Opini
Menakar Peluang Orang Minang Bisa Jadi Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Ke-33
KABAR pergantin Panglima TNI akhir-akhir ini kian santer di berbagai media. Pergantian itu menurut berbagai sumber akan dilakukan awal Tahun 2020.
Penulis: Emil Mahmud | Editor: afrizal
Namun, secara sosio kultural pada hakekatnya merupakan filsafat kepemimpinan Jawa. Walau merupakan
kepemimpinan Jawa, namun secara psikologis yang mampu melaksanakannya secara utuh adalah
masyarakat Jawa (Jawa Timur dan Jawa Tengah) ketimbang masyarakat daerah lainnya.
Kedua, secara politik yang menggunakan Kepala Staf Angkatan Darat tersebut adalah presiden. Karena Presiden
pertama sampai terakhir itu umumnya adalah berasal dari tanah Jawa, wajar kiranya manakala Presiden
memilih Kasad-nya satu etnis dengannya.
Putera Minangkabau
Sejarah mencatat bahwa etnis yang termasuk banyak melahirkan para pejuang dan tokoh politik
nasional adalah Minangkabau. Tentu tidak asing lagi kita mendengar adanya sosok seperti M Hatta, M
Yamin, Sjahrir, M Natsir, Agussalim, dan lainnya, yang berjuang sejak awal kemerdekaan sampai perang
kemerdekaan.
Belum lagi beberapa sastrawan dan jurnalis yang senantiasa berkiprah untuk membangun
rasa nasionalisme bangsa. Tidak hanya selama kepemimpinan Presiden Soekarno, pada kepemimpinan
Presiden Suharto, BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan Megawati yang relatif
diramaikan dengan hadirnya beberapa menteri dari ranah Minang.
Berbeda dengan tokoh sipil/politik, tokoh militer dari ranah Minang selama ini ternyata hanya
mampu berkiprah sampai jenjang kepangkatan Letnan Jenderal. Pada saat mereka bersaing menuju
jabatan Kasad, beberapa tokoh militer dari ranah Minang ternyata kalah bersaing.
Ketika Tahun 2002, Letjen Djamari Chaniago yang saat itu diunggulkan untuk menjadi calon Kasad ternyata kalah bersaing dengan Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.
Demikian juga berikutnya pada Tahun 2018, tatkala Letnan Jenderal TNI. Doni Monardo yang memiliki peluang jadi Kasad. Namun lagi-lagi tidak diusulnya oleh Presiden Joko Widodo sebagai calon Kasad kepada DPR RI. Padahal Letnan Jenderal TNI Doni Monardo lebih senior (AKABRI angkatan Tahun 1985), ketimbang Jenderal TNI Andika Perkasa (angkatan 1987).
Jika melihat jabatan sebelumnya, maka jenderal bintang tiga yang saat sekarang menjabat kepala BNPB
ini sudah empat kali menjabat jabatan bintang dua (Mayor Jenderal), yaitu: Komandan Pasukan
Pengamanan Presiden (Dan Paspampres), Komandan Jenderal Kopassus (Danjen Kopassus), Pangdam
XIV/PTM di Ambon, dan Pangdam III/SLW di Jawa Barat (https//id.wikipedia.org.donimonardo, diunduh
tanggal. 3 Desember 2019, pukul. 15.02. WIB).
Berbeda dengan etnis lainnya, maka typology masyarakat Minang tidak pernah bergantung pada
orang lain dalam meniti karirnya.
Jika ada orang Minang yang sukses dalam jabatan sipil maupun militer, kesuksesan mereka dipastikan bukan karena “bantuan” saudara, teman dan karib kerabatnya yang berasal dari ranah Minang.
Sebaliknya, mereka yang sukses dalam karir sipil maupun militer tidak akan pernah “membantu” sanak
saudara, karib kerabat dan teman-temannya dari ranah Minang.
Karena memang pembentukan karakter orang Minang melalui 4 media “AU” (dangau, surau, lapau dan rantau) tidak pernah mengandalkan pendekatan primordialisme dan nepotisme untuk meniti karir. Walau sesama dari ranah Minang, namun antara “M. Yamin” yang politikus dan “Hamka” yang budayawan dan agamawan tetap saja bagai “kucing dengan anjing”.
Kalaupun ada orang Minang yang “bone” (sebutan bagi masyarakat untuk mereka yang memiliki keunggulan) di rantau, dipastikan bahwa prestasi tersebut mereka raih bukan karena memiliki ikatan primordialisme dengan orang-orang Minang lainnya yang terlebih dahulu sudah sukses.
Kepribadian/karakter orang Minang bahkan merasa tidak nyaman jika keberhasilan yang diraihnya
berkat ikut campur orang-orang yang berasal dari ranah Minang. Dalam meniti karirnya, baik politik
maupun ekonomi – orang Minang sudah terbiasa “single fighter”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/kepala-bnpb-doni-monardo-saat-berada-di-padang-senin-23122019.jpg)