Relair Films
Ada Workshop Warisan dan Diplomasi Budaya di UPTD Museum Adityawarman Padang
Relair Films melaksanakan workshop warisan dan diplomasi budaya di UPTD Museum Adityawarman, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pa
Penulis: Emil Mahmud | Editor: Emil Mahmud
Relair Films Selenggarakan Workshop Warisan dan Diplomasi Budaya
TRIBUNPADANG.COM - Relair Films melaksanakan workshop warisan dan diplomasi budaya di UPTD Museum Adityawarman, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada Kamis (12/9/2019).
Rilis yang diterima TribunPadang.com, Jumat (13/3/2019) menyebutkan Relair Films merupakan sebuah komunitas yang bergerak dan memiliki perhatian kepada sejarah, budaya dan tradisi.
Selanjutnya, segenap karya tersebut bakal diarsipkan ke dalam bentuk film dokumenter.
• Film Mandeh dan Bungo Lado Raih Penghargaan yang Berbeda di Sumbar Film Festival 2019
• Film “Mandeh” Borong Penghargaan, Film “Bungo Lado Sabet Ide Terbaik Hasil Surfival 2019
• Sumbar Film Festival (Surfival) 2019 Kembali Digelar, Taglinenya Meminang Nusantara
Ketua Relair Films, Findo mengemukakan bahwa workshop ini membicarakan film sebagai katalisator warisan budaya.
“Agenda ini didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Awalnya rancangan kita ingin sampai kepada tahap produksi film. Tetapi, ya, tentu tidak semua harapan dapat terkabul,” jelas Findo melalui rilis, Jumat.
Warisan Budaya
Sebelumnya, acara workshop dibuka oleh Aprimas Kepala Bidang Warisan Budaya dan Bahasa Minangkabau Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar).
Peserta worskshop terdiri dari komunitas-komunitas film, pegiat film, dan juga diikuti oleh mahasiswa asing dari Korea dan Jerman.
• POPULER SUMBAR - Bungo Lado Dinominasikan di Surfival 2019| Hanifah Pembawa Baki Upacara Bendera
• Melalui Akun Instagram Presiden RI Joko Widodo Promosikan Wisata Kawasan Mandeh, Sumatera Barat
Adapun nara sumber dalam kegiatan ini masing-masing; S Metron Masdison, seorang penulis skenario; Donny Eros, akademisi dan produser film; Muhaimin Nurrizqy, pegiat, kurator dan kritikus film; Elsa Ramadhani, manager festival dan produser.
Pada workshop itu, Elsa Ramadhani memaparkan Sineas di Sumbar sebenarnya memiliki peluang yang besar untuk memproduksi sebuah film warisan budaya.
"Karena saya menjumpai, adanya permintaan dari instansi ataupun pihak terkait yang melestarikan warisan budaya. Tentu, karena Sumbar memiliki warisan budaya yang banyak.” ungkap Elsa.
Sementara Metron, menjelaskan tentang pemilihan warisan budaya sebagai ide, karena warisan budaya belum cukup tersentuh dibidang perfilman.
“Kenapa harus film warisan budaya? Karena justru yang banyak itu alam, nilai yang dihadirkan alam hanya satu, keindahan. Sedangkan, warisan budaya justru membawa narasi-narasi yang lebih banyak dan menarik dibandingkan alam. Saya kira, inilah peluang kita,” ulas S Metron.
Sedangkan Donny Eros mengungkapkan distribusi film warisan budaya. Di samping itu, di luar negeri, ada festival yang menerima film warisan budaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/padang/foto/bank/originals/fotobareng-workshop.jpg)