Kota Padang

Bedah Buku “Mitigasi Kultural”, Ajak Masyarakat Hidup Selaras dengan Alam untuk Hadapi Bencana

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center pada hari Selasa (10/3/2026) yang dihadiri oleh beberapa pihak terkait.

Penulis: Fajar Alfaridho Herman | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman
BEDAH BUKU - Penulis buku Mitigasi Kultural: Mengukuhkan Kearifan Lokal, Memperkuat Budaya, Membangun Masyarakat Tangguh Bencana, Yose Hendra (kiri), menyerahkan bukunya kepada Walikota Padang Fadly Amran saat diskusi publik dan bedah buku yang digelar di Bagindo Aziz Chan Youth Center, Selasa (10/3/2026). Kegiatan tersebut membahas pentingnya kearifan lokal dalam memperkuat ketangguhan masyarakat menghadapi bencana di Sumatera Barat. 

Ringkasan Berita:
  • Bedah buku Mitigasi Kultural digelar di Padang dan mengangkat peran kearifan lokal dalam menghadapi bencana di Sumatera Barat.
  • Penulis Yose Hendra menyebut Sumbar memiliki tingkat risiko bencana tinggi berdasarkan peta BNPB.
  •  Buku ini mengungkap berbagai pengetahuan tradisional masyarakat dalam membaca tanda alam.
  • Salah satunya cara warga melihat tanda longsor dari perubahan air di tebing.
  • Penulis mengajak pengetahuan lokal berjalan bersama mitigasi modern.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Diskusi publik dan bedah buku bertajuk Mitigasi Kultural: Mengukuhkan Kearifan Lokal, Memperkuat Budaya, Membangun Masyarakat Tangguh Bencana digelar sebagai upaya mengingatkan kembali pentingnya kearifan lokal dalam menghadapi ancaman bencana, khususnya di Sumatera Barat.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center pada hari Selasa (10/3/2026) yang dihadiri oleh beberapa pihak terkait.

Penulis buku tersebut, Yose Hendra, mengatakan wilayah Sumatera Barat sejak lama dikenal memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Berdasarkan peta indeks risiko bencana yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebagian besar kabupaten dan kota di wilayah barat Sumbar selama rentang 2015 hingga 2024 ditandai dengan warna merah yang menunjukkan risiko bencana tinggi.

Sementara wilayah yang berada di bagian dalam Pulau Sumatera, terutama di kawasan pegunungan Bukit Barisan, umumnya ditandai dengan warna kuning yang berarti memiliki risiko sedang.

“Di Sumatera Barat, bencana bukan sekadar definisi dalam kamus. Ia adalah kenyataan yang berkali-kali meninggalkan luka,” katanya.

Baca juga: 3 BERITA POPULER PADANG: Cekcok Trans Padang, Pembongkaran Lapak PKL dan 11 Pos Pengamanan Lebaran

Ia menjelaskan, hampir seluruh jenis bencana pernah terjadi di ranah Minang, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir bandang atau galodo, tanah longsor, kebakaran hutan hingga cuaca ekstrem. Kondisi tersebut membuat Sumatera Barat kerap disebut sebagai “supermarket bencana”.

Sejarah mencatat berbagai peristiwa bencana besar yang pernah mengguncang wilayah ini, seperti gempa besar tahun 1926 yang merobohkan Padang Panjang, gempa 1943 di Solok, gempa 2007 di Tanah Datar dan Solok, hingga gempa 30 September 2009 yang meluluhlantakkan Padang, Padang Pariaman dan Agam.

Selain itu, tsunami Mentawai pada 25 Oktober 2010 juga menelan ratusan korban jiwa. Bencana terbaru terjadi pada 11 Mei 2024 ketika letusan eksplosif Gunung Marapi memicu banjir lahar dan galodo yang menerjang wilayah Agam dan Tanah Datar serta merusak infrastruktur dan menelan korban jiwa.

Pada hari yang sama, material dari lereng Gunung Singgalang juga menghantam kawasan Galudua di Nagari Koto Tuo, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam.

Menurut Yose, kondisi geografis Sumatera Barat memang membuat wilayah ini sangat rentan terhadap bencana. Di bawah tanahnya terbentang Sesar Sumatera sepanjang sekitar 1.900 kilometer yang sewaktu-waktu dapat melepaskan energi besar tanpa peringatan.

Baca juga: 3 BERITA POPULER SUMBAR: Tilang di Lembah Anai, Perantau Pulang Basamo dan Petani Pengedar Sabu

Selain itu, topografi pegunungan Bukit Barisan yang curam serta ratusan aliran sungai yang membelah wilayah ini menjadikan Sumbar rawan longsor dan banjir bandang ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.

Ancaman lain juga datang dari wilayah laut, di mana pertemuan lempeng tektonik di Samudra Hindia berpotensi memicu tsunami.

Namun menurutnya, masyarakat Sumatera Barat sejak dahulu sebenarnya telah memiliki berbagai pengetahuan lokal untuk menghadapi ancaman bencana tersebut.

Pengetahuan itu diwariskan melalui petatah-petitih, syair, hingga konstruksi rumah adat yang dirancang untuk beradaptasi dengan kondisi alam.

Ia mencontohkan salah satu bidal Minangkabau yang mengingatkan masyarakat agar selalu waspada terhadap potensi bahaya.

Baca juga: Sosok David Korban Tertemper KA Padang di Mata Keluarga: Pelajar Berprestasi yang Pendiam

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved