Citizen Journalism

Cinta dalam Bayang-Bayang Penjajahan: Resensi Novel Bumi Manusia

BUMI Manusia adalah sebuah novel fiksi dengan genre drama sejarah, kolonialisme, dan romantisme yang memiliki setting di kehidupan periode penjajahan

Tayang:
Editor: Emil Mahmud
IST
Peresensi; Lathifa Ferry Shafiya, siswi MAN Insan Cendekia Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) 

Oleh Lathifa Ferry Shafiya, Siswi MAN Insan Cendekia Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar)

Resensi Buku: Bumi Manusia
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun Terbit: 2015 (Cetakan ke-21)
Kota Terbit: Yogyakarta
Ukuran: 20 x 13,5 cm
Tebal Halaman: 538

BUMI Manusia adalah sebuah novel fiksi dengan genre drama sejarah, kolonialisme, dan romantisme yang memiliki setting di kehidupan periode penjajahan Belanda. Novel tersebut merupakan bagian pertama dari Buru Quartet series, diikuti Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca.

Novel ini merupakan hasil buah tangan seorang sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai penulis novel yang mengangkat pertanyaan mendalam tentang kemerdekaan nasional dan emansipasi umat manusia untuk seluruh dunia.

Berkat penyajian karya yang luar biasa, karyanya sering dijadikan bahan ajar di sekolah terkhusus materi novel. Kajiannya tidak hanya tentang teori novel, tetapi juga makna, pelajaran hidup, dan nilai historisnya. 

Pengaruh besar novel Bumi Manusia terhadap dunia sastra Indonesia berhasil menjadikan novel ini diangkat ke layar kaca. Novel Bumi Manusia diadaptasi menjadi film pada Tahun 2019 yang disutradarai Hanung Bramantyo yang menggantikan Anggy Umbara dan diproduksi oleh Falcon Pictures yang membeli hak adaptasi novel Bumi Manusia pada 2014.

Tidak kalah jauh dengan kepopuleran novelnya, film ini juga berhasil menarik 1.316.583 jumlah penonton dengan pendapatan kotor Rp 52,7 miliar.

Karya sastra goresan tangan penulis ternama di Angkatan 45 ini menceritakan tentang kehidupan Tirto Adhi Soerjo (Minke) dengan latar masa penjajahan Hindia Belanda.

Minke merupakan pemuda Indonesia atau pribumi yang bersekolah di HBS (Hogere Burger School). Minke digambarkan dengan sosok yang cerdas dan penuh dengan privilege. Ia menyukai sastra dan sering menulis.

Tulisannya sering dimuat di koran dengan nama pena Max Tollenaar. Kisah asmara Minke diceritakan begitu dramatis yang berujung menikah dengan Annelies Mellema, putri dari Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh.  

Namun, setelah Herman Mellema meninggal, mereka dihadapkan dengan takdir yang tidak disangka-sangka. Pengadilan yang dikuasai oleh aturan Belanda menyatakan bahwa pernikahan Herman Mellema dan Nyai Ontosoroh tidak sah begitupun dengan pernikahan Minke dan Annelies. Annelies dianggap masih di bawah umur. Selain itu, Minke dan Nyai Ontosoroh harus menghadapi Hukum Kolonial.

Novel bertema drama sejarah, kolonialisme, dan romantisme ini sukses difilmkan oleh rumah produksi Falcon Pictures dengan judul yang sama. Alur campuran (maju-mundur) yang digunakan penulis menggiring kita untuk melewati masa yang berbeda, seperti peristiwa-peristiwa yang terjadi di  Wonokromo, Sidoarjo, Tulangan, sekolah (HBS), rumah, dan pengadilan.

Sederet-peristiwa tersebut menghadirkan suasana yang berbeda, ada suasana pedesaan yang menyenangkan, situasi menegangkan, juga menyedihkan. Kisah ini seolah hidup karena disajikan dengan tokoh yang beragam.

Tokoh utama Minke, seorang pemuda pribumi yang berwatak cerdas, pekerja keras, dan pantang menyerah, disertai dengan hadirnya tokoh pendukung, seperti Nyai Ontosoroh, seorang gundik dari Herman Mellema yang sukses mengembangkan dirinya menjadi wanita pribumi cerdas, Annelies Mellema, gadis Jawa-Eropa yang menjalin kasih dengan Minke. Darsam yang setia melayani keluarga Mellema, hingga Jean Marais, seorang pelukis asal Perancis sekaligus sahabat yang setia memberikan nasihat tentang kehidupan kepada Minke.

Sementara itu, kehadiran tokoh lain dapat memantik konfil, sebut saja Robert Mellema, Maurits Mellema, dan Robert Suurhof. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved