Berita Internasional

Geger Dolar AS Drop ke Level Terendah Imbas Kelakuan Donald Trump, Bagaimana dengan Rupiah?

Dolar AS mencatatkan rekor mengejutkan lantaran anjlok hingga ke titik terendahnya selama tiga tahun terakhir.

Tayang:
Editor: Primaresti
AFP/ Jim Watson
DOLAR ANJLOK - Presiden AS Donald Trump saat masih menjadi kandidat presiden dari Partai Republik, berbicara selama acara malam pemilihan di West Palm Beach Convention Center di West Palm Beach, Florida, pada tanggal 6 November 2024. Terkini, dolar mengalami penurunan mengejutkan imbas perseteruan Trump dengan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.. 

Volatilitas pasar tidak terbatas di Amerika Serikat. Pasar saham Eropa dibuka melemah pada hari Selasa, dengan DAX Jerman dan CAC 40 Prancis turun sekitar 0,5 persen.

Poundsterling Inggris mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan terhadap dolar, yang mencerminkan melemahnya dolar AS.

Para pemimpin dan ekonom internasional telah menyatakan kekhawatiran atas potensi terkikisnya status dolar sebagai mata uang cadangan dunia.

Situasi ini telah memicu diskusi di antara para bankir sentral dan menteri keuangan pada pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional di Washington, DC, di mana seruan untuk mempertahankan independensi bank sentral telah meningkat.

Federal Reserve dijadwalkan mengadakan pertemuan kebijakan berikutnya pada bulan Mei. 

Meskipun Powell telah menekankan pentingnya keputusan berdasarkan data.

Dia menyatakan kalau tekanan politik yang meningkat menambah kompleksitas pada pertimbangan bank sentral.

"Saat pasar terus menghadapi dampak dari pernyataan Trump, investor memantau dengan saksama perkembangan untuk mencari tanda-tanda stabilitas atau gangguan lebih lanjut dalam lanskap keuangan global," kata ulasan RNTV.

Kondisi Rupiah

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot pagi ini melemah.

Melansir data Bloomberg, pukul 09.14 WIB rupiah berada pada level Rp 16.868 per dolar AS atau melemah 8,5 poin (0,05 persen) dibanding penutupan sebelumnya Rp 16.859,5 per dolar AS.

Pengamat Pasar Uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra mengatakan, pasar menantikan keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) hari ini yang kemungkinan akan mempertahankan tingkat suku bunga atau BI rate untuk menjaga rupiah agar tidak terlalu tertekan terhadap dolar AS.

Pasar masih mengkhawatirkan dampak dari kebijakan tarif Trump.

Namun demikian, ada kabar baik dari Gedung Putih bahwa pemerintah AS akan menurunkan tensi perang tarif dengan China.

Kabar ini disambut positif pasar pagi ini, dengan indeks saham Asia terlihat bergerak positif.

Rupiah pun bisa bergerak menguat terhadap dolar AS, meskipun risiko pelemahan masih terbuka.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved