Citizen Journalism

Genius Umar: Masyarakat Sumatera Barat Harus Bersatu Melawan Covid-19

COVID-19 merupakan pendemi dan musuh kita bersama. Covid-19 tidak hanya menguji sistem kesehatan, akan tetapi juga menguji solidaritas sebagai

Genius Umar: Masyarakat Sumatera Barat Harus Bersatu Melawan Covid-19
ISTIMEWA/DOK.DISKOMINFO PARIAMAN
Wali Kota Pariaman, Genius Umar

Untuk itu, semuanya harus menyiapkan diri untuk menghadapinya serta jangan sampai lalai dalam mempersiapkan diri.

Pemerintah daerah hendaknya jangan hanya mengandalkan datangnya bantuan dari pemerintah pusat.

Namun, dalam kondisi saat ini, tidak ada alasan bagi daerah bahwa APBD nya kecil/terbatas, sehingga tidak bisa mengalokasikan anggaran untuk penanganan covid-19.

Pemerintah daerah perlu mengalokasikan anggaran yang cukup untuk mengatasi penyebaran dan dampak covid-19.

Untuk itu, pemerintah daerah harus pro aktif dan inovatif mencari sumber-sumber pembiayaan untuk mengatasi covid-19, termasuk mereposisi kembali target kinerja serta kegiatan-kegiatan yang kurang prioritas.

Sejauh ini kondisi sarana dan prasarana kesehatan di RSUD provinsi, RSUD kabupaten/kota serta rumah sakit swasta memang masih sangat terbatas. Di antaranya, alat pelindung diri (APD), masker, rapid test, tes swap termasuk kesiapan ruangan apabila penyebarannya makin meluas.

Bahkan, Dokter, tenaga medis dan para medis yang menjadi garda terdepan dalam penanganan covid-19, perlu menjadi perhatian. Kiranya, sudah selayaknya pemerintah daerah, sektor swasta menengah/besar serta pihak-pihak lainnya, memberikan dukungan dan perhatian. Dukungan dalam bentuk jaminan asuransi, insentif serta bentuk-bentuk penghargaan lainnya (meskipun mereka tidak mengharapkan).

Di samping fokus pada sektor kesehatan, yang tidak boleh diabaikan termasuk dampak lain yang akan ditimbulkan dari wabah virus covid-19 ini.

Di sisi lain, goncangan ekonomi menyusul dampak wabah virus corona turut berdampak terhadap meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan. Hal ini, akibat tidak bergeraknya sektor ekonomi.

Dampak berikutnya, harga barang-barang melambung tinggi, apalagi dalam waktu dekat umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan 1441 H. Dalam kondisi tersebut, pemerintah daerah perlu melakukan pengendalian pasar, menjamin ketersedian barang untuk kebutuhan pokok serta menjamin kestabilan harga.

Berbagai kondisi tersebut tentunya, tidak sebatas beban tugas dan kewajiban pemerintah daerah saja. Ada hal yang lebih penting, yaitu kesadaran dari pelaku ekonomi untuk menunjukan sikap nasionalisme dan ikut berpartisipasi dalam penanganan dampak virus covid-19 ini.

Kepada pelaku ekonomi hendaknya tidak bermain-main atau justru memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, ditengah penderitaan masyarakat.

Sesungguhnya, bagi pelaku usaha kecil/UMKM, momentum ini sebenarnya bisa dijadikan “ starting point “ untuk mampu berinovasi menghasilkan produk yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Ada peluang yang besar bagi UMKM untuk bangkit dan berpartisipasi memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ada satu hal lagi yang menjadi perhatian kita bersama, yaitu banyaknya “ orang rantau “ yang mudik sebelum lebaran. Meskipun Pemerintah dan Pemerintah Daerah telah memberikan imbauan kepada para perantau untuk tidak mudik lebaran 114 H.

Kendati ada insentif bagi yang tidak mudik, namun dalam kenyataannya, masih relatif banyak perantau yang keburu sudah mudik sebelum lebaran. Terhadap kondisi tersebut, maka patit disikapi secara arif, bijaksana dan tenggang rasa.

Pada satu sisi, kepulangan para perantau, sangat berpotensi terhadap peningkatan penyebaran virus covid-19 ke Sumatera Barat. Sementara itu, dalam kondisi ketidakpastian kapan wabah covid-19 ini akan berakhir dan kapan ekonomi kembali akan bergerak, tentunya menuntut pemahaman.

Selanjutnya, kepada perantau yang mudik dan kepada masyarakat sekitar, masing-masing harus disiplin  terhadap protokol atau SOP yang telah ditetapkan oleh pihak pemerintah.

Para perantau yang mudik, harus siap untuk ditetapkan menjadi ODP (orang dalam pengawasan) dan melakukan karantika mandiri selama 14 hari. Sedangkan, bagi masyarakat sekitarnya (RT/RW/Kelurahan/Camat/Nagari) juga harus mengontrol para perantau yang ditetapkan menjdi ODP tersebut displin menjalankan karantika mandiri.

Sesuai topik tulisan kali ini; “ Sumatera Barat harus bersatu melawan Covid-19 “ saatnya ajakan dan imbauan kepada tokoh-tokoh masyarakat Sumatera Barat baik yang ada di pemerintah/pemda, Badan/Lembaga Pemerintah, lembaga legislatif (DPR/DPD/DPRD), pelaku ekonomi dan segenap masyarakat Sumatera Barat, untuk bersatu melawan virus Covid-19 ini.

Kali ini momentum yang tepat untuk menghilang sekat-sekat yang membatasi, lantaran kepentingan sesaat. Saat ini, Ranah Minang pun bertanya kepada “apa yang bisa kita berikan/sumbangkan kepada daerah dan masyarakat Sumatera Barat dalam menghadapi penyeberan virus covid-19 ini. Kami mengajak, marilah kita berikan yang terbaik sesuai dengan tugas, fungsi, kedudukan dan kemampuan kita, untuk Sumatera Barat dalam melawan virus Covid-19 ini".(*)

Editor: Emil Mahmud
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved