Breaking News:

Berita Padang Hari Ini

KISAH Pendiri Bank Sampah Hidayah Ungkapkan Modal Awal Sejuta Rupiah

Defri Yeni Dahar membeberkan untuk mendirikan Bank Sampah Hidayah awalnya bermodal sejuta rupiah, termasuk hasil negosiasi serta ber

Penulis: Rima Kurniati | Editor: Emil Mahmud
TRIBUNPADANG.COM/RIMA KURNIATI
Direktur Bank Sampah Hidayah, Defri Yeni Dahar 

"Dari situlah belajar administrasi, caranya dan banyak hallainnya. Untuk mendirikan itu modal awalnya harus Rp 2 juta, namun adanya Rp 1 Juta," tambah Defri Yeni Dahar.

Sejauh ini lanjut Defri Yeni Dahar menggunakan sebagai warungnya untuk kantor Bank Sampah Hidayah.

"Kata Hidayah itu spontan, ada nama Masjid Hidayah di sebalah, karena bersebelahan diberi nama hidayah," tambah Defri Yeni Dahar.

Hingga kini, warungnya tidak lagi untuk lagi berjualan barang harian, melainkan sebagai kantor bank sampah.

"Dulu jualan barang harian, sejak empat tahun belakang tidak jualan lagi. Biar fokus untuk kantor Bank Sampah agar lebih rapi juga," jelas Defri Yeni Dahar.

Defri mengatakan setahun kemudain diusulkan Dinas Lingkungam Hidup Kota Padang untuk menerima dana corporate social responsibility/CSR dari PT Pelindo Teluk Bayur.

"Lalu dapatlah Rp 72 juta, untuk membeli alat, memperbesar ruangan dan lainnya," tambah Defri Yeni Dahar.

Defri Yeni Dahar mengatakan selama mendirikan bank Sampah Hidayah itu, dirinya sering menerima penolakan masyarakat.

"Susah ngajak masyarakat untuk menyisihkan sampah lalu dibawa kesini, bisa dapat uang juga mereka. Kadang kalau dapat bantuan, banyak ngomong dibelakang, untuk apa uangnya tuh? Namanya di kampungkan," ungkap Defri Yeni Dahar.

Kedepan, pihaknya berencana untuk mengembangkan pengelolan sampah organik menjadi pupuk.

"Alatnya sudah dibeli tapi belum sampai, nanti tidak hanya sampah anorganik tapi juga sampah organik," ungkap Defri Yeni Dahar.(*)

Sumber: Tribun Padang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved