Kekeringan di Padang

Empat Bulan Kekeringan, Warga Kuranji Padang Bergantung pada Bantuan dan Air Hujan

"Tanah sudah benar-benar kering. Kalaupun ada air dari bantuan, datangnya tidak tentu jam berapa," ujarnya saat ditemui di lokasi.

Penulis: Arif Ramanda Kurnia | Editor: Rezi Azwar
TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia
KRISIS AIR BERSIH- Warga terdampak kekeringan sedang menunggu kedatangan mobil yang menyalurkan air bersih di RT01/RW 01, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Kamis (12/3/2026). Terkadang air bersih datang di pagi hari, namun tak jarang pula baru tiba saat hari sudah gelap. Kondisi ini memaksa warga untuk menunggu di rumah agar tidak ketinggalan. 

Ringkasan Berita:
  • Warga Kelurahan Kuranji dilanda krisis air bersih berkepanjang.
  • Kondisi ini sudah belangsung sekitar empat bulan.
  • Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, warga bergantung dengan bantuan air bersih.
  • Selain itu, warga juga terpaksa menampung air hujan.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Deretan baskom, ember, hingga jeriken plastik aneka warna berjejer rapi di sepanjang tepian jalan RT 01/RW 01, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Baskom tersebut menjadi saksi bisu penantian panjang warga yang yang terdampak krisis air bersih akibat kekeringan berkepanjangan.

Sudah empat bulan lamanya pascabanjir akhir tahun 2025 lalu, tanah di wilayah ini merekah. Sumur-sumur warga yang biasanya menjadi tumpuan hidup kini hanya menyisakan dasar yang kering dan berdebu.

Kini, harapan satu-satunya hanyalah bantuan air bersih yang datangnya sering kali tak menentu.

Baca juga: KemenHAM Dorong Pembentukan Kampung REDAM di Sumbar untuk Perkuat Perdamaian Nagari

Mariani salah satu warga setempat, tampak berdiri lesu di samping barisan wadah miliknya. Baginya, menunggu bantuan air telah menjadi rutinitas baru yang melelahkan sekaligus mencemaskan.

"Tanah sudah benar-benar kering. Kalaupun ada air dari bantuan, datangnya tidak tentu jam berapa," ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis (12/3/2026).

Ketidakpastian jadwal pendistribusian air bersih ini membuat warga harus berjaga sepanjang waktu.

Terkadang air datang di pagi hari, namun tak jarang pula baru tiba saat hari sudah gelap. Kondisi ini memaksa warga untuk menunggu di rumah agar tidak ketinggalan.

Baca juga: Rutan Padang Gelar Santri Ramadan, 217 Warga Binaan Diusulkan Dapat Remisi

Mariani menceritakan, dalam kondisi normal, lima ember atau baskom air mungkin cukup untuk kebutuhan dasar. Namun, kenyataannya kebutuhan air sangat bergantung pada jumlah anggota keluarga di dalam rumah.

“Kadang lima ember itu tidak cukup untuk sehari. Harus benar-benar pandai mengatur," tambahnya.

Krisis ini memaksa warga untuk mempraktikkan gaya hidup hemat air yang ekstrem. Istilah irit mandi bukan lagi sekadar gurauan, melainkan keharusan demi menyambung hidup.

Air diprioritaskan untuk memasak dan minum, sementara urusan sanitasi berada di urutan sekian.

Baca juga: Bus dan Truk Rusak di Sitinjau Lauik, Kendaraan dari Padang-Solok Mengular Panjang Kamis Siang

Kecemasan warga semakin memuncak ketika bantuan air bersih tak kunjung datang selama dua hari berturut-turut.

Dalam masa jeda tersebut, warga terpaksa memutar otak untuk mendapatkan air bersih, termasuk menanti berkah dari langit melalui air hujan.

Namun, menggunakan air hujan pun bukan tanpa kendala. Santi, warga lainnya, menuturkan bahwa kualitas air hujan tidak bisa disamakan dengan air bersih dari tanah atau PDAM.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved