Inflasi di Sumbar

Data BPS Sumbar: Bensin dan Beras Jadi Penyebab Utama Inflasi di Sumbar

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada awal September lalu menjadi penyebab tingginya inflasi pada kelompok pengeluaran transportasi di Sumatera

Istimewa
Tangkapan layar saat rilis pers BPS Sumatera Barat melalui streaming Youtube. Terlihat andil Komoditi Dominan September 2022 didorong oleh bensin pada urutan pertama, disusul oleh beras urutan kedua. 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada awal September lalu menjadi penyebab tingginya inflasi pada kelompok pengeluaran transportasi di Sumatera Barat (Sumbar).

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, Herum Fajarwati melalui live streaming di Youtube Resmi BPS Provinsi Sumatera Barat, Senin (3/10/2022).

"Kalau dilihat dari perkembangan kelompok pengeluaran pada September lalu, kelompok pengeluaran yang paling tinggi mengalami inflasi adalah kelompok transportasi, dengan adanya kenaikan BBM," terang Herum.

Baca juga: Sumbar Alami Inflasi 8,49 Persen, Pengamat Ekonomi: Sudah Diprediksi, Dampak Harga BBM Naik

Baca juga: Inflasi Bukittinggi Tertinggi di Indonesia, per September 2022 Sebesar 1,87 Persen

Herum menuturkan, kenaikan BBM yang menjadi penyebab tingginya inflasi dapat dilihat pada andil komoditas dominan 2022 di Sumbar.

"Bensin adalah komoditas yang dominan, di mana mengalami perubahan sebesar 24,35 persen dari sebelumnya, dan memberikan andil inflasi sebesar 0,91 persen pada September 2022," jelas Herum.

Akibat naiknya BBM ini juga, kata Herum, ikut memberikan andil sebesar 1,10 persen dengan besaran inflasi secara total 1,39 persen.

"Andil terbesar untuk inflasi ini dari kelompok transportasi," tambah Herum.

Sementara itu, untuk andil September 2022, menurut kelompok pengeluaran, pada transportasi mengalami inflasi year on year (tahun ke tahun) sebesar 19,43 persen.

Selain itu, andil Komoditas Dominan penyumbang inflasi tak hanya kenaikan bensin. Beras juga menjadi pendorong tertinggi setelahnya.

"Untuk komoditas beras pada September ini, juga mengalami perubahan harga mencapai 5,53 persen," terang Herum.

"Sedangkan memberikan andil Inflasi sebesar 0,22 persen," tambah Herum.

Masuknya beras menjadi komoditas dominan tertinggi kedua pada September 2022 ini, dikarenakan memiliki bobot yang lebih daripada yang lain.

"Karena beras ini juga memiliki bobot paling tinggi di antara komoditas yang lain," ungkap Herum. (TribunPadang.com/ Alif Ilham Fajriadi)

Sumber: Tribun Padang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved