Nasional

Perang Israel-AS vs Iran Memanas, Akademisi Unand Soroti Dampak ke Perdagangan dan Rupiah

Ia menilai komoditas impor yang didatangkan dari luar negeri sangat mungkin mengalami kenaikan harga akibat terganggunya rantai pasok.

Istimewa
Ketegangan Geopolitik: Akademisi Universitas Andalas, Prof. Dr. Harif Amali Rivai, SE, MSi, menilai konflik antarnegara besar tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berimbas pada perdagangan internasional, termasuk Indonesia. 

Ringkasan Berita:
  • Ketegangan Israel-AS vs Iran memanas, ancam stabilitas ekonomi global.
  • Jalur distribusi internasional, termasuk Selat Hormuz, berpotensi terganggu, pengiriman barang melambat.
  • Harga komoditas impor naik, komoditas lokal relatif stabil.
  • Bursa saham dan nilai tukar rupiah berisiko terdampak pelemahan.
  • Investor beralih ke logam mulia sebagai safe haven untuk mengurangi risiko kerugian.

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Ketegangan geopolitik antara Israel yang didukung Amerika Serikat dengan Iran kian memanas dan memicu kekhawatiran global.

Eskalasi konflik yang melibatkan serangan balasan, ancaman penutupan jalur strategis, hingga pengerahan kekuatan militer di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia.

Akademisi Universitas Andalas, Prof. Dr. Harif Amali Rivai, SE, MSi, menilai konflik antarnegara besar tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berimbas pada perdagangan internasional, termasuk Indonesia.

Baca juga: 4 Berita Terpopuler Sumbar: Takjil Aman, Harimau Agam, Masjid Solsel Dipugar, Huntap Padang Panjang

“Jika yang kita lihat hari ini adalah permasalahan geopolitik, perseteruan antarnegara-negara besar, tentu hal ini akan ada dampaknya ke perdagangan internasional Indonesia, terutama perdagangan yang melalui jalur laut yang nantinya akan terhambat dengan situasi perang,” ujar Harif, Minggu (1/3/2026).

Menurutnya, jalur distribusi global berpotensi mengalami gangguan apabila konflik meluas, terlebih jika menyentuh kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Kondisi tersebut dapat memicu lonjakan biaya logistik dan keterlambatan pengiriman barang.

Ia menjelaskan, komoditas impor yang didatangkan dari luar negeri sangat mungkin mengalami kenaikan harga akibat terganggunya rantai pasok.

“Tentu barang-barang atau komoditi impor yang didatangkan dari luar akan terjadi lonjakan harga. Dengan adanya perang ini, kemungkinan akan ada peralihan distribusi jalur barang karena menghindari risiko dampak perang,” katanya.

Selain itu, penundaan distribusi secara global akan berpengaruh pada ketersediaan barang. Jika suplai menurun sementara permintaan tetap, harga dipastikan naik dan berdampak hingga ke tingkat lokal.

“Namun jika dilihat, hal tersebut tidak akan terlalu berdampak pada komoditi-komoditi lokal. Yang terpengaruh tentu komoditi yang peredarannya secara global, seperti minyak yang bisa saja terjadi kenaikan,” jelasnya.

Harif mengingatkan, apabila konflik berlangsung dalam waktu lama, dampaknya bisa semakin luas dan merembet ke berbagai sektor domestik. Padahal, kondisi ekonomi nasional saat ini masih dalam fase pemulihan dan mengejar target pertumbuhan.

“Kalau ini terlalu berlarut, jangka panjangnya pasti akan berdampak ke lokal. Harapan kita tentu ini bisa segera mereda, karena ekonomi kita saat ini bisa dikatakan masih sulit dan sedang mengejar target pertumbuhan,” ungkapnya.

Tak hanya sektor riil, pasar keuangan juga dinilai rentan terdampak. Ia memprediksi bursa saham berpotensi mengalami tekanan akibat sentimen negatif global.

“Dampak dari perang geopolitik ini bisa saja bursa saham anjlok, terjadi pelemahan di trading. Dengan menurunnya transaksi perdagangan tentu terjadi penurunan di sektor perekonomian. Salah satu indikator perekonomian kan bursa, jadi indeks di bursa efek bisa berpengaruh dan terjadi penurunan,” katanya.

Jika indeks saham turun, investor berisiko mengalami kerugian karena nilai portofolio yang dipegang menyusut. Kondisi tersebut mencerminkan perlambatan ekonomi.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved