Kisah Kuncoro, Pemulung Asal Yogyakarta yang Merantau ke Padang untuk Mencari Nafkah
Dua tahun sudah Kuncoro (54) hidup dan tinggal sebatang kara di Kota Padang, Sumatera Barat. Kuncoro, perantau dari Yogjakarta ini juga tidak memilik
Penulis: Rima Kurniati | Editor: Mona Triana
Laporan Wartawan TribunPadang.com, Rima Kurniati
TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kuncoro (54) seorang pemulung asal Yogyakarta merantau ke Padang untuk mencari nafkah buat keluarganya.
Sudah dua tahun Kuncoro hidup dan tinggal sebatang kara di Kota Padang, Sumatera Barat.
Kuncoro tidak memiliki tempat tinggal untuk istirahat pada malam hari.
• KISAH Kakek Asril Acik Selama 49 Tahun Jadi Juru Parkir, Tidak Masalah Jika Ada yang tak Mau Bayar
• POPULER PADANG - Masker Langka, Dewan Minta Stok Dicek| Kisah Pilu Emi, Si Pengemis
Kuncoro mengatakan dirinya tidur dimana saja, pada tempat yang memungkin, seperti di bawah pohon dan emperan toko.
"Di jalanan, ya dimana saja. Dimana saya capek disitu saya tidur. Terkadang di bawah pohon, terkadang di emperan toko, kadang di tepi pantai, tidak dingin karena sudah biasa," ungkapnya.
• Kisah Pilu Emi Si Pengemis di Padang: Ditinggal Suami hingga Kena PHK karena Katarak
• POPULER SUMBAR - BMKG Minangkabau Ungkap Penyebab Cuaca Panas| Kisah Nenek Fatmawati
Setiap hari Kuncoro juga berjalan kaki menelusuri jalanan di Kota Padang.
Mengais rezeki dengan mencari botol plastik, kardus, paku bekas serta apa saja barang terbuang yang bisa diuangkan.
"Tadi dari Air Tawar lalu kesini, nanti mau ke Pasar Raya dengan jalan kaki," ungkapnya.
• Kisah Nenek Fatmawati Menyusuri Jalanan Sambil Pikul Karung yang Berisi Barang Bekas
• KISAH Kakek Zulmanis, Pemulung di Padang Pernah Diusir Istri karena Hanya Serahkan Rp 50 Ribu
Ketika ditemui TribunPadang.com, Selasa (3/3/2020), Kuncoro memakai topi petani, tengah berjalan kaki di Jalan Dobi, Kecamatan Padang Barat serta memangkul karung di bahu bagian kirinya.
Karung-karung tersebut berisi botol plastik, kardus, hasil pulungannya sejak pagi.
Pada tangan kanannya, Kuncoro membawa sebuah besi tua yang bagian ujungnya terdapat magnet.
Dengan magnet tersebut, paku-paku yang berserakan di jalan bisa menempel pada besi tua milik Kuncoro.
• Ibu dan 3 Anak Gadisnya Gelar Resepsi Pernikahan Bersamaan di Lapangan, Ada Kisah Jelang Akad Nikah
• Kisah Uthi Gadis Padang Lahir di Tahun Kabisat, Usia 20 Tahun tapi Baru 5 Kali Bersua Tanggal Lahir
"Paku-paku ini biasa dijual seharga Rp 1.500 per kilogramnya," ungkapnya.
Kuncoro mengatakan dalam sehari rata-rata dirinya dapat 6 sampai 7 kilogram paku.
"Kalau botol dalam sehari paling tiga kilogram. Satu kilogram dijual Rp 2 Ribu. Kalau kardus satu kilogram Rp1,500," kata Kuncoro.
• Kisah Kakek Ramli Penjual Rokok di Pasar Raya Padang, Semangat Kerja Meski Kaki Tidak Sempurna
• KISAH Viral Kasat Lantas Polres Padang Pariaman Jadi Imam Salat di Sel Tahanan Tanpa Pembatas
Dalam sehari Kuncoro bisa mendapatkan uang Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu.
Uang tersebut digunakan untuk biaya makan sehari-harinya dan sebagian lagi disimpan untuk keluarganya di Yogyakarta.
"Untuk makan sehari itu habis, makan sekali sehari, kadang cuma sate atau lontong," tambahnya.
Kuncoro memiliki dua anak yang masih sekolah dan istrinya tinggal di Yogyakarta.
• Kisah Pilu 6 Bocah Mendadak jadi Yatim Piatu di Balikpapan, Ayah Ibu Meninggal di Waktu Bersamaan
• Chord Kunci Gitar & Lirik Lagu Kisah Ku Inginkan - Siti Nurhaliza ft Judika: Telahku Tentukan Arah
"Dulu di Yogyakarta, saya juga pemulung dan disana banyak Satpol PP yang nangkap, makanya saya merantu ke Padang," katanya.
Kuncoro berharap bisa mengumpulkan uang untuk dikirimkan kepada keluarganya ataupun biaya untuk bertemu keluarga.
• Kisah Reni Yanti, Ketua Penerima Program Budila Dompet Dhuafa Singgalang, Ada 10.000 Benih Ikan Nila
• Ramalan Zodiak Cinta Sabtu 1 Februari 2020: Gemini Dikekang Pasangan, Kisah Asmara Pisces Memudar
"Istri saya kerja sebagai buruh tani di Yogyakarta, tinggal di rumah ibunya," ungkapnya.
Kuncoro mengungkapkan selagi masih kuat dan bisa bekerja dirinya tetap akan bekerja.
"Dapat berapapun bersyukur, selagi masih bisa dan kuat saya akan terus bekerja. Jadi pengemis saya malu," ungkapnya. (*)