Nasional

Perang Israel-AS vs Iran Memanas, Akademisi Unand Soroti Dampak ke Perdagangan dan Rupiah

Ia menilai komoditas impor yang didatangkan dari luar negeri sangat mungkin mengalami kenaikan harga akibat terganggunya rantai pasok.

Tayang:
Istimewa
Ketegangan Geopolitik: Akademisi Universitas Andalas, Prof. Dr. Harif Amali Rivai, SE, MSi, menilai konflik antarnegara besar tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berimbas pada perdagangan internasional, termasuk Indonesia. 

“Jika terjadi penurunan, maka investor akan merasa rugi karena nilai saham yang dipegang itu turun. Harapannya kan naik, tentu itu mencerminkan ekonomi bagus jika indeks meningkat,” ujarnya.

Selain pasar modal, nilai tukar rupiah juga dinilai sensitif terhadap gejolak geopolitik. Ketidakpastian global kerap mendorong investor menarik dana dari negara berkembang dan beralih ke aset yang lebih aman.

“Kemungkinan akan terjadi pelemahan mata uang karena stabilitas nilai tukar di Indonesia sangat sensitif dengan situasi geopolitik. Rupiah bisa mengalami depresiasi,” jelas Harif.

Pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada barang impor yang dibayar menggunakan dolar Amerika Serikat, termasuk produk teknologi yang selama ini banyak digunakan di dalam negeri.

“Barang-barang impor yang dibayar dengan dolar tentu akan terdampak, seperti produk teknologi yang penggunaannya cukup besar di Indonesia,” tambahnya.

Baca juga: 3 Berita Terpopuler Padang: Pengunjung Terjebak Lift, Harga Emas Stabil, Semen Padang FC

Di sisi lain, kondisi ketidakpastian global biasanya mendorong investor mengalihkan asetnya ke instrumen yang dinilai lebih aman, seperti logam mulia.

“Dengan nilai investasi atau saham yang turun, investor bisa saja beralih ke komoditi yang lebih berpotensi lebih baik, seperti logam mulia. Saat ini kita lihat logam mulia menjadi investasi yang aman dan menjanjikan, terbukti tingkat keuntungannya terus naik dalam satu tahun terakhir,” katanya.

Ia memperkirakan harga emas dan logam mulia lainnya berpotensi terus meningkat seiring meningkatnya permintaan sebagai safe haven asset.

“Bisa saja harga logam mulia seperti emas akan terus naik, sehingga orientasi masyarakat beralih ke investasi tersebut,” pungkasnya.

Meski demikian, Harif berharap konflik tidak berkepanjangan agar dampak terhadap perekonomian global maupun nasional dapat diminimalisasi.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved