Advertorial

FSP ISI Gelar Rakernas di Bogor, KSPI: Pekerja Harus Makin Solid dan Kompak

Dewan Pimpinan Nasional Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia (FSP ISI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Tahun 2020 di Bogor, 11-

Editor: Mona Triana
istimewa
FSP ISI Gelar Rakernas di Bogor, KSPI: Pekerja Harus Makin Solid dan Kompak 

Dewan Pimpinan Nasional Federasi Serikat Pekerja Industri Semen Indonesia (FSP ISI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Tahun 2020 di Bogor, 11-13 Desember 2020.

Pada pembukaan Rakernas Jumat (11/12/2020) yang dilaksanakan secara offline dan online itu hadir, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, Ketua IndustriAll Indonesia Council, Iwan Kusmawan, Ketua Umum FSP ISI Kiki Warlansyah, SPLHI Aceh, SPSP Padang, SKSB Baturaja, SP ITP Citeureup, SP ITP Cirebon, SPN CIlacap, SP Star Aji Barang, SP ITP Tarjun, SKST Tonasa, Makassar, SPAG Kupang dan perwakilan Dewan Pengurus Nasional (DPN) FSP ISI.

Ketua Umum FSP ISI Kiki warlansyah dalam sambutannya berharap industri semen nasional semakin berjaya, yang pada akhirnya berimbas kepada kesejahteraan karyawan, pendapatan optimal dengan tetap bisa melakukan ibadah dengan sempurna.

Baca juga: Hingga Oktober 2020, Total Zakat yang Disalurkan UPZ Baznas Semen Padang Rp 6,9 M

Baca juga: Semen Padang Gelar Mitra Binaan Expo From Home

Baca juga: Komisi II DPRD Padang Kunjungi PT Semen Padang, Tingkatkan Pendapatan Asli Daerah dan Silaturahmi

Tantangan industri semen nasional kedepan diantaranya adalah, overcapacity produksi semen sebesar 52,8 Juta Ton, kapasitas produksi terpasang 116,4 juta ton, dengan serapan dipasar 63,6 Juta ton, dengan tingkat utilisasi sebesar 54,6%. Dengan asumsi pertumbuhan sector konstruksi sebesar 7% pertahun, maka diperkirakan pada tahun 2031, baru bisa seimbang antara kapasitas dengan serapan. Oleh sebab itu FSP ISI memohon kepada Pemerintah untuk melakukan Moratorium Pendirian Pabrik Baru di Indonesia

Industri semen nasional, kata Kiki, juga dihadapkan dengan tantangan yang akan diberlakukannya ODOL (Over Dimensi Over Load) yang akan meningkatnya biaya distribusi.

Dari sisi tenaga kerja, industri semen dihadapkan pada tantangan pengurangan tenaga kerja, kebijakan tentang permagangan, dan omnibus Law serta kurangnya peminat pekerja muda untuk aktif di Serikat Pekerja.

Baca juga: Lanjutkan Konservasi Ikan Bilih di Kolam Pemijahan, Semen Padang Kembali MoU dengan LPPM UBH

Baca juga: Semen Padang FC Takluk Atas PSS Sleman: Final Liga 2 Bertepatan Hari Ini, Dua Tahun Silam

Baca juga: Tim Inovasi Semen Padang Raih 3 Platinum di Ajang ICQCC Bangladesh

Menghadapi kondisi itu, FSP ISI merencanakan akan membentuk komite baru yaitu komite pekerja muda, dengan membuat kegiatan dengan nama “Kopi Darat Milineal ber ISI (Industri Semen Indonesia)” kita tumbuh kembangkan kreatifitas pekerja muda yang SMART guna kejayaan Industri Semen Nasional dan penerus jalannya organisasi serikat pekerja. Program tersebut direncanakan akan diselenggarakan di tahun 2021.

Presiden KSPI Said Iqbal pada kesempatan itu mengimbau agar Serikat Pekerja memperkuat daya juang, memastikan hampir 100 % pekerja bisa bergabung dalam organisasi.

"Para serikat pekerja harus makin solid dan kompak, agar daya tekan semakin kuat, sehingga daya tawar semakin kuat. Bangun komunikasi yang baik dengan sesama Serikat Perkerja, Khususnya Industri Semen yang ada di Indonesia," ajaknya.

Baca juga: Semen Padang Targetkan Efisiensi Energi 3 Persen pada 2024

Baca juga: Jalan Tol Pekanbaru-Bangkinang Dimulai, Pakai Produk Semen Padang

Baca juga: Jalan Tol Pekanbaru-Bangkinang Dimulai, Pakai Produk Semen Padang

Menurutnya, industri capital berada pada “bergaining position” (daya tawar), berhubungan dengan serikat pekerja adalah daya runding, daya runding menjadi kuat, jika semua yang berunding bisa bergabung.

Ia mengimbau untuk memastikan standarisasi sistem upah.

Terkait pandemi Covid 19 yang belum ada kepastian, Industri Semen (consumer Goods / Producing Goods) bergantung kepada pertumbuhan ekonomi.

"Sayangnya pertumbuhan ekonomi tidak bisa dipastikan diakibatkan covid-19," kata Said.

Menurut dia, International Labour Organization (ILO) mencatat 37000 jam kerja hilang tahun 2019, perkiraan 50 ribu jam kerja hilang di tahun 2020. Sebanyak 200 juta orang miskin muncul. Pertumbuhan industri di Cina yang sebelumnya 30 hanya tumbuh 13 %. orang bekerja tetap miskin 18 juta, ekonomi masih suram, resesi terus terjadi, yang terancam adalah consumer Good.

Ia minta agar Serikat Pekerja mendiskusikan dengan manajemen, apa strategi untuk 2 tahun ke depan. "Siapkan Dunia Baru Pasca Covid," ingatnya.

Untuk menghadapi Dunia Baru Setelah Covid-19 (ILO), ada tiga hal yang menjadi perhatian, yakni Kepastian Kerja - Job Security, Kepastian Pendapatan - Income Security, dan Jaminan Sosial - Social Security.

Industri semen rentan dalam penggunaan outsourching. Itu terjadi karena batas kontrak dalam omnibus Law dihilangkan. Dampaknya, serikat buruh lemah, karena tidak ada yang berserikat. Selanjutnya, menghancurkan kesejahteraan karyawan karena daya tawar turun. Untuk itu, perkuat pergerakan, bangun konsolidasi.

Said Iqbal juga mengungkapkan tantangan Industri 4.0, yakni Sistem Online dan Robotisasi.

Sumber: Tribun Padang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved