Penemuan ODCB di Padang Pariaman

Usia Bebatuan Diduga Cagar Budaya yang Ditemukan di Padang Pariaman Ditaksir 40-60 Juta Tahun

Ahli geologi Ade Edward memperkirakan usia bebatuan yang ditemukan di Bukit Kampuang Gadang, Surantiah, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman

Penulis: Panji Rahmat | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Panji Rahmat
Penampakan bebatuan yang diduga termasuk benda cagar budaya di bukit Kampuang gadang, Surantiah, Nagari Lubuk Alung, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (12/10/2023). 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG PARIAMAN - Ahli geologi Ade Edward memperkirakan usia bebatuan yang ditemukan di Bukit Kampuang Gadang, Surantiah, Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, berkisar 40 juta - 60 juta tahun.

Usia ini kata Ade setelah pernah dilakukannya pengukuran seluruh bebatuan di Indonesia dengan metode geologi melalui isotop radio aktif dan fosil.

"Jadi dengan metode itu kita sudah bisa mengetahui kisaran umur batuan tersebut," jelasnya diwawancarai di lokasi, Kamis (12/10/2023).

Bebatuan di lokasi tersebut menurutnya di usia antara tersier dan kuarter (40 juta - 60 juta). Usia ini sama dengan, usia batuan di nyarai (42 juta tahun) dekat lokasi tersebut.

Sebelumnya diberitakan, Ahli Geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Ade Edward, menyebut penemuan bebatuan di Surantiah, Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumbar murni buatan alam.

Hal ini ia utarakan setelah melakukan tinjauan fisik di lokasi, jenis batuan yang ada tersebut merupakan jenis andesit basaltik, sesuai dengan warnanya.

Batuan tersebut terbentuk akibat pembekuan magma dibawah permukaan tanah yang menyelusup melalui retakan akibat patahan, sehingga terjadi pembekuan.

Baca juga: Temuan Bebatuan di Padang Pariaman Mirip Lesung dan Kapak, Ahli Geologi Sebut Murni Buatan Alam

"Proses pembekuan itu berlangsung dari cari sampai padat. Selama proses pembekuan terjadi penyusutan yang menciptakan fenomena kelakar kolom (Columnar joint)," terangnya, Kamis (12/10/2023).

Sifat pembekuan ini akan tegak lurus pada aliran magma keluar, bisa jadi ke atas, miring dan kesamping.

Di lokasi penemuan tersebut, alirannya miring, lurus ke atas dan juga bisa ditemukan horizontal seperti tangga.

Kelakar kolom bisa terbentuk di lokasi itu, mengingat lokasinya di bukit barisan yang merupakan daerah tektonik aktif.

Fenomena Kelakar kolom ini terbilang sangat langka, karena pembentukannya jauh di bawah permukaan tanah dan usianya berkisar 40 juta sampai 60 juta tahun.

"Penemuan di sini lebih langka lagi karena posisinya di ketinggian, sehingga kemunginan bentuk kelakar kolomnya akan lebih sempurna dibanding daerah lain," jelasnya.

Sebagai inisiator geolark ranah Minang, Ade sudah empat tahun mencari fenomena kelakar kolom ini untuk mengeksplorasi geopark ranah Minang.

Pihaknya pernah menemukan kelakar kolom di lembah Anai, hanya saja tidak sempurna. Serta juga pernah ada di Pesisir Selatan, tapi tidak terlindungi, habis jadi material tambang.

Baca juga: Pemkab Padang Pariaman Gandeng Ahli Pastikan Status Cagar Budaya Bebatuan di Lubuk Alung

"Di Sumatera ini penemuan kedua, sebelumnya di Geo Park Marangin Jambi, tapi posisinya di bawah," jelasnya.

Ia berharap temuan ini bisa segara dilindungi, supaya bisa menjadi  kawasan cagar alam geologi, sebagai sebuah Geo heritage nasional.

"Pemda bisa mengajukan temuan ini pada badan geologi kementerian ESDM sesuai undang undang perlindungan alam," katanya.(*)

Sumber: Tribun Padang
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved