.jpg)