Paris Chips, Sebarkan Spirit Cinta Cemilan Lokal Pariaman pada Generasi Kekinian

Ciptakan Ladu arai pinang untuk generasi kekinian, pemuda asal Kota Pariaman beri sentuhan baru pada makanan tradisional ini.

Penulis: Panji Rahmat | Editor: Rahmadi
TribunPadang.com/Panji Rahmat
Aditio Hidayat Ramadhan (26) dan Fadhilah (26), berpose menggunakan produk Paris Chips varian original dan sala, Selasa (27/6/2023). 

TRIBUNPADANG.COM, PARIAMAN - Ciptakan Ladu arai pinang untuk generasi kekinian, pemuda asal Kota Pariaman beri sentuhan baru pada makanan tradisional ini.

Sentuhan baru ini buah dari observasi dan riset yang dilakukan oleh dua anak muda, Aditio Hidayat Ramadhan (26) dan Fadhilah (26).

Dua mahasiswa tamatan jurusan psikologi tersebut, menerapkan ilmu di ruang kelas untuk menciptakan pembaharuan pada makanan khas Pariaman ini.

Asal mula inovasi ini, sewaktu Tio membawa makanan khas dari tanah kelahirannya ke kontrakan di kawasan kampusnya di Bukittinggi, Sumatera Barat, tahun 2017.

Ia yang sudah biasa menikmatinya, terkejut akan respon positif kawan satu kontrakannya. Dari sana munculah ide Tio bersama Dila.

Baca juga: Pemilik Ladu Arai Pinang Ria Pariaman Bercita-cita Menembus Pasar Internasional

"Melihat respon itu, saya coba memasarkannya, memberi nama produk dengan kemasan sederhana," terang pemuda kelahiran 26 tahun silam itu saat wawancara Selasa (27/6/2023).

Tidak lama menjalankan produk tersebut, ragam tugas kuliah menanti Tio dan Dila. Kesibukannya, membuat usaha itu sempat vakum.

Padahal usaha tersebut sudah mulai diminati oleh teman sebayanya. Keduanya memilih vakum untuk menunaikan kewajiban sebagai mahasiswa.

Aditio Hidayat Ramadhan (26) dan Fadhilah (26), sedang men1
Aditio Hidayat Ramadhan (26) dan Fadhilah (26), sedang menikmati Paris chips di sebuah coffe shop di Pariaman, Selasa (27/6/2023)

Kembali Ke Bisnis Ladu

"Sewaktu vakum itu, banyak permintaan konsumen, lalu kami coba membuatnya lagi," terang pria bertubuh gempal itu.

Kali kedua memulai usahanya, Tio dan Dila coba menerapkan ilmunya di bangku kuliah. Keduanya melakukan observasi, melalui psikologis konsumen, psikologis brand dan psikologis komunikasi.

Baca juga: Kisah Sukses Suatril Pemilik Ladu Arai Pinang Ria, Pernah jadi Kernet hingga Penari Lintas

Melalui tahapan itu mereka melakukan rebranding, meningkatkan kualitas produk dan kemasannya. Alasan mereka melakukan itu semua, melihat fenomena makanan khas tradisional tidak bisa menyentuh pasar tradisional.

Jawaban dari persoalan itu, karena kemasannya. Melihat makanan tradisional dibungkus plastik bening membuat anak muda malu membawanya ke tempat umum.

"Kalau untuk rasa semuanya suka, makanya kami lakukan inovasi pada kemasannya," jelasnya menyampaikan hasil observasi itu.

Melalui hasil diskusi keduanya, mereka membuat kemasan dengan warna dasar kuning dan merah, menerapkan sedikit gonjong rumah gadang.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved